Dzul Khalasah, Kabah Tandingan di Yaman

0
514

BincangSyariah.Com – Al-Bukhari dalam al-Jami as-Sahih atau yang sering dikenal dengan Sahih al-Bukhari menyitir satu riwayat dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, sahabat terkenal, yang mengatakan: Rasul SAW berkata kepadaku: “Wahai Jarir, bisakah kamu membuatku senang dengan menyerang Dzul Khalasah?” Lalu aku jawab: “Tentu ya Rasulallah.” Lalu akupun berangkat dengan pasukan berkuda berjumlah seratus lima puluh tentara.

Dalam kitab hadis ini juga ditambahkan keterangan mengenai identitas Dzhul Khalasah, yakni, sebuah kuil di Yaman milik kabilah Khatsam dan Bajilah yang di dalamnya terdapat berhala-berhala untuk disembah. Dzhul Khalasah ini disebut juga Kabah [dalam riwayat lain disebut juga dengan nama Kabah Yaman]. Periwayat hadis ini juga menambahkan bahwa Jarir bin Abdullahh kemudian mendatangi “Kabah” ini lalu menghancurkan dan membakarnya.

Dzul Khalasah ini seperti yang dikemukakan Ibnu Kathir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah merupakan imitasi dari Kabah yang ada di Mekkah. Orang Arab Yaman menyebut Kabah yang di Mekkah ini sebagai Kabah Syamiyyah [karena letaknya di utara ke arah Syam/Suriah] dan Dzhul Khalasah sebagai Kabah Yamaniah [karena letaknya di sekitar Yaman].

Masih berkenaan dengan Dzul Khalasah ini, dalam Sahih al-Bukhari juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Tidak akan terjadi kiamat sampai wanita-wanita Suku Daus bertawaf mengelilingi Dzhul Khalasah. Dalam beberapa literatur kesejarahan, tidak hanya bagi Bajilah dan Daus, Dzul Khalasah juga menjadi tempat pemujaan berhala bagi kabilah Khatsam.
Dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Ibnu Jarir at-Tabari meriwayatkan bahwa ketika kabilah Khatsam murtad dan kembali menyembah Dzul Khalasah, Abu Bakar mengutus Abdullah bin Jarir untuk memerangi siapa saja yang murtad dan kembali menyembah Dzul Khalasah.

Riwayat ini menunjukkan bahwa kabilah Khatsam merupakan salah satu penyembah di Kabah tandingan ini.
Beberapa riwayat hadis dan sejarah ini paling tidak menunjukkan kepada kita bahwa ada Kabah yang berusaha menandingi Kabah yang berada di Mekkah. Kabah ini diberi nama Kabah Yamaniyyah atau Dzul Khalasah. Riwayat-riwayat tersebut juga menunjukkan adanya suku-suku yang menjadikan Dzul Khalasah ini kiblat bagi penyembahan berhala. Suku-suku ini di antaranya ialah Bajilah, Daus dan Khatsam.

Untuk lebih memperjelas identitas Dzul Khalasah dan bagaimana bangunannya ini ada baiknya kita merujuk kepada penjelasan Rusydi as-Salih Mulhis, muhakkik kitab Akhbar Makkah karya al-Azraqi.

Baca Juga :  Sembilan Kaedah Cinta

Mulhis memulai pembahasannya dengan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan Dzul Khalasah menurut para ulama terdahulu. Di dalam kitab Akhbar Makkah, mengutip dari Ibnu Ishak, disebutkan bahwa Amru bin Luhayy ialah orang yang pertama kali mendatangkan berhala-berhala dari Suriah dan menyebarkannya di Jazirah Arab.

Mulhis kemudian mengutip pandangan Ibnu al-Kalbiyy bahwa Dzul Khalasah ialah “bongkahan batu besar berwarna putih yang di atasnya diukir seperti mahkota. Dzul Khalasah terletak di Tabalah, wilayah antara Mekkah dan Yaman, yang bisa ditempuh dengan tujuh hari perjalanan dari Mekkah. Layaknya Kabah di Mekkah, Dzul Khalasah juga diberi kain atau hijab oleh Bani Umamah dari Bahilah yang terbuat dari kain Ashur [semacam kain sutera]. Dzul Khalasah ini sangat diagung-agungkan oleh kabilah Khatsam, Bajilah, Azad dan beberapa kabilah Arab lainnya seperti Hawazin dan kabilah-kabilah yang tinggal dekat dengannya di Tabalah.

Dalam Mujam Yaqut, seperti yang dikutip Mulhis, disebut juga keterangan yang menambahkan penjelasan di atas, yakni ; “Disebutkan bahwa Dzul Khalasah ini merupakan berhala di wilayah Dausdinamakan juga sebagai Kabah Yamaniyyah sedangkan Kabah di Masjidil Haram dinamakan juga sebagai Kabah as-Syamiyyah”.

Keterangan lanjutan juga, seperti yang dikemukakan Mulhis, dapat kita temukan dalam Lisan al-Arab karya Ibnu al-Mandzhur: Dzul Khalasah merupakan kuil kabilah Khatsam yang dinamakan juga dengan sebutan Kabah Yamamah [bukan Yamaniyyah]. Kemudian muhakkik kitab Akhbar Makkah juga mengutip pandangan az-Zabidi dalam Taj al-Arus; Dzul Khalasah disebut juga sebagai Kabah Yamaniyyah atau Kabah Yamamah.

Setelah menjelaskan pandangan ulama terkait Dzul Khalasah ini, kemudian Mulhis, muhakkik kitab Akhbar Makkah, menyebutkan hadis wanita-wanita suku Daus yang telah disebutkan di atas dan kemudian menyimpulkan:

1) Orang-orang Arab (non-Quraisy) dulu menyembah berhala-berhala dan berhala ini ditempatkan di kuil pemujaan yang mirip Kabah karena bangunan kuil ini diperlakukan sama seperti Kabah, yakni adanya pemberian kain penutup Kabah, penyembalihan kurban dan bahkan sampai dikelilingi seperti thawaf di Kabah Masjidil Haram;

2) Dzul Khalasah merupakan kuil yang di dalamnya terdapat berhala-berhala yang disembah. Kuil ini disebut juga Kabah atau Kabah Yamaniyyah. Mulhis juga melihat adanya kesalahan tulis dalam riwayat-riwayat ulama terdahulu terkait penamaan Dzul Khalasah ini sebagai Kabah Yamamah [bukan Yamaniyyah]. Namun sebenarnya bukan kesalahan tulis tapi lebih pada adanya kemungkinan orang-orang Yamamah [tempat munculnya Musailamah al-Kadzdzab] melakukan ritual di kuil ini mengingat bahwa letak kuil ini letaknya tidak jauh dari Yamamah, yakni di sebelah selatan wilayahnya. Muhakkik kitab Akhbar Makkah kemudian menambahkan bahwa Dzul Khalasah ini juga dinamakan sebagai al-Waliyyah.

Baca Juga :  Olahraga Jalan Kaki Ala Rasulullah Saw

3) Mulhis kemudian menyebut riwayat Abdullah al-Bajali mengenai penghancuran bangunan Dzul Khalasah seperti telah disebut di atas dan menyimpulkan bahwa:

والذي يبدو لنا أن البجلي لم يقو على هدم بنيان ذي الخلصة لضخامته، أو أنه اكتفى بهدم قسم منه، أو بهدم الأوثان التي كانت فيه وبقاء جدران البنيان قائمة.

“Tampaknya Abdullah al-Bajali, sahabat Nabi, tidak mampu menghancurkan bangunan Dzhul Khalasah karena kuatnya bangunan tersebut. Atau bisa jadi al-Bajali cukup menghancurkan bagian kecilnya saja atau mungkin hanya menghancurkan berhala-berhala yang ada di dalamnya dan membiarkan dinding-dinding bangunan mirip Kabah tersebut tetap kokoh.”

Mulhis kemudian menceritakan bahwa di masa-masa akhir ini (masa awal berdirinya kerajaan Saudi), sebagian orang-orang Arab di kawasan pegunungan Daus kembali lagi ke praktik penyembahan berhala. Mulhis kemudian mengatakan:

انقلبت إلى حياتها الجاهلية الأولى بالتمسك بالبدع والخرافات وعادت إلى التمسح بالأحجار والأشجار وكانت “دوس” ومن يجاورها من القبائل في الطليعة فرجعت إلى ذي الخلصة تتمسح بها وتهدي لها وتنحر عندها…

“Orang-orang Arab kembali ke zaman Jahiliyyahnya dulu dengan melakukan bidah-bidah dan khurafat-khurafat. Mereka kembali ngalap berkah dari mencium batu-batu dan pohon-pohon. Kabilah Daus dan kabilah-kabilah sekelilingnya kembali menyembah dan mencium Dzul Khalasah dan mempersembahkan sesajen mereka kepadanya.”

Namun kemudian bangunan Dzul Khalasah ini dihancurkan oleh pasukan raja Abdul Aziz al-Faisal:

ويقول أحد الذين رافقوا الحملة إن بنيان ذي الخلصة كان ضخما بحيث لا يقوى على زحزحة الحجر الواحد منه أقل من أربعين شخصا وأن متانته تدل على مهارة وحذق في البناء.

“Salah seorang saksi mata yang mengawal pasukan Raja Abdul Aziz al-Faisal mengatakan bahwa bangunan Dzul Khalasah sangat besar. Satu bongkah batu saja tidak cukup dihancurkan oleh empat puluh orang. Kekokohan bangunan Dzul Khalasah ini menunjukkan kepiawaian dan keahlian pembuatannya.”

Baca Juga :  Tradisi Tujuh Bulanan Kehamilan Ibu dalam Islam

Jauh sebelumnya Imam Saud juga menghancurkan sebagian bangunan mirip Kabah ini dan membiarkan sisanya tetap kokoh sampai tahun 1344 H. Di tahun tersebut Raja Abdul Aziz memerintahkan untuk menghancurkannya.

Keterangan yang disampaikan oleh Rusydi as-Salih Mulhis ini cukup menarik. Namun sayangnya beliau tidak menyebutkan alasan dan motif kenapa Dzul Khalasah ini muncul di kawasan Yaman ini. Jelas Kabah tandingan ini sebenarnya muncul dari persaingan yang cukup tajam antara Arab Selatan keturunan Qahthan dan Arab Utara keturunan Adnan: suku-suku Yaman dan sekitarnya ingin melawan dan menyaingi kabilah Quraisy di Mekkah dan sekitarnya.

Persaingan ini, salah satunya, mewujud nyata dalam level keagamaan. Jika Arab Utara memiliki Kabah yang menjadi kiblat keagamaan bagi suku-suku Quraisy dan Arab lainnya di masanya, maka Arab Selatan pun menciptakan tandingannya, Dzul Khalasah yang disebut juga dengan Kabah al-yamaniyyah atau al-Yamamah.
Kelak ketika muncul Muhammad SAW sebagai Nabi di wilayah Arab Utara, muncul pula nabi-nabi palsu di wilayah Arab selatan yang meniru kenabian ala Quraisy. Sebut saja al-Aswad al-Anasi dari kabilah Anas yang merupakan keturunan kabilah Mudzhih di Yaman. Kabilah ini tinggal di wilayah tengah utara Yaman.

Hal demikian juga diikuti oleh suku-suku Arab yang anti terhadap dominasi Quraisy. Di kalangan mereka, muncul nabi-nabi palsu seperti Tulaihah al-Asadi, Sajjah at-Tamimi, Dzi at-Taj (di Oman) dan lain-lain sebagai bentuk perlawanan, bukan hanya karena ingin murtad, tapi juga sebagai penolakan atas dominasi Quraisy (minna nabiyy wa minkum nabiyy).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.