Dinasti Ayyubiyyah: Dari Memberontak Fatimiyyah sampai Saling Berebut Kekuasaan antar Keluarga

0
3405

BincangSyariah.Com – Ketika Dinasti Fatimiyyah runtuh akibat beberapa pemberontakan yang disebabkan oleh beberapa kebijakan kontroversial, Dinasti Abbasiyah kembali tegak. Namun, Shalahuddin Al-Ayyubi menolak untuk dijadikan pemimpin pasukan dan memilih menjadi sultan di bawah Khalifah Al Musthadi dari Abbasiyah. Hal ini membuat khawatir Raja Nuruddin karena besarnya pengaruh Salahuddin di Mesir. Maklum, Salahuddin pernah dipercaya memimpin pasukan kekhalifahan Fatimiyyah di Mesir.

Namun Salahuddin sudah memperkirakan semuanya, ia mulai menyusun pelbagai strategi untuk menegakkan kekuasaannya di Mesir. Salah satunya dengan meminta para khatib di masjid untuk menyebut namanya setelah kekhalifahan Fatimiyyah. Bukan hanya itu, ia mengumpulkan kekuatan militernya sebagai antisipasi serangan dari Nuruddin yang geram kepadanya.

Di lain sisi, Nuruddin juga diam-diam menakutkan hal yang sama. Ia takut sewaktu-waktu dirinya beserta pasukannya akan diserang di Damaskus oleh Salahuddin dan pasukannya.

Walaupun begitu, keluarga Salahuddin termasuk ayahnya, Syeikh Najmuddin menyarankan putranya untuk berbuat baik dan ramah kepada Nuruddin. Karena bagaimanapun, ia telah banyak berjasa kepadanya, salah satunya dengan memberikan jabatan pemimpin Mesir kepadanya.

Waktu terus berjalan, dan Nuruddin telah meninggal. Dengan demikian, Shalahuddin tidak lagi merasa khawatir atas ancaman Nuruddin. Tapi ia tetap waspada, sebab musuh-musuh lain siap menerkam dan membahayakan. Masih ada kaum Syiah Mesir yang menuntut dikembalikannya kekhalifahan Fatimiyyah, serta beberapa orang yang sakit hati telah menjalin hubungan dan bekerjasama dengan tentara Salib untuk melawan Shalahuddin.

Mendirikan Dinasti Ayyubiyyah

Selanjutnya, Shalahuddin mulai menegakkan kekuasaannya di Mesir. Semua tampak mudah,sebab ketika Shalahuddin tiba di Mesir, semua rakyat merasa mempunyai harapan besar kepadanya karena selama ini mereka merasa selalu dizalimi para pemimpin sebelumnya. Karena itulah, kecintaan masyarakat Mesir begitu besar kepadanya. Pada saat seperti inilah, Shalahuddin mendirikan negara sendiri dengan nama Ayyubiah dan ia sebagai pendirinya.

Setelah itu, Shalahuddin mulai tidak tinggal diam dengan segala ancaman yang ada, khususnya dari ancaman tentara salib negara-negara Eropa. Ia bahkan berpendapat, bahwa harus memerangi setiap orang yang menjalin hubungan dengan tentara salib untuk memerangi dirinya dan kekuasaannya. Di samping itu, ia juga membersihkan sisa-sisa agen Dinasti Fatimiyyah di Mesir.

Ia juga mulai bergerak menuju daerah kekuasaan Islam yang sedang bergejolak dengan adanya revolusi. Ia berhasil meredakan itu semua. Bahkan, ia mampu menyatukan kekuatan yang sempat tercerai untuk memperkuat pertahanan dari pengaruh dan serangan tentara Salib.

Dalam pemikirannya, Shalahuddin berpendapat bahwa tegaknya kekuatan Islam adalah dengan bersatunya seluruh wilayah kekuasaan islam dalam satu negara kesatuan. Oleh sebab itu, ia terus berupaya  memperluas wilayahnya juga dengan upaya mempersatukan semuanya.

Dengan tegaknya Dinasti Ayyubiyyah, menandakan pengaruh Syiah berakhir dan berganti dengan Sunni. Dengan ini, seluruh kelompok Sunni, termasuk yang ortodoks turut mendukung segala langkahnya dalam menyatukan seluruh kekuatan islam di bawah kendali satu kekuasaan.

Militer dan Pertahanan, Kekuatan Utama Dinasti

Selama masa kekuasaan Ayyubiyyah, khususnya pada masa awal pendirian, sumbangsih paling besar adalah di bidang pertahanan, di mana Shalahuddin sebagai pendirinya mampu memperkuat kembali kekuatan islam di saat-saat genting.

Pernah terjadi sebagian kelompok dalam kekuasaan Ayyubiyyah sendiri justru melakukan pemberontakan dan pengkhianatan dengan bekerjasama dengan tentara Salib. Tentara Salib juga punya visi untuk menggoyang kekuatan Islam di segala daerah yang memang sedang bergejolak dan revolusi. Namun, Shalahuddin mampu mempertahankan dan mempersatukan kembali semuanya dan bahkan memperluas wilayah kekuasaannya. Meskipun, caranya harus dibayar dengan memerangi sebagian kelompok yang melawannya. Sehingga, sebagian kelompok yang ragu kepadanya turut bersimpati dan ikut dalam perjuangannya.

Dalam perjuangannya menegakkan kekuasaan dan menyatukan kekuatan Islam di bawah kendali kekuasaannya, ia selalu dibantu ayah dan saudaranya. Ia bukan tipe orang yang selalu bertindak semaunya, ia selalu mengutamakan musyawarah dalam segala kebijakan yang akan diambilnya.

Kemunduran: Anak-Anak Shalahudin al-Ayyubi Berebut Kekuasaan

Namun, segala yang telah diperjuangkan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi berlalu hanya sebagi sejarah, sebab pasca wafatnya, semua putranya berebut tahta kekuasaan hingga salah satu putranya Al Adil terpilih menjadi sultan meneruskan Shalahuddin. Setelah itu, semua sulta Ayyubiah berasal dari keturunannya.

Namun, hal itu menjadikan penyebab banyaknya para Amir di Suriah ingin memisahkan diri dari kekuasaan Ayyubiyyah. Dan kekuasaan Ayyubiah terpecah sampai terpilihlah Al Salih Al-Ayyub sebagai sultan dan mampu mempersatukan kembali Suriah dalam kekuasaan Ayyubiyyah.

Namun sayang, pada masa yang sama, terjadi pengusiran terhadap Ayyubiyyah di pelbagai daerah seperti yaman dan Hijaz hingga Al Salih tutup usia. Selepas tutup usianya Al Salih, Al Mua’azzam Turansyah menggantikan posisinya. Dan sialnya, ia dilengserkan oleh para jenderal Al Mamluk yang berhasil menghalau tentara Salib di sungai Nil. Dengan itu, berakhirlah kekuasaan Dinasti Ayyubiah di Mesir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here