Dinasti Fatimiyyah, Awal Kemajuan Hingga Keruntuhannya

0
8815

BincangSyariah.Com – Dinasti Fatimiyyah adalah dinasti yang berideologi Syiah. Dinasti ini didirikan oleh Sa’id bin Husain di Tunisia pada tahun 909 M. Dinamakan Fatimiyah, sebab dinisbatkan kepada Fatimah, putri Nabi Muhammad saw. Dinisbatkan demikian karena para pendirinya mengaku keturunan atau satu garis nasab dengan putri Nabi Muhammad saw tersebut.

Pada awalnya, Dinasti Fatimiyyah ini bermula dari gerakan suatu sekte golongan Syiah, yaitu Ismailiyah yang berbasis di Yaman.

Dinasti Fatimiyyah didirikan sebagai tandingan Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Mesir. Awalnya, Syiah Ismailiyyah tidak menampakkan gerakannya seca­ra jelas hingga muncullah Abdullah bin Maymun yang membentuk Syiah Ismailiyah sebagai sebuah sistem gerakan politik keagamaan. Hal ini merupakan bentuk kekecewaan golongan Ismailiyah terhadap Bani Abbasiyah atas kerjasamanya merebut kekuasaan Bani Umayyah. Setelah perjuangan berhasil, dan Bani Abbas berkuasa, sedikit demi sedikit mereka disingkirkan.

Ia berjuang mengorganisir propaganda Syiah Ismailiyah dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionari ke segala penjuru wilayah Muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyyah. Kegiatan ini menjadi latar belakang berdirinya Dinasti Fatimiyyah di Afrika yang nantinya berpindah ke Mesir.

Sebelum meninggal, Abdullah bin Maymun sempat menunjuk pengikutnya Abu Abdullah al-Husain  sebagai pimpinan gerakan Syiah Ismailiyah untuk meneruskan misinya. Setelah dipercaya meneruskan kepemimpinan, Ia menyeberang ke Afrika Utara. Di sana, ia menyebar banyak propaganda sehingga berhasil menarik banyak perhatian, salah satunya dari  Suku Khitamah. Pada saat itu penguasa Afrika Utara, Ibrahim bin Muhammad, berusaha menekan gerakan Ismailiyah ini, namun usahanya sia-sia. Ziyadatullah, putra dan sekaligus pengganti Ibrahim bin Muhammad tidak berhasil menekan gerakan ini.

Setelah behasil membuat pengaruh di wilayah Afrika Utara, Abu Abdullah al-Husain menulis surat kepada Imam Ismailiyyah yaitu Sa’id bin Husain agar menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi gerakan Ismailiyah. Sa’id pun mengindahkan undangan tersebut hingga akhirnya Ia memproklamirkan diri sebagai sebagai putra Muhammad al-Habib, seorang cucu Imam Ismail.

Baca Juga :  Kisah Abu Hanifah Didemo Penganut Mazhab Syafi'i

Setelah memproklamirkan diri, ia segera merebut kekuatan Ziyadatullah. Dengan penuh kepercayaan diri, Ia memproklamirkan diri sebagai pemimpin tertinggi sekte Ismailiyah. Bukan hanya itu, Ia juga mampu mengusir Dinasti Aghlabi di bawah kepemimpinan Ziyadatullah di Tunisia pada tahun 909 M hingga akhirnya ia mampu menduduki Tunisia secara penuh dan dari kemenangan inilah terbentuk sebuah pemerintahan bernama Dinasti Fatimiyyah dengan khalifah pertamanya Sa’id bin Husain yang menggelari dirinya sebagai “Ubaidallah Al-Mahdi”.

Pada tahun 914 M mereka bergerak kearah timur dan berhasil menaklukkan Alexanderia, menguasai Syiria, Malta, Sardinia, Cosrica, pulau Betrix dan pulau lainnya. Selanjutnya pada tahun 920 M ia mendirikan kota baru di pantai Tunisia yang kemudian diberi nama al-Mahdi. Pada tahun 934 M, al-Mahdi wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Abu al-Qosim dengan gelar al-Qoim (934 M/ 323 H). Pada tahun 934 M al-Qoim mampu menaklukkan Genoa dan wilayah sepanjang Calabria. Pada waktu yang sama ia mengirim pasukan ke  Mesir tetapi tidak berhasil karena sering dijegal oleh Abu Yazid Makad, seorang khawarij di Mesir. Al-Qoim meninggal, kemudian digantikan oleh anaknya al-Mansur yang berhasil menumpas pemberontakan Abu Yazid Makad.

Banyak sekali kemajuan pada pemerintahan dinasti ini. Bahkan, cikal bakal Universitas Al Azhar di Kairo dimulai pada masa ini. Adalah Khalifah Al Muiz, salah satu khalifah Dinasti Fatimiyyah yang berhasil menaklukan Kairo atau Fustat waktu itu dengan tanpa perlawanan. Di sini, Ia mendirikan Masjid Al Azhar yang setelah itu menjadi Universitas Al Azhar dan bertahan sampai sekarang.

Kemajuan pada dinasti ini banyak melampaui kemajuan dinasti-dinasti sebelumnya seperti Umayyah dan Abbasiyah. Dan yang mengejutkan, itu hampir terjadi di pelbagai bidang, khusunya bidang pengetahuan dan kebudayaan.

Baca Juga :  Lima Indikator yang Digunakan Kiai Pesantren dalam Mengevaluasi Perkembangan Belajar Santri

Prestasi ini bermula dari tradisi yang dirintis oleh khalifah al-‘Aziz (ahli sastra), istananya dijadikan pusat kegiatan keilmuan, diskusi para ulama, fuqaha (ahli fiqih), qurra (para Qori Al Qur’an), nuhat (ahli gramatikal bahasa) dan ahli hadis serta para pejabatnya. Al-‘Aziz memberi gaji yang besar kepada para pengajar sehingga banyak ulama yang pindah dari Baghdad ke Mesir.

Prestasi yang paling fundamental pada masa ini adalah ketika keberhasilannya membangun lembaga pusat kajian keilmuan dengan nama Darul Hikmah. Darul Hikmah berfungsi sebagai pusat studi pada tingkat tinggi, di dalamnya dilakukan diskusi, penelitian, penulisan dan penerjemahan, serta pendidikan. Al-Hakim mendirikan Bait Al Hikmah karena terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al Makmun di Bahgdad.

Namun, semua itu pun berakhir dengan tragis, sebab penunjukan beberapa khalifah muda yang berujung kepada kebijakan di luar dugaan seperti penghancuran tempat ibadah umat Kristen pada masa kepemimpinan Al Hakim dan beberapa kekacauan pada masa Al Muntashir  sehingga munculah beberapa pasukan di bawah kendali Salahudin Al Ayyubi yang berhasil mengendalikan situasi di mana peperangan hampir terjadi antara pasukan Islam dengan tentara Salib. Di situlah, dinasti Fatimiyyah runtuh dan digantikan kekuasaan Dinasti Ayyubiah.

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here