Dua Ulama Terkemuka di Masa Dinasti al-Murabithun

0
75

BincangSyariah.Com Saat Andalusia di bawah kekuasaan Dinasti al-Murabithun, tidak banyak cendekiawan yang lahir pada masa ini. Ada beberapa faktor yang tentunya menyebabkan hal ini terjadi, salah satunya adalah aspek keilmuan pada masa tersebut tidaklah begitu diperhatikan. Berbeda halnya saat Andalusia dikuasai oleh beberapa kerajaan kecil, perkembangan ilmu begitu pesat. Tetapi, dua ulama terkemuka yang lahir di era Murabithun merupakan dua ulama produktif yang karya-karyanya dikaji hingga saat ini di lembaga pendidikan agama baik pesantren maupun perguruan tinggi. Kedua ulama tersebut adalah,

pertama, al-Qadhi bin Abu Bakar al-Arabi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibn al-Arabi. Beliau bernama lengkap Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin al-Arabi al-Mu’arrifi al-Isybili al-Andalusi al-Maliki. Lahir di Sevilla pada tahun 1076 M. Sejak kecil ia menimba ilmu di Sevilla sampai usia dewasa lalu merantau ke Baghdad bersama Ayahnya untuk belajar. Selain itu, ia juga belajar di Damaskus, Palestina, Mekkah dan terakhir di Mesir. Ayahnya pun wafat di Mesir dan dimakamkan di sana, tepatnya di kota Iskandaria. Pada tahun 1099 M setelah belajar di berbagai tempat, akhirnya ia pulang ke tanah kelahirannya.

Di Sevilla, ia mengajar ilmu hadis, tafsir, ushul fikih, dan lain-lain. Ia berhasil melahirkan beberapa murid yang kemudian menjadi ulama besar. Dua di antara ulama masyhur dan berpengaruh tersebut ialah al-Qadhi Iyadh dan Abu Ja’far bin al-Badzis. Tentunya, al-Qadhi bin Abu Bakar al-Arabi tidak hanya aktif mengajar, beliau juga aktif dalam berkarya. Beberapa karyanya juga masih dipelajari hingga kini. Karya-karya tersebut ialah:

  1. al-Awashim min al-Qawashim
  2. Ahkam al-Quran
  3. Anwar al-Fajr fi at-Tafsir
  4. Atimmat fi Tsamanin Alfi Waraqatin
  5. An-Nasikh wa al-Mansukh
  6. Al-Qabas
  7. Syarh al-Muwatha’ Malik bin Anas
  8. Aridhat al-Ahwadzi Syarh Shahih at-Tirmidzi

Ibn Basykawal menceritakan tentang al-Qadhi bin Abu Bakar al-Arabi, bahwa ia adalah sosok ulama yang alim, berakhlak mulia, suka bergaul, sabar, dan sangat disegani. Selain kepribadiannya yang luhur, kapasitas keilmuannya tidak diragukan. Ia tak hanya dikenal sebagai guru, tetapi juga sebagai pendakwah yang menyebarkan ajaran agama di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga :  Macam-macam Ijma’ dan Kekuataannya Sebagai Hukum Islam

Ibn al-Arabi wafat pada tahun 1148 di daerah Adwat dan jenazahnya dimakamkan di kota Fez, Maroko.

Kedua, Iyadh bin Musa bin Iyadh al-Qadhi atau yang dikenal dengan al-Qadhi Iyadh, murid dari Ibnu al-Arabi. Ia lahir pada tahun 1084 M  pertengahan bulan Sya’ban di kota Ceuta, Andalusia.

Putranya, al-Qadhi Abu Abdillah Muhammad menulis sebuah kitab yang menceritakan tentang kisah kehidupannya dengan judul at-Ta’rif bi al-Qadhi Iyadh (Mengenal Sang Qadhi Iyadh). Kitab tersebut menjadikan rujukan para ahli sejarah untuk menceritakan al-Qadhi Iyadh. Ia merupakan keturunan orang alim. Amrun, buyutnya adalah ahli Alquran, telah menunaikan ibadah haji sebanyak sebelas kali dan sering ikut berperang bersama al-Manshur bin Amir (salah satu penguasa Dinasti Umayyah II di Andalusia). Lalu ia pindah ke Ceuta dan dikaruniai putra bernama Iyadh. Iyadh kemudian dikaruniai putra bernama Musa. Dari Musa lah lahir seorang putra bernama Abul Fadhl Iyadh yang masyhur dengan nama al-Qadhi Iyadh.

Selain buyutnya, ayahnya juga penghapal Alquran, ahli Quran, ahli hadis, ahli fikih, ahli nahwu, ahli sastra, penyair dan juga mubaligh. Al-Qadhi Iyadh merantau ke Cordova dan belajar di sana, kemudian ke Murcia, dan beberapa kota lainnya. Pada usia 30 tahun ia telah menjadi ulama di Ceuta. Ia bahkan menjadi seorang qadhi atau hakim. Beberapa rekam jejaknya di dunia hukum, ia pindah ke Granada dan diangkat menjadi seorang qadhi. Lalu  dipindahkan ke Toledo dengn jabatan yang sama.

Ada beberapa karya tulis yang telah ciptakan pada masa hidupnya:

  1. As-Syifa’ bi Ta’rif Huquq al-Musthofa (Sirah Nabawiyah)
  2. Ikmal al-Mu’lim fi Syarhi Muslim (Syarah Hadis)
  3. Al-Mustanbathotu ala al-Kutub al-Mudawwanat Wa al-Mukhtalathotu
  4. Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik li Ma’rifat A’lam Madzhab Maliki (Sejarah Tokoh Mazhab Malik)
  5. Al-I’lam bi Hudud Qawa’id al-Islam (Fikih)
  6. Al-Ilmu fi Zhabthi ar-Riwayat wa Taqtid as-Sima’

Al-Qadhi Iyadh wafat di kota Marakish, Maroko pada malam Jumat, 1149 M.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 48-55; Gambaran Surga di Akhirat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here