Dinasti Ayyubiyah: Mengembalikan Mazhab Sunni di Mesir, Runtuh oleh Perang Saudara

3
4010

BincangSyariah.Com – Sebuah kerajaan Islam yang berdiri setelah Dinasti Fatimiyah di Mesir adalah Dinasti Ayyubiyah dan didirikan oleh Sholahuddin al-Ayyubi. Dinasti ini berdiri setelah Dinasti Fatimiah resmi dihapuskan 1171. Awalnya Shalahuddin diangkat menjadi wazir (konselor) di Fatimiyah oleh Khalifah al-Adid, khalifah terakhir Fatimiyah. Tetapi Shalahuddin mendapatkan dukungan dari kelompok Sunni di Mesir dan akhirnya mampu melengserkan Dinasti Fatimiyah. Tetapi Dinasti Ayyubiyah tidak langsung berdiri, ia menunggu kematian Khalifah Nuruddin Zanki dan Khalifah Fatimiah yang terakhir, al-Adid.

Ada serentetan proses yang menyebabkan Sholahuddin akhirnya mendirikan dinasti sendiri. Mulanya ia diperintahkan oleh Nuruddin Zanki untuk membantu meredamkan penyerangan  yang dilakukan oleh tentara Salib di Mesir. Khalifah az-Zafir meminta bantuan kepada Nuruddin Zanki untuk mengirim bantuan berupa bala tentara. Dikirimlah pasukan tentara di bawah kepemimpinan Shalahuddin dan Syirkuh.

Setelah itu, Sholahuddin diminta untuk menjadi wazir di Mesir. Pada masa berikutnya ia berhasil melengserkan Fatimiah lalu Nuruddin Zanki dan al-Adid wafat, ia lalu memproklamirkan dirinya sebagai sultan dan mendirikan Dinasti Ayyubiyah.

Karena latar belakang Sholahuddin adalah orang militer, ia berhasil menaklukkan wilayah-wilayah Timur Tengah seperti Mesir, Syam, Mesopotamia, Hijaz, Yaman dan pesisir Afrika Utara. Penaklukkan tersebut dilakukan selama kurun waktu 10 tahun. Pada tahun 1187, Shalahuddin berhasil memenangkan pertempuran yang terjadi antara ia dan pasukan salib Yerussalem yang dikenal dengan pertempuran Hittin. Atas kemenangannya inilah ia berhasil mendapatkan wilayah Yerussalem dan menaklukkan Kerajaan Yerussalem.

Pada tahun 1189, terjadi perang Salib ketiga dan menjadi perang salib besar yang terakhir bagi Shalahuddin. Pada tahun tersebut terjadi perlawanan dari pasukan salib yang terdiri dari persekutuan Freidrich I, Raja Romawi dan Richard I, Raja Inggris. Mereka mengepung pasukan muslimin untuk merebut kembali kota Yerussalem. Mulanya pasukan muslimin kuat, tetapi akhirnya kota tersebut jatuh ke tangan Raja Richard I. Setelah itu terjadi pembantaian kepada kaum muslimin yang dilakukan oleh pasukan Salib. Pasuka salib tersebut juga melakukan upaya untuk merebut kota Ashkelon di selatan.

Baca Juga :  Kisah Perdebatan Wahid Hasyim dengan Sirajuddin Abbas Jamaah Haji tidak Boleh Buta Huruf

Selama masa pemerintahan Dinasti Ayyubiyah di bawah kepemimpinan Shalahuddhin, ia tak pernah mendirikan sebah kerajaan yang terpusat. Wilayah-wilayah taklukkannya dibagikan kepada kerabat-kerabatnya. Meskipun para amir (pemimpin kecil) di wilayah yang berada di bawah Dinasti Ayyubiyah itu patuh terhadap sultan, Shalahuddin a-Ayyubi, tetapi mereka memilliki otonomi daerah dan kebbesan dalam kepemimpinan.

Setelah kematian Shalahuddin pada tahun 1193 masing-masing kerabat mendapatkan wilayah kekuasaannya.  Dari situlah mulai terjadi perebutan kekuasaan di kalangan putra-putranya. Dua sultan berikutnya dipimpin oleh anak-anaknya. Barulah sultan ketiga dipehgan setelahnya adalah adiknya, al-Adil.

Penaklukkan-penaklukkan dilakukan demi kepentingan perpolitikan dan juga perluasan wilayah kekuasaan. Wilayah yang berhasil ditakluk akan di masa Shalahuddin adalah, Afrika Utara, Nubia Barat, Arabia Barat, Palestina dan Transyordania. Pasukan militer yang dikirim untuk melakukan ekspansi tidak melulu dipimpin oleh Shalahuddiin, melainkan oleh panglima-panglima yang telah disiapkan oleh Shalahuddin. Panglima tersebut seperti Turansya saat penaklukkan Yaman dan Hijaz, Muzaffar Taqiuddin saat penaklukkan pesisir Barqa dan lainnya. Tentu, tidak jarang ekspansi ini seringkali menimbulkan pertikaiain dan pemberontakan dari penduduk asal.

Setelah Shalahuddin wafat, putra-putra dan keturunannya seringkali bertikai dalam urusan penempatan jabatan. Mereka saling berebut kedudukan sultan. Setelah dipimpin oleh dua sultan berikutnya, sultan yang keempat bukan anak dari Shalahuddin melainkan adiknya yaitu, Al-Adil yang berhasil menjadi sultan pada tahun 1200. Selanjutnya semua sultan dari dinasti ini berasal dari keturunan al-Adil.

Sepuluh tahun kemudian para raja-raja kecil yang memegang wilayah di bawah kekuasaan dinasti berusaha untuk melepaskan diri dan ingin mendirikan negara sendiri. Dinasti ini lalu gugur akibat penyerangan dari dinasti Mamluk yang mencoba merebut wilayah Mesir. Pada tahun 1341 Dinasti Mamluk berhasil meruntuhkan Dinasti Ayyubiyah. Upaya perebutan kembali wilayah Mesir oleh beberapa amir dari Dinasti Ayyubiyah tidak membuahkan hasil.

Baca Juga :  Ketika Nabi Zakariya Bertawasul di Mihrab Siti Maryam

*Dikelola dari berbagai sumber

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here