Dinasti Abbasiyah: Pelopor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam Sejarah Islam

3
30739

BincangSyariah.Com – Bani Abbasiyah adalah kekhalifahan atau pemerintahan dalam sejarah Islam yang memimpin pada tahun 32 H/750 M setelah Bani Umayyah tumbang di tangan pasukan Abu Abbas melalui pertempuran di suatu wilayah di Damaskus.

Dinasti Abbasiyah merupakan kekhalifahan terlama yang pernah memimpin sepanjang sejarah Islam, yaitu pada tahun 750-1258 M. Naiknya dinasti ini ke dalam tahta kepemimpinan Umat Islam saat itu tidak lepas dari banyak faktor. Diantaranya adalah adanya sebagian umat yang memandang bahwa Dinasti Umayyah tidak berlaku adil dan hanya memihak kepada sebagian kelompok saja. Ada juga sebagian kelompok yang merasa hak-haknya dirampas seperti kelompok Syiah. Dan juga orang-orang non-arab (Mawalli) yang tidak diberlakukan secara adil dengan dibebankan membayar pajak lebih besar dari orang arab.

Faktor-faktor tersebutlah yang membuat Bani Abbasiyyah mendapatkan banyak dukungan dari pelbagai pihak sampai memastikan kursi kekhalifahan pada waktu itu berpindah tangan dari Bani Umayyah kepada Bani Abbasiyah dengan melalui perebutan wilayah sampai menyisakan satu wilayah kekuasaan Bani Umayyah, yaitu Andalusia.

Nama Bani Abbasiyah sendiri disandarkan kepada paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Hal ini menunjukan pertalian yang erat antara keluarga Bani Abbas dengan Nabi Muhammad Saw. Sementara itu, pusat pemerintahan Bani Abbasiyah sendiri berpusat di kota Baghdad.

Dinasti ini mengalami masa kejayaan pada awal-awal masa kepemimpinannya. Yaitu pada masa Harun Ar Rashid yang pernah memerintah pada tahun 786-809 M dan putranya yaitu Al Ma’mun yang menjabat pada tahun 813-833 M.

Pada masa kepemimpinan Harun Ar Rashid, hal yang paling diutamakan adalah sektor sosial dan kesehatan. Terbukti dengan dibangunnya fasilitas kesehatan seperti rumah sakit beserta penunjangnya    yaitu berupa lembaga akademi pendidikan dokter dan farmasi. Lain hal dari sektor kesehatan, kesejahteraan masyarakat terus ditingkatkan dan pendidikan untuk semua masyarakat sangat diutamakan. Pada masa inilah, peradaban islam semakin menguat dan tak tertandingi oleh siapapun.

Baca Juga :  Tiga Mahar Unik di Masa Rasulullah Saw

Sementara itu pada masa kepemimpinan Al Ma’mun putra Harun Al Rashid, bidang pendidikan adalah hal yang paling utama yang diperhatikan. Pada masanya, peradaban islam di bidang keilmuan mencapai masa keemasannya. Karena kecintaan terhadap ilmu Filsafat, Khalifah Al Ma’mun menggalakkan penerjemahan buku filsafat barat ke dalam bahasa arab supaya mudah dipelajari.

Bahkan, Khalifah Al Ma’mun  rela membayar sebagian kalangan orang non-muslim untuk menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa arab. Bukan hanya itu, banyak juga fasilitas pendidikan yang dibangun seperti madrasah dan lainnya. Salah satunya adalah Baitul Hikmah yang menjadi pusat penerjemahan sekaligus perguruan tinggi yang dilengkapi dengan perpustakaan besar. Pada masa al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan pada masa Dinasti Abbasiyah melakukan banyak kajian keilmuan dengan cara menerjemahkan buku-buku dari Yunani lalu mempelajarinya. Dengan cara seperti itulah ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan sangat pesat.

Dilihat dari permulaan pemerintahan Bani Abbasiyah, ternyata banyak sekali perubahan yang telah dilakukan, lebih banyak dari masa pemerintahan sebelumnya yaitu Dinasti Bani Umayyah.

Pergantian dari Bani Umayyah ke Bani Abbasiyah bukan hanya sebatas perubahan kepemimpinan saja, akan tetapi juga mampu merubah banyak hal. Dinasti Abbasiyah mampu menorehkan sejarah bahwa Islam mampu mengembangkan refleksi kegiatan ilmiah dengan adanya pengembangan wawasan dan disiplin keilmuan.

Pada Dinasti Abbasiyah inilah, pendidikan sangatlah merata dengan adanya madrasah-madrasah yang terbentang dari desa sampai kota. Oleh sebab itu, tidak mengherankan perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah maju dan peradaban islam mencapai puncak kejayaannya.

Dinasti Abbasiyah secara turun-temurun telah melahirkan sebanyak tiga puluh tujuh khilafah yang berkuasa dalam kurun waktu yang cukup sangat panjang, yaitu sekitar tiga ratus tahunan. SelamA itu pulalah, perkembangan dunia islam sangat berkembang pesat dalam sektor dan bidan apapun, khususnya keilmuan.

Baca Juga :  Terkait Tahun Politik, Ketum PP Muhammadiyah Ajak Warga Beretika dalam Bersosmed

Namun lagi-lagi sangat disayangkan, semua kejayaan itu berakhir dengan pilu. Bagaimana tidak, perang komunal antar saudara terjadi di mana-mana, dan pemberontkan terus terjadi menggerogoti sendi-sendi kekuakasaan islam saat itu. Dan puncaknya, adalah ketika terjadi serangan dari bangsa Mongol yang mengakibatkan luluh lantahnya Baghdad pada waktu itu.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here