BincangSyariah.Com – Kajian saudara Hanafi tentang Jaringan Ulama Hadis di Banjar sangat berpeluang melengkapi puzzle kajian tentang bagaimana sesungguhnya corak ajaran keislaman yang genuine Indonesia, sebagaimana usaha yang mulai sering didengungkan di negeri ini paling tidak secara resmi oleh Nahdatul Ulama (NU).

Dimulai dari keluhan sederhana putra asli Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini tentang sepinya kajian ulama Nusantara yang berasal dari tanah Banjar, apalagi yang bertemakan tentang hadis, mau tidak mau membuat ia merasa terdorong untuk mengangkatnya dalam tesis yang berhasil dipertahankannya beberapa hari yang lalu di Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta.

Pada Rabu (18/1) lalu, el-Bukhari Institute kembali melaksanakan diskusi bulanan berhasil mengundangnya. Hanafi mengangkat tujuh ulama Banjar yang dia nilai pantas disebut sebagai Muhaddis (Ahli Hadis). Mereka adalah Syaikh Arsyad al-Banjari,Syaikh Kasyful Anwar al-Banjari, Syaikh Ahmad Fahmi Zamzami, Syaikh Syukri Unus al-Banjari, Syaikh Abdul Wahid al-Banjari, Syaikh Nurdin Marbu, dan Syaikh Anang Sya’rani Hanif. Yang jelas, pada abad ke-18, Syaikh Arsyad al-Banjari adalah alumni Mekkah pertama yang menjadi ulama besar di Kalimantan Selatan, dan setelah kepulangannya beliau diangkat menjadi mufti kerajaan.

Pemilihan ketujuh tokoh ini diputuskan berdasarkan beberapa indikator. seperti mereka adalah generasi muhaddis pertama yang ada di Kalimantan Selatan. indikasi itu bisa dilihat dari bentuk karya mereka. Karya di bidang hadis itu ditulis dalam bahasa Melayu maupun ditulis dalam bahasa Arab. Dan karya tulis di bidang hadis yang khas dari ulama Banjar, adalah kitab-kitab arba’in (40 hadis) yang mereka kumpulkan masing-masing.

Di sisi lain, ada tipologi lain dalam penulisan kitab hadis. Sebagai contoh, ada karya berjudul Tazkiratu al-Lisan yang ditulis oleh Syaikh Nuruddin Marbu. Karya ini membahas hadis-hadis dha’if (lemah) yang populer di Tanah Banjar yang digunakan dalam praktek ibadah sehari-hari dan menjadi dalil amaliah keagamaan mereka. Ciiri kedua, adanya perhatian mereka terhadap sanad (tranmisi) hadis.

Baca Juga :  Kisah Imam Syafii Dituduh Tidak Saleh

Para ulama di atas biasa mengaji di Mekah dengan model sanad dari gurunya. Demikianlah modelnya sehingga para ulama tersebut menjadi “alumnus” kota suci Mekkah. Bahkan Syaikh Nurudddin Marbu, sempat mengajar di Masjidil Haram di tahun 80-an sebelum pada akhirnya ada pembersihan sistemik dari Pemerintah Saudi Arabia atas ulama-ulama yang tidak sealiran pemahaman keagamaannya dengan pemerintah. “Di tahun 80-an, ada intervensi langsung dari polisi Saudi untuk melakukan pembersihan itu”, terang Hanafi.

“Kritikan yang saya terima dari penguji adalah kembali kepada pertanyaan teknis, apa sebenarnya kriteria dari seorang muhadis?” demikian pungkas Hanafi pada malam diskusi kemarin.  perlu ditekankan di sini, kita tidak berangkat dari defenisi muhaddis yang rigid (ia harus menghafal puluhan ribu hadis, dan seterusnya).

Mereka yang memiliki perhatian terhadap sanad sering mengadakan pemberian ijazah sanad kepada kelompok jamaah tertentu, atau yang dikenal sebagai ijazah hadis musalsal.  Model ijazah ini digambarkan dimana hadis-hadis tertentu yang mereka miliki sanadnya bersambung hingga kepada Rasulullah Saw. didemonstrasikan. Pemberian ijazah ini menjadi kebiasaan, bahkan masih berlangsung sampai sekarang, termasuk di Banjar.

Ciri ketiga adalah mendirikan pengajian atau lembaga pendidikan yang mengajarkan hadis. Syaikh Ahmad Fahmi Zamzami misalnya, sampai saat ini masih menyelenggarkan pengajian kitab Anwar al-Bahiyyah karya gurunya di Mekkah, Prof. Doktor Sayyid Muhammad Bin Alawi al-Maliki di Islamic Center Banjarmasin. Pengajian itu dihadiri banyak masyarakat Banjarmasin dengan uraiannya yang khas dengan nilai-nilai sufistik ketika menjelaskan hadis-hadis Rasulullah Saw.

Selain itu, mereka yang memiliki perhatian mendalam terhadap hadis akan banyak menyertakan hadis-hadis dalam penjelasannya tentang amaliah keagamaan tertentu. Hal ini menurut Hanafi, menimbulkan dua kecenderungan. Contohnya dalam menilai amaliah nisfu Sya’ban. Ada yang bersikap ketat dalam memahami hadis, sehingga “mengkritik” praktik ajaran keislaman yang sudah membudaya di masyarakat Banjar. Ada yang bersikap longgar.

Baca Juga :  Sejarah Akikah dalam Islam

“Syekh Arsyad al-Banjari misalnya, saya putuskan untuk dimasukkan kedalam kategori ulama hadis juga, meski ia tidak memiliki karya khusus dibidang hadis seperti arba’in,namun penyertaan Quran dan Hadis yang simultan dalam karya-karyanya menyebabkan beliau pantas dikategorikan sebagai ahli hadis juga. Selain itu, Syaikh Arsyad sangat kental berpegang kepada hadis secara literal, terbukti dengan fatwanya yang “mengkafirkan”Syaikh Abdul Hamid Abulung, yang membawa tren tasawuf falsafi ke Banjarmasin. Fatwa ini berujung kepada pembunuhan tokoh yang disebut “al-Hallaj dari Banjar” ini.

Lewat tesisnya ini, Hanafi telah membuktikan bahwa jejering keilmuan Indonesia, sesungguhnya tidak bisa mengesampingkan beberapa nama ulama banjar yang memberikan corak khusus dalam karya mereka di bidang hadis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here