Dokter Yahudi Merawat Raja Kristen di Istana Muslim

0
42

BincangSyariah.Com – Manusia merupakan makhluk sosial. Mereka tidak bisa hidup sendiri dan tentu membutuhkan bantuan orang lain. Oleh karena itu Islam tidak saja mengatur hubungan vertikal manusia dengan Allah (Habluminallah), namun juga mengatur hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya (Habluminannas) termasuk bagaimana hidup harmonis dan damai antara Muslim dengan non-Muslim. Kita dapat mencontoh dari kisah dokter Yahudi yang merawat Raja Kristen di Istana Muslim.

Hidup berdampingan dengan non-Muslim seharusnya tidak menjadi barang yang tabu, sebab sejak awal kemunculan Islam, Rasulullah sendiri sudah sering berbaur dengan mereka. Misalnya tatakala beliau hijrah ke Madinah, waktu itu Madinah dihuni oleh masyarakat plural yang terdiri dari kalangan Muhajirin, Nasrani dan Yahudi.

Untuk membentuk sebuah komunitas plural yang rukun, kemudian Rasulullah membuat sebuah konstitusi bernama “Piagam Madinah”.  Piagam tersebut menjujung tinggi keadilan, kebebasan, saling menghormati dan semangat gotong royong. Yang mana melalui landasan itu, umat dengan beragam budaya, ras dan agama bisa hidup dengan damai di Madinah.

Konsep Islam rahmatan lil alamin yang diajarkan Rasulullah ini terus mengalir ke generasi – generasi selanjutnya. Misalnya di abad 10 M,  saat Dinasti Umayyah Spanyol berkuasa. Kendati umat Islam tengah berada di puncak kejayaan, mereka tidak serta merta mengucilkan umat lainnya. Buktinya banyak juga dari umat Kristen dan Yahudi tetap menetap di sana dan mendapat hak dan kehidupan yang semestinya, termasuk kebebasan untuk tetap menganut agama yang diyakini mereka.

Tamim Anshari dalam bukunya Dari Puncak Baghdad, mengisahkan salah satu keharmonisan umat beragama di Andalusia. Diceritakan pada akhir abad 10 M, hiduplah seorang raja bernama Sancho. Ia merupakan raja dari kerajaan Leon, sebuah kerjaan Kristen di utara Spanyol. Si raja kerap menjadi gunjingan masyarakat sebab penyakit obesitas yang menderanya.

Perawakan raja yang sangat gemuk secara tidak langsung meruntuhkan harga diri si raja dan jajaran pemerintahan. Bahkan rakyat Leon sampai berani menjulukinya dengan sebutan “Sancho si Gemuk”. Para bangsawan menilai tubuh gemuk Sancho sebagai kelemahan internal kerajaan sehingga harus disingkirkan. Tidak lama kemudian Sancho pun dilengserkan.

Sejak saat itu, Sancho berupaya keras untuk mengobati penyakit kegemukannya itu. Sampai tersiarlah kabar tentang seorang dokter yang mampu mengobati obesitas. Namanya Hisdai Ibnu Shaprut, ia merupakan seorang Yahudi yang dipekerjakan oleh penguasa muslim di Cordoba. Kabar tersebut sampai di telinga Sancho, ia dan ibu beserta rombongannya segera bertolak ke selatan untuk berobat.

Abdurrahman III selaku penguasa muslim pada saat itu, menyambut hangat kedatangan raja Sancho. Bahkan ia meminta Sancho untuk tinggal di istana selama masa perawatannya hingga dokter Yahudi Hisdai dapat benar – benar menurunkan berat badannya. Perlahan kesehatannya mulai membaik, lemak yang menggumpal di badannya semakin berkurang.

Setalah dinyatakan sembuh, sang raja berpamitan dan pulang ke Leon. Ia pun meraih kembali jabatannya sebagai raja Leon. Sancho lalu menyepakati perjanjian persahabatan dengan Abdurrahman sebagai balas budinya atas kebaikan hati penguasa muslim dan dokter Yahudi tersebut.

Soal muamalah muslim dengan non muslim, Ade Nurdianto dalam karyanya Muamalah Muslim Dengan Non-Muslim Dalam Al Qur’an membaginya ke dalam dua bagian. Pertama di masa  harmonis. Di masa ini, umat Islam menjalani kehidupan dengan non-Muslim dalam bentuk kerukunan dan keharmonisan. Kedua, di masa konfrontasi. Di masa ini, umat Islam diperintahkan untuk mengangkat senjata untuk mempertahankan eksistensi mereka.

Adapun landasan yang digunakan adalah Surat Al Mumtahanah ayat 8 – 9, yang artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang – orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang – orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan (membantu orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here