Dua Ulama Salaf Mesir yang Perbolehkan Membangun Gereja

0
689

BincangSyariah.Com – Dalam fatwa nomor 4121, lembaga fatwa Mesir (Darul Ifta al-Mishriyyah) merilis sebuah fatwa mengenai toleransi para ulama Muslim yang membiarkan gereja-gereja di Mesir, dan negara mayoritas Muslim lainnya untuk tetap berdiri. Lembaga fatwa Mesir tersebut mengutip kaul ulama dan bukti sejarah mengenai hal tersebut.

فنصَّ عالِما الديار المصرية: الإمام المجتهد المحدث الفقيه أبو الحارث الليث بن سعد، والإمام المحدث قاضي مصر أبو عبد الرحمن عبد الله بن لهيعة على أن كنائس مصر لم تُبْنَ إلا في الإسلام، وأشارا على والي مصر في زمن هارون الرشيد موسى بن عيسى بإعادة بناء الكنائس التي هدمها مَن كان قبله، وجعلا ذلك مِن عمارة البلاد، وكانا أعلم أهل مصر في زمنهما بلا مدافعة.

Dua ulama Mesir, imam Abu al-Harits bin Sa‘d dan Imam Abu Abdirrahman Abdullah bin Lahi‘ah menjelaskan bahwa gereja-gereja di Mesir itu tidak dibangun kecuali pada masa Islam. Keduanya memberi isyarat pada gubernur Mesir, Musa bin Isa, di masa Harun al-Rasyid untuk membangun kembali gereja yang dihancurkan oleh orang sebelum mereka. Dua ulama Mesir itu menjadikan pembangunan gereja sebagai bentuk renovasi kota. Tidak diragukan, keduanya merupakan ulama yang paling pintar di Mesir pada masanya. (Baca: Dalil Kebolehan Menerima Proyek Pembangunan Gereja bagi Arsitektur Muslim)

فروى أبو عمر الكندي في كتاب “الولاة والقضاة” (ص: 100، ط. دار الكتب العلمية): [أن مُوسَى بْن عيسى لمّا ولِّيَ مصر من قِبَل أمير المؤمنين هارون الرشيد أَذِن للنصارى فِي بُنْيان الكنائس التي هدمها عليّ بْن سُليمان، فبُنيت كلّها بمشْوَرة الليث بْن سعد وعبد الله بْن لَهِيعة، وقالا: هُوَ من عِمارة البِلاد، واحتجَّا أن عامة الكنائس التي بِمصر لم تُبْنَ إلَّا فِي الْإِسْلَام فِي زمَن الصحابة والتابعين] اهـ.

Baca Juga :  Hukum Memasuki Tempat Ibadah Non Muslim

Abu Umar al-Kindi dalam kitab al-Wulat wal Qudhat (hal 100, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah) meriwayatkan bahwa ketika Musa bin Isa memimpin Mesir sebagai bawah amirul mu’minin Harun al-Rasyid itu mengizinkan umat Nasrani membangun gereja yang telah dihancurkan Ali bin Sulaiman. Pembangunan itu bermusyawarah dengan al-Laits bin Sa‘d dan Abdullah bin Lahi‘ah. Keduanya berpendapat bahwa pembangunan ulang gereja itu renovasi kota. Kedua ulama itu berargumen bahwa gereja-gereja yang ada di Mesir itu tidak dibangun kecuali pada masa sahabat dan tabiin.

Dari data di atas, terdapat dua ulama salaf Mesir yang mengizinkan para pemangku kebijakan untuk membangun gereja-gereja di Mesir. Keduanya adalah al-Laits bin Sa‘d dan Abdullah bin Lahi‘ah. Al-Laits bin Sa‘d merupakan ahli fikih, hadis dari kalangan tabiin yang lahir pada 94 Hijriah. Sementara itu, Abdullah bin Lahi’ah itu ulama hadis Mesir yang lahir pada tahun 76 H sebagaimana dijelaskan dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here