Dua Kisah Keajaiban Membayar Zakat

0
301

BincangSyariah.com – Zakat adalah ibadah maaliyah yaitu ibadah yang pelaksanaannya dilakukan dengan memberikan sebagian harta tertentu yang telah diatur menurut ketentuan syariat. Selain diwajibkan kepada umat nabi Muhammad Saw sejak bulan sya’ban, tahun kedua hijriah, zakat juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Dalam islam, zakat merupakan salah satu pilar dari lima pilar agama. Ia adalah indikator keimanan dan keislaman seseorang.

Orang yang enggan berzakat karena membangkang atas kewajiban mebayar zakat maka dia dihukumi murtad, keluar dari islam. Sedangkan orang yang enggan membayar zakat karena pelit maka dia dihukumi sebagai orang fasik yang berdosa dan kelak akan mendapat siksa neraka jika mati dalam keadaan tidak bertaubat.

Kisah-kisah seputar orang yang membayar zakat dan yang enggan membayarnya berserakan di kitab-kitab karangan para ulama. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kisah-kisah inspiratif orang-orang yang membayar zakat. Pada kesempatan kali ini, saya coba menceritakan dua kisah tentang orang yang membayar zakat. Kedua kisah tersebut saya baca dari sebuah kitab berjudul Qurratul ‘Uyuun wa Mufarrijul Qolbil Mahzuun, karya Imam Abil Laits As-Samarqondi, cetakan Hakikat Kitabevi.

Pada halaman 328, Imam Abil Laits As-Samarqondi mengisahkan tentang orang pelit yang pada awalnya enggan membayar zakat, lalu Allah menegur orang tersebut lewat sebuah mimipi. Beliau berkisah:

Salah seorang tokoh bercerita “Dahulu, ketika masih muda, aku adalah orang bodoh yang enggan membayar zakat. Aku memiliki kambing yang tidak pernah saya keluarkan zakatnya. Suatu hari, datang kepadaku seorang fakir.

Dia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak, maka aku memberinya satu ekor kambing kibasy. Malamnya aku tertidur. Dalam tidurku, aku bermimpi kambing-kambingku semuanya menghadap ke arahku dan bersiap menandukku.

Sementara aku hanya bisa menangis tanpa mampu berlari. Aku tidak menemukan seseorang yang bisa aku mintai tolong. Tiba-tiba kambing kibasy yang aku sedekahkan kepada orang fakir itu datang menolongku.

Ia berjibaku menghalau kambing-kambingku. Akan tetapi, karena kambing-kambingku begitu banyak, mereka mengalahkan kambing kibasy yang hanya sendirian itu. Hampir saja kambing-kambingku membunuhku kalau saja aku tidak terbangun. Sungguh jantungku seperti mau copot karena kaget dengan mimpi itu.

Aku lalu berkata ‘Demi Allah, aku akan menjadikan pengikutmu (kambing kibasy) banyak’. Maka, aku bersedekah dengan sepertiga kambing-kambingku dan aku bertaubat dari enggan membayar zakat.

Sungguh aku melihat keajaiban dari kambing-kambing yang aku sedekahkan (zakatkan) dan melihat permusuhan dari sisa kambing yang masih bersamaku (tidak aku sedekahkan)”.

Selanjutnya, pada halaman 329, Imam Abil Laits As-Samarqondi mengisahkan seseorang pada zaman Nabi Daud a.s yang dipanjangkan umurnya dengan sebab membayar zakat. Beliau bercerita:

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Khaldun tentang Peristiwa Pembantaian Imam al-Husain

Diriwayatkan bahwa ada seorang pemuda tampan bertamu kepada Nabi Daud a.s pada malam resepsi pernikahannya. Sedangkan Malaikat maut duduk di samping Sayyidina Daud a.s untuk memberi salam. Lalu Malaikat maut tadi berkata “Apakah engkau tau siapa orang ini wahai Daud?” Maka Nabi Daud a.s menjawab “Iya, dia adalah pemuda beriman yang mencintaiku. Dia tidak senang memasuki rumahnya kecuali setelah datang melihatku dan memberi salam kepadaku”.

Kemudian Malaikat maut berkata “Wahai Daud, umur pemuda ini tinggal enam hari lagi”. Maka menjadi sedihlah Nabi Daud a.s karena hal itu. Kemudian, sampai tujuh bulan pemuda itu masih hidup terhitung setelah hari itu. Maka, tatkala Malaikat maut datang, Nabi Daud a.s berkata kepadanya “Engkau bilang, tidak tersisa umur pemuda itu kecuali enam hari saja”.

Malaikat maut berkata “Betul, tetapi setelah selesai enam hari, aku membentangkan tanganku untuk mencabut ruhnya.  Tiba-tiba Allah berfirman, ‘Wahai Malaikat maut, tinggalkan hambaku, Si Fulan. Karena sesungguhnya, dia pernah keluyuran kemudian bertemu dengan seorang fakir yang sangat membutuhkan, lalu dia memberikan zakatnya kepada orang fakir tersebut.

Si Fakir sangat senang dengan zakat itu kemudian dia mendoakan hambaku itu supaya diberi umur panjang dan supaya menjadi teman Daud a.s di surga. Maka aku ridha dengan hambaku itu. Dan, sesungguhnya aku telah mencatat dari umur yang tinggal enam hari itu dengan enam puluh tahun dan aku tambahkan sepuluh tahun. Maka, jangan cabut nyawanya sampai selesai masa itu (70 tahun). Dan sungguh aku telah mencatat dia sebagai teman Daud a.s di surga’”.

Lihatlah bagaimana keajaiban zakat pada kedua kisah diatas. Pada cerita pertama, kita mengetahui bagaimana harta yang tidak dizakati sebetulnya adalah musuh bagi pemiliknya, sedangkan zakat akan menjadi penolong, baik di dunia lebih-lebih kelak di akhirat.

Baca Juga :  Kegagalan Cinta dalam Pandangan Sufi

Pada cerita yang kedua, kita dapat mengetahui bahwa salah satu manfaat zakat adalah memperpanjang usia. Sebagaimana usia pemuda yang tinggal enam hari, lalu dia berzakat sehingga Allah mengganti usianya yang tinggal enam hari tersebut menjadi enam puluh tahun, bahkan ditambahkan lagi sepuluh tahun. “Sesungguhnya, urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, ‘jadilah!’, maka jadilah sesuatu”. (Qs. 36:82)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here