Dua Corak Pemikiran Islam yang Menolak Filsafat

0
790

BincangSyariah.Com – Filsafat dalam dunia Islam selalu mendapat kritikan keras dan tajam dari para pemikir besar Islam. Para ahli fikih memusuhi filsafat karena dapat menjerumuskan seseorang kepada lembah kekafiran atau bahkan bagi mereka filsafat ialah kekafiran itu sendiri. Tak hanya itu, para ahli kalam juga turut andil dalam membasmi filsafat terlebih dalam persoalan-persoalan yang bertentangan dengan keyakinan agama.

Di kalangan ulama yang amat gigih mengkritik dan menyerang filsafat ialah Imam al-Ghazali dalam kitab polemisnya yang terkenal, Tahafut al-Falasifah. Al-Ghazali dalam kitabnya ini berambisi membuktikan bahwa pandangan-pandangan para filosof soal metafisika merupakan pandangan yang keliru. Kekeliruan ini bukan hanya dilihat dari sudut pandang agama namun juga dari sudut pandang logika.

Bagi al-Ghazali, para filosof (tentu yang dimaksud di sini ialah Ibnu Sina) secara metodologis tidak menggunakan logika sebagai kerangka pikir untuk menjelaskan metafisika sehingga gagasan-gagasan mereka sangatlah rancu dan lemah dan tidak memiliki basis argumen yang kuat. Padahal logika inilah yang menjadi pijakan pemikiran mereka. Namun sayangnya, kata al-Ghazali, justru logika dapat meruntuhkan dengan sendirinya pandangan-pandangan filosofis mereka.

Selain al-Ghazali, ulama yang mengkritik para filosof dengan menggunakan kerangka berpikir mereka (logika) ialah as-Syahrastani. Keduanya masih dikategorikan sebagai ulama Asyariyyah. As-Syahrastani mengkhususkan satu kitabnya yang berjudul Musara’ah al-Falasifah untuk menghantam basis-basis argumentasi Ibnu Sina dalam tujuh persoalan metafisika. Tujuh persoalan metafisika yang dikritik as-Syahrastani ini sebenarnya dasar metodologis bagi pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Sina. Seperti al-Ghazali, as-Syahrastani juga menggunakan logika untuk mengkritik pandangan Ibnu Sina, dan bahkan menariknya beliau terkesan menjauhkan diri dari cara kritik ahli kalam yang sangat sofistik terhadap filsafat.

Jika dilihat perangkat metode analisisnya, as-Syahrastani dan al-Ghazali memiliki titik kesamaan. Kedua ulama ini sama-sama menggunakan logika sebagai pendekatan dalam menghantam basis-basis metafisika para filosof. Perbedaan kedua tokoh ini dalam mengkritik filsafat hanya terletak pada soal objektifitas dan kesetiaan memegang logika sebagai kerangka berpikir. As-Syahrastani dalam kitab Musara’ah al-Falasifah terlihat lebih objektif dan setia dalam menggunakan logika ketimbang al-Ghazali. Tak hanya itu, as-Syahrastani juga sangat menghindari pertimbangan agama dalam menghantam basis-basis argumentasi Ibnu Sina.

Baca Juga :  Menyoal Kembali Rasionalisme Muktazilah (2-Habis)

Dari pemaparan ini paling tidak dunia Islam ada dua tipologi sikap pemikiran yang memusuhi filsafat; pertama, sikap ahli fikih yang memusuhi filsafat dari “luar” tanpa mendalami dan memahami persoalan-persoalannya. Ini dapat kita lihat pada fatwa-fatwa Ibnu as-Solah dan Imam Nawawi terkait haramnya belajar filsafat.

Kedua, sikap ahli kalam seperti al-Ghazali dan as-Syahrastani yang mengkritik filsafat, terutama dalam metafisikanya, dari “dalam”, yakni dengan menggunakan logika sebagai kerangka kerja kritiknya. Al-Ghazali dan as-Syahrastani dalam hal ini juga sebenarnya bisa disebut sebagai filosof karena keduanya berangkat dari sistem filsafat tertentu. Keduanya membentuk aliran filsafat tersendiri yang berbenturan dengan sistem filsafat lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here