Mengingat Kembali Dokumen A Common Word Between Us and You: Sebuah Upaya Mencari Titik Temu Antara Islam dan Kristen

0
576

BincangSyariah.Com –Pada tanggal 12 September 2006, Paus Benediktus XVI memberikan ceramah di University of Regensburg, Jerman, yang berjudul Faith, Reason, and the University – Memories and Reflection (Iman, Akal, dan Universitas – Kenangan dan Renungan). Pada ceramah tersebut, ada bagian yang dinilai oleh umat Muslim sebagai penghinaan terhadap ajaran Islam, yaitu kalimat berikut:

Show me just what Mohammed brought that was new, and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith he preached

(Tunjukkan kepada saya apa ajaran baru yang dibawa Muhammad, dan yang Anda akan temukan hanyalah sesuatu yang jahat dan tidak manusiawi, misalnya adalah perintah untuk menyebarkan ajaran Islam yang dibawanya dengan pedang)

Petikan kalimat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa Islam memerintahkan untuk berdakwah dengan kekerasan, dan umat Muslim di berbagai belahan dunia memprotes keras ceramah tersebut. Hubungan Kristen – Islam pun akhirnya memanas. Saat itu diberitakan bahwa seorang biarawati ditembak mati di Somalia, dan muncul aksi-aksi protes dengan membakar simbol-simbol Kristen di beberapa negara.

Singkat cerita, sebagai upaya untuk mendinginkan hubungan Islam – Kristen, serta untuk menghilangkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam, pada tanggal 13 Oktober 2007, 138 tokoh Muslim dunia dari berbagai madzab menandatangani sebuah surat terbuka yang berisi ajakan untuk mencari titik temu agar tercapai kesepahaman antara Islam dan Kristen, serta bersama-sama mengerjakan kebaikan. Surat tersebut  berjudul A Common Word Between Us and You (Sebuah Kalimat Yang Sama Antara Kami dan Kalian).

Judul surat terbuka tersebut diambil dari sebuah frasa yang ditemukan dalam Q.S Ali Imran [3]: 64:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ

Baca Juga :  Kisah Abu Hurairah yang Ditipu Setan

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.” (Q.S Ali Imran [3]: 64)

Surat terbuka tersebut menyatakan bahwa umat Muslim dan Kristen bisa bekerjasama untuk mencapai kedamaian dengan mendasarkan pada dua perintah terbesar yang sama yang ditemukan pada kedua agama, yaitu Love of God (Mencintai Tuhan) dan Love of Neighbor (Mencintai Tetangga). Untuk membuktikannya, dalam surat tersebut dikutip sumber-sumber dari Qur’an dan Hadits untuk ajaran Islam, serta Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk ajaran Kristen.

  1. Mencintai Tuhan

Surat tersebut, yang ditanda tangani oleh tokoh-tokoh Muslim yang diakui otoritasnya seperti Shaykh Abdullah bin Bayyah, Habib Umar ibn Hafidz, Prof. Nasaruddin Umar, dan lain-lain, menjelaskan bahwa perintah mencintai Tuhan merupakan perintah terbesar pada kedua agama. Dokumen A Common Word menjelaskan bahwa disebutkan dalam Q.S al-Muzzammil [73]: 8, yang merupakan salah satu ayat yang paling awal diturunkan:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ – ٨

Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati. (Q.S al-Muzzammil [73]: 8)

Selain itu, dikutip pula Hadits dalam Sunan al-Tirmidzi yang menjelaskan bahwa mengingat Allah (dzikrullah) merupakan perintah dengan pahala paling baik.

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عِدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ – ٦٤‏

Baca Juga :  Mendengarkan Pesan dalam Luka

Barang siapa yang mengatakan “Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu pada-Nya, milik-Nya lah segala kekuasaan dan milik-Nya lah segala pujian, Dia yang menghidupkan dan mematikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu” seratus kali sehari, maka setara baginya dengan membebaskan sepuluh budak, dan seratus kebaikan akan dituliskan kepadanya dan seratus keburukan akan dihapuskan darinya, dan baginya perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang tiba. Dan tidak ada satupun yang membawa keutamaan melebihi hal tersebut, kecuali dia yang melakukan lebih banyak. (HR. al-Tirmidzi)

Kemudian dijelaskan pula dalam dokumen tersebut bahwa dalam ajaran Kristen, perintah mencintai Tuhan merupakan First Commandment (Hukum Pertama). Hukum tersebut ditemukan dalam Kitab Ulangan, salah satu dari 5 kitab pada Perjanjian Lama, tepatnya pada pasal 6 ayat 4-5:

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (Ul. 6. 4-5)

  1. Mencintai Tetangga

Perintah terbesar berikutnya setelah mencintai Tuhan yang disebutkan dalam dokumen A Common Word adalah mencintai tetangga, atau dengan kata lain, mencintai sesama manusia. Dikatakan dalam sebuah Hadits pada kitab Sahih Muslim:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ – أَوْ قَالَ لِجَارِهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak seorangpun dari kalian yang beriman sampai dia mencintai untuk saudaranya – atau dia berkata “untuk tetangganya” – apa-apa yang dia cintai untuk dirinya. (HR. Muslim)

Lebih lanjut, dikutip pula ayat Qur’an yang menjelaskan bahwa tidaklah seseorang mendapatkan kebaikan sampai dia menginfaqkan apa yang dia cintai, yaitu Q.S Ali Imran [3]: 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ – ٩٢

Baca Juga :  Empat Alasan Nabi Ibrahim As. Dijuluki Sebagai "Khalilullah"

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS Ali Imran [3]: 92) 

Dalam ajaran Kristen, jika Hukum Pertama adalah mencintai Tuhan, maka Second Commandment (Hukum Kedua) adalah mencintai tetangga atau mencintai sesama. Dari kedua hukum tersebutlah, menurut ajaran Kristen, tergantung semua hukum Taurat dan Nabi. Pada Kitab Matius pasal 22 ayat 38-40, dikatakan:

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.   Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Mat. 22. 38-40)

Dalam kehidupan di Indonesia yang heterogen dimana kemungkinan gesekan antar pemeluk agama sangat mungkin muncul akhir-akhir ini, menurut saya sudah saatnya kita merenungi kembali upaya besar yang dilakukan oleh ulama-ulama kita diseluruh dunia untuk mewujudkan kehidupan beragama yang damai dan toleran dengan pemeluk agama lain dengan berusaha mencari kesepahaman.

Pencarian kesepahaman ini bukan berarti menggadaikan akidah kita sebagai Muslim atau membuat agama baru dengan mencampurkan ajaran Islam dan ajaran agama lain, namun lebih kepada mencari sebuah tujuan yang sama dimana kita bisa saling bekerjasama dalam mencapainya, dengan tetap berpegang teguh pada akidah masing-masing. Karena seperti kata orang, bagimu agamamu, bagiku kau saudaraku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here