Djamila Bouhired; Tokoh Nasionalis dan Ikon Kebebasan Rakyat Al Jazair

0
13

BincangSyariah.Com – Djamila Bouhired menjadi perempuan paling populer di Al Jazair pada abad ke-20. Pasalnya, dia secara terang – terangan mendesak koloni Prancis agar keluar dari tanah airnya. Kendati hinaan dan siksaan sering dia alami, tapi hal tersebut tidak pernah membuatnya berhenti untuk memperjuangkan kemerdekaan negerinya itu.

Latar Belakang

Djamila Bouhired lahir pada tahun 1935 M di daerah Kasbah, Aljir. Dia merupakan satu – satunya perempuan dari delapan bersaudara. Keluarganya terbilang sederhana. Ayahnya seorang pegiat olahraga sedangkan ibunya seorang petani.

Kendati hanya seorang petani, ibunya memiliki jiwa nasionalis tinggi. Dia menanamkan kepada anak – anaknya agar mencintai tanah airnya. Hal ini terpatri dalam hati Djamila kecil. Di sekolah, setiap pagi anak – anak berbaris sambil mengucapkan “Prancis ibu kita”. Semua anak melafalkan kalimat itu kecuali Djamila, dengan polos ia  mengatakan “Al Jazair ibu kita”.

Djamila sangat dekat dengan salah satu pamannya, Mustafa. Dia anggota aktif dalam Front Pembebasan Nasional. Organisasi ini mengasingkan diri ke pegunungan agar tidak terendus oleh tentara Prancis. Naas, gerakan tersebut terlacak lalu diberangus, pamannya tertembak peluru dan meninggal dunia.

Kejadian tersebut menjadi pukulan berat bagi para pejuang kemerdekaan. Tidak terkecuali Djamila. Namun, ia tidak mau sedih berlarut – larut. Ia katakan bahwa seharusnya mereka bangga sebab pamannya wafat terhormat demi kebebasan Al Jazair.

Kerja Keras dan Perjuangan Djamila

Tahun 1955, Djamila tergabung dalam Front Pembebasan Nasional di usianya yang baru menginjak 20 tahun. Walaupun masih muda, dia telah memenuhi persyaratan sebagai pejuang. Dia berakhlak mulia, berani, tenang dalam menyikapi berbagai situasi, pekerja keras, tidak takut siksaan dan intimidasi, setia terhadap tanah airnya dan disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Baca Juga :  Hamnah Binti Jahsy ; Perawat Prajurit Perang Zaman Rasulullah Saw

Dalam organisasi tersebut dia menjabat sebagai sekretaris. Diam – diam ia membangun dan mengkonsolidasi kekuatan rakyat melalui surat – surat yang rutin ia antarkan kepada para pimpinan militer.

Perjuangan Djamila tidak hanya sebatas tulis menulis saja, namun dia juga pernah melawan tentara Prancis yang membuat mereka was-was dan kocar kacir. Hal tersebut membuat Djamila menjadi buronan paling dicari. Kepalanya pun dihargai cukup mahal, seribu frank.

Suatu hari tatkala dia bersama dua temannya hendak mengantarkan surat, mereka dihadang oleh tentara Prancis. Dua orang temannya berhasil kabur, namun tidak untuk Djamila. Dia terkapar akibat deretan peluru yang menghujam ke sekujur tubuhnya.  Dia ditangkap lalu di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan sekaligus penyiksaan.

Penyiksaan dan Hukuman Mati

Di rumah sakit, Djamila dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Hal ini dilakukan agar dia tetap hidup sehingga pasukan Prancis dapat menggali informasi perihal gerakan kemerdekaan. (Baca: Patung Sukarno dan Peran Besarnya dalam Kemerdekaan Aljazair)

Setelah siuman, dia pun ditodong degan sejumlah pertanyaan. “Apakah kamu tau dimana lokasi persembunyian pemimpin kalian ?”, tanya seorang jenderal. Dengan lugas dia menjawab, “Sampai detik ini, aku belum tau puncak perjuanganku untuk negeriku ini. Aku melihat kalian berkumpul disekitarku laksana anjing kelaparan yang sedang mengitari mangsanya”.

Selanjutnya, dia dipindahkan ke rumah sakit militer. Karena memilih bungkam, dia disiksa dengan disetrum aliran listrik dari mulut telinga hingga badannya. Kemudian dia dijebloskan ke penjara dengan level penyiksaan yang terus meningkat. Namun dia tetap setia, tidak mau membeberkan lokasi pimpinannya.

Serdadu Prancis menyerah. Mereka gagal memaksa Djamila agar mau buka mulut. Sehingga mereka pun mengambil tindakan dengan memperkarakan kasus Djamila ke meja hijau.

Baca Juga :  Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734: Pahala Orang yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit

Tahun 1957 Djamila Bouhired beserta temannya yang lolos dari sergapan tentara, Djamila Bou ‘Izzah disidang dengan tuduhan terorisme. Setelah melalui proses persidangan, dewan hakim memutuskan bahwa keduanya bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Djamila tidak gentar dengan hukuman itu, mengutip George Arno dalam Usthurah min Kifah al Jazair, dia berkata “Andaikata kalian membunuh kami, jangan lupa bahwa kalian sebenarnya membunuh kebebasan.

Dan jangan lupa dengan ini kalian telah mencoreng kemulian negara kalian sendiri, dan jangan lupa dengan ini kalian tidak akan pernah berhasil melarang rakyat Al Jazair untuk mendapatkan kemerdekaannya”.

Delapan bulan lamanya dia mendekam di penjara sambil menunggu hari eksekusinya. Dan selama itu pula suara rakyat dunia menutut keadilan untuknya menyeruak. Hal ini membuat Komite HAM PBB ikut menyoroti kasus ini yang membuat Prancis harus meninjau ulang perkara tersebut.

Sehingga pada tanggal 11 April 1958, pengadilan meringankan hukuman Djamila menjadi penjara seumur hidup. Saat wartawan mewawancarainya, dia mengungkap bahwa hukuman mati akan terasa jauh lebih baik ketimbang terus disiksa di dalam penjara.

Sontak ungkapan Djamila kembali menohok kubu Prancis, sehingga dia dialihkan ke penjara Prancis, setelah meringkuk selama 3 tahun di penjara Al Jazair.

Solidaritas Dunia untuk Kebebasan Djamila

Kegigihan Djamila Bouhired, telah membawa angin segar khususnya bagi rakyat Al Jazair. Tatkala kabar sang srikadi akan dihukum mati beredar, warga Al Jazair dari berbagai kalangan menggelar aksi protes.

Para jurnalis menulis opini – opini menentang perbuatan Prancis. Mereka mengatakan andaikata jasad Djamila mati, niscaya ruhnya akan tetap hidup di dalam diri para mujahid Al Jazair. Sementara para penyair mengekspresikan gubahan – gubahan mendalam terkait perjuangan Djamila dan ketidakadilan.

Baca Juga :  Tidak Semua Lagu Arab Merupakan Shalawat

Permintaan agar Djamila dibebaskan juga digaungkan para petinggi negara Arab, seperti Presiden Mesir (Jamal Abdul Nasir), Presiden Tunisia (Habib Bourguiba) dan Presiden Libanon (Sami Salh).

Suara berikutnya muncul dari berbagai negara Asia dan Eropa. Mengutip Isti’mariyah Faransiyyah Fi al-Jazair, warga Britania, Jerman, Rusia, Amerika, Yugoslavia dan Indonesia melakukan demonstrasi di depan kedutaan Prancis untuk mengutarakan dukungan terhadap Djamila. Sementara Liga Arab mengangkat masalah ini ke PBB.

Djamila akhirnya dinyatakan bebas di tahun 1961/1962, tidak lama setelah itu Al Jazair resmi meraih kemerdekaannya. Perjuangan heroik seorang perempuan muda demi kemerdekaan negaranya menarik perhatian dunia termasuk seorang film maker, Yusuf Syahin. Dia pun mengabadikan spirit Djamila dalam sebuah film berjudul, Djamila The Algerian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here