Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam

5
1114

BincangSyariah.Com – Penyaluran Kredit Tanpa Agunan dalam lingkup hukum Islam, bisa juga disalurkan lewat satu peran akad yang disebut dengan akad syirkah. Istilah populer dari akad ini adalah akad kemitraan atau kerjasama. Jadi, relasi antara pemodal dengan yang dimodali, sama-sama berdiskusi dan menjalin sebuah kerjasama untuk mendirikan sebuah usaha.

Bedanya dengan akad qiradl, terletak pada asal-usul modal usaha. Akad qiradl mensyaratkan bahwa modalnya harus 100% berasal dari pemodal. Sementara dalam akad syirkah (patungan usaha), modal itu dilakukan bersama-sama antara pihak yang terlibat dalam syirkah. Inipun kelak masih dibedakan menurut jenis KTA syirkah yang diikuti. (Baca: Mengenal Produk Kredit Tanpa Agunan dengan Basis Akad Qiradl dalam Fikih)

Mengapa syirkah ini masuk kelompok Kredit tanpa Agunan? Jawabnya adalah sederhana, karena peserta yang terlibat tidak dimintai sebuah peran jaminan atau penjamin. Lebih jelasnya, akad patungan usaha atau syirkah ini dalam syariat didefinisikan sebagai:

عبارَة عَن ثُبُوت الْحق فِي الشَّيْء الْوَاحِد لشخصين فَصَاعِدا على جِهَة الشُّيُوع

Artinya: “Suatu istilah yang menggambarkan tetapnya suatu hak yang berlaku atas satu aktifitas tertentu yang dibangun oleh dua orang atau lebih dan dibagi menurut sistem andil kebersamaan (syuyu’).” (Taqiyuddin al-Hushny, Kifayatu al-Akhyar fi Hilli Ghayati al-Ikhtishar, Damaskus: Dar al-Minhaj: 269).

Syarat yang berlaku bagi suatu usaha disebut sebagai syirkah manakala memenuhi 5 unsur, antara lain:

Pertama, modal yang dikumpulkan harus terdiri dari uang dalam bentuk nilai kes. Kedua, semua modal yang harus sejenis dan semacam. Ketiga, semua modal harus dicampur menjadi satu. Keempat, setiap peserta yang terlibat dalam mitra boleh menyalurkan modal tersebut sesuai dengan yang disepakati dan untuk tujuan bersama. Kelima, setiap untung dan rugi ditanggung mengikut nisbah modal yang dimiliki.

Ada sebuah catatan, bahwa batas (dlabith) percampuran modal sehingga bisa disebut sebagai modal bersama dan memenuhi konsep akad syirkah, adalah bilamana dalam percampuran itu tidak lagi diketahui mana harta milik satu pihak, dan mana milik pihak lainnya.

اعْلَم أَن الْخلطَة على نَوْعَيْنِ أَحدهمَا خلْطَة اشْتِرَاك وَتسَمى خلْطَة الشُّيُوع وَالْمرَاد بهَا أَنَّهَا لَا يتَمَيَّز نصيب أحد الرجلَيْن أَو الرِّجَال عَن نصيب غَيره  وَالثَّانِي خلْطَة الْجوَار بِأَن يكون مَال كل وَاحِد معينا مُمَيّزا عَن مَال غَيره وَلَكِن يجاوره بمجاورة المَال الْوَاحِد على مَا ذكره الشَّيْخ

Artinya: “Ketahuilah bahwa percampuran itu ada dua macam jenisnya, yaitu pertama, percampuran kemitraan (khalathah isytirak), yang dikenal juga sebagai percampuran kebersamaan (khalathah syuyu’). Yang dikehendaki dari pencampuran modal ini adalah bagian dari masing-masing peserta kemitraan dari bagian mitra lainnya tidak bisa dibedakan lagi. Kedua, adalah percampuran dempetan (khalathah jiwar), yaitu bila harta masing-masing pihak yang terlibat dalam kemitraan bisa dibedakan oleh masing-masing sehingga penyampuran kedua harta seolah sekedar menyandingkan harta milik seseorang dengan milik lainnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abi Syuja’. (Taqiyuddin al-Hushny, Kifayatu al-Akhyar fi Hilli Ghayati al-Ikhtishar, Damaskus: Dar al-Minhaj: 177).

Nah, yang dimaksud dengan kemitraan sebagaimana disampaikan dalam syarat di atas adalah masuk kategori kemitraan syuyu’ atau kemitraan isytirak ini, yaitu penyampuran dua modal atau lebih peserta mitra, sehingga harta masing-masing tidak lagi bisa dibedakan antara milik satu dengan milik pihak lainnya. Kemitraan semacam, lebih dikenal sebagai kemitraan ‘inan, atau biasa dikenal sebagai syirkah ‘inan. Ini adalah bagian dari kemitraan pertama.

Adapun kemitraan kedua, adalah kemitraan jiwar, harta itu masih bisa dibedakan, akan tetapi masing-masing pihak diperkenankan untuk mengalokasikan harta milik syirkah, dengan pihak lainnya berperan selaku kafil (penjamin) aktifitasnya. Umumnya pola kemitraan jiwar ini, adalah masuk kelompok akad syirkah mufawadlah.

Kemitraan ketiga, disebut juga dengan istilah syirkah abdan. Dalam teks fikih klasik, syirkah model ini didefinisikan sebagai berikut:

شركَة الابدان وَهِي بَاطِلَة كشركة الحمالين وَسَائِر المحترفين ليَكُون كسبهما بَينهمَا سَوَاء كَانَ مُتَسَاوِيا أَو متفاوتاً وَسَوَاء اتّفق السَّبَب كالدلالين والحطابين أَو اخْتلفَا كالخياط

Artinya: “Syirkatu al-Abdan, merupakan akad kemitraan yang bathil (dalam madzhab Syafii). Polanya, seperti akad kemitraannya dua orang yang bekerjasama dalam menggotong beban, atau kerjasama mencakup semua model ladang profesi, dengan pembagian kerja yang sama di antara masing-masing anggota mitra atau bahkan berbeda, baik motif awal kemitraannya sama, seperti tugas pokok dan fungsinya sama, atau bahkan berbeda, semacam usaha pendirian konveksi.” (Taqiyuddin al-Hushny, Kifayatu al-Akhyar fi Hilli Ghayati al-Ikhtishar, Damaskus: Dar al-Minhaj: 177)

Jadi, syirkah abdan itu adalah nama lain dari syirkah profesi, baik anggota yang menyusun syirkah itu punya profesi yang sama, atau bahkan berbeda. Akad ini, menurut Madzhab Syafii, hukumnya adalah bathil. Agar sahih, maka diperlukan adanya satu pemodal, dan nilai ujrah profesi dihitung berdasarkan profesionalitas dan kerja masing-masing.

Kemitraan keempat, adalah syirkah wujuh. Pola kemitraan ini, digambarkan sebagaimana istilah berikut:

هي أن يشتري اثنان فاكثر من الناس دون أن يكون لهم رأس مال اعتمادا على جاههم وثقة التجار بهم، على أن تكون الشركة بينهما في الربح، فهي شركة على الذمم من غير صنعة ولا مال

Artinya: “Gambaran dari syirkah wujuh, adalah adanya dua orang atau lebih membeli hartanya masyarakat tanpa disertai adanya pokok harta yang diserahkan, berbekal daya potensi yang dimiliki mereka atau kepercayaan pedagang terhadap masyarakat yang punya harta, dan mereka sepakat mengadakan akad kerjasama dengan keuntungan dibagi berdua. Jadi akad kerjasama ini dibangun atas dasar kesanggupan menanggung dari pihak yang menjalankan, tanpa perlu adanya badan / lembaga, dan juga tanpa modal.” (Abu al-Hasan Ahmad al-Qudury (w. 428 H), Mukhtashar al-Qurdury fi al-Fiqh al-Hanafy, Beirut: Dar al-Kutub Al-Ilmiyah, tt., 111)

Contoh dari penerapan akad syirkah ini adalah kemitraan antara pabrik dengan pihak pedagang reseller atau grosir. Umumnya para pedagang ini mengambil dulu harta, tanpa modal, bayar belakangan.

100%

5 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Persekutuan dalam kepemilikan (syirkatu al-amlak) ini pada dasarnya juga merupakan bagian dari akad syirkah. Namun, syirkah yang terbentuk ini tidak didahului oleh proses merumuskan dan menyepakati secara bersama-sama atau sepakat untuk melakukan usaha bersama. Umumnya, ia terbentuk karena faktor ketidaksengajaan, meskipun juga bisa dikembangkan ke arah yang menyengaja untuk berserikat atau bermitra. (Baca: Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam) […]

  2. […] Kumpulan dari orang-orang yang memiliki profesi sama atau bahkan mungkin berbeda, untuk membentuk serikat atau kemitraan dalam rangka mencapai tujuan yang sama, adalah termasuk kategori dari serikat usaha. Jika hal itu diwujudkan dalam bentuk instansi, maka instansi itu adalah nama lain dari Koperasi Mitra Usaha. Yang dibutuhkan adalah kerjasamanya. Kerjasama ini nama lainnya adalah kemitraan. Fikih membahasakannya sebagai syirkah. Kemitraan berbasis profesionalitas ini adalah konsepsi modern dari syirkah abdan. (Baca: Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam) […]

  3. […] BincangSyariah.Com – Serikat permodalan, merupakan pola kemitraan antara dua atau lebih pemilik modal untuk mendirikan sebuah usaha guna mendapatkan keuntungan yang dibagi secara bersama-sama menurut nisbah modal yang dimilikinya. Kemitraan semacam ini, dalam hukum Islam, dikenal sebagai syirkah ‘inan. Para ulama secara ijmak menghukuminya boleh disebabkan inti kemitraan adalah penyampuran modal usaha, sehingga tidak bisa dibedakan lagi mana modal milik Si A, atau Si B. Modal keduanya dikumpulkan dengan atas nama modal serikat. (Baca: Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam) […]

  4. […] “Syirkatu al-Abdan, merupakan akad kemitraan yang bathil (dalam madzhab Syafii). Polanya, seperti akad kemitraannya dua orang yang bekerjasama dalam menggotong beban, atau kerjasama mencakup semua model ladang profesi, dengan pembagian kerja yang sama di antara masing-masing anggota mitra atau bahkan berbeda, baik motif awal kemitraannya sama atau tidak, seperti dua orang yang berprofesi sebaga dilal, atau sama-sama berprofesi sebagai tukang kayu, atau berbeda seperti yang terjadi pada usaha konveksi.” (Taqiyuddin al-Hushny, Kifayatu al-Akhyar fi Hilli Ghayati al-Ikhtishar, Damaskus: Dar al-Minhaj: 177) (Baca: Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here