Du’tsur bin Al-Harits; Orang yang Hendak Menusuk Nabi, Tapi Malah Masuk Islam

0
487

BincangSyariah.Com – Du’tsur bin Al-Harits Al-Ghattafi adalah pimpinan perang dari Bani Tsa’labah dan para pendekar Ghattafan untuk menyerang Madinah. Rasulullah saw. pun bermaksud melumpuhkan kekuatan mereka terlebih dahulu supaya mereka tidak melaksanakan penyerangan itu.

Oleh sebab itu, Rasulullah saw. keluar dari kota Madinah bersama empat ratus lima puluh orang tentara pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Sebelum berangkat, beliau mengutus Usman bin Affan r.a. untuk menggantikannya dalam mengatur urusan Madinah. (Baca: Kisah Wanita Yahudi yang Berencana Bunuh Nabi)

Ketika mendengar Rasulullah saw. sedang dalam perjalanan, mereka melarikan diri ke puncak-puncak pegunungan. Tentara kaum Muslimin tetap meneruskan perjalanannya hingga sampai di suatu tempat yang dikenal dengan nama Dzu Amrin.

Rasulullah saw. berkemah di tempat tersebut dan melepas bajunya untuk dikeringkan karena basah oleh air hujan. Lalu, beliau beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang, sedangkan kaum Muslimin berpencar.

Ternyata, Rasulullah saw. kelihatan oleh Du’tsur bin Al-Harits yang langsung mendatanginya dengan membawa sebilah pedang. Du’tsur kini telah berdiri tepat di atas kepala Rasulullah saw. Lalu, ia berkata, “Wahai Muhammad, siapakah yang akan mencegah dirimu dari tanganku?” Rasulullah saw. menjawab dengan tenang, “Allah”.

Setelah mendengar jawaban itu, tiba-tiba Du’tsur bin Al-Harits menjadi takut dan ngeri sehingga pedangnya terjatuh dari tangannya. Di dalam kitab At-Thabaqatul Kubra karya imam Ibn Sa’ad dijelaskan bahwa Malaikat Jibril a.s. lah yang mendorong Du’tsur hingga pedangnya terjatuh. Rasulullah saw. segera memungut pedangnya dan berkata, “Sekarang siapakah yang akan mencegah dirimu dari tanganku?” Du’tsur menjawab, “Tak seorang pun.”

Namun, Rasulullah saw. memaafkannya dan akhirnya Du’tsur masuk Islam. Ia kembali ke kaumnya seraya mengajak mereka masuk Islam. Ternyata Allah swt. telah mengubah hatinya. Yang semula sangat memusuhi Rasulullah saw., bahkan mengajak orang-orang memeranginya, kini ia sangat rajin menyeru manusia untuk membantu Rasulullah saw.

Baca Juga :  Bentuk Rambut Nabi

Allah berfirman, “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Al-Maidah: 54) “Maka disebabkan oleh rahmat Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini.” (Q.S. Ali ‘Imran: 159)

Kisah tersebut menggambarkan betapa indahnya akhlak Rasulullah saw. Beliau bahkan mau memaafkan musuhnya sendiri yang hendak membunuhnya. Dan berkat karunia Allah disertai dengan kelembutan hati beliau, Du’tsur pun masuk Islam dan tidak jadi memerangi kaum Muslimin. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Sumber: Kitab Nurul Yaqin di Sirati Sayyidil Mursalin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek dan kitab At-Thabaqatul Kubra karya imam Ibn Sa’ad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here