Diksi Kecepatan Langkah: Keindahan Bahasa Al-Qur’an

0
1136

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an adalah kitab suci yang sangat kompleks. Jika jeli, kita akan menemukan berbagai detail kecil dalam kehidupan kita yang ternyata dinaungi oleh Al-Qur’an. Yang akan dibahas di sini adalah, ternyata Al-Qur’an meletakkan diksi–diksi tertentu pada situasi – situasi tertentu. Allah tidak mungkin sembarangan meletakkan kata tanpa alasan yang tepat. Satu kata dan kata lain tidak akan tertukar, karena punya fungsi dan peran masing – masing dalam konteks pembahasan ayat.

Salah satu ciri makhluk hidup adalah bergerak, tak terkecuali manusia. Manusia harus bergerak tiap harinya, dari satu tempat ke tempat lain. Yang membedakan adalah, interval kecepatan pergerakannya. Kecepatan langkah manusia selalu berbeda–beda, menyesuaikan kondisi dan tujuan langkah kakinya. Sebagai contoh, interval langkah menuju ruang IGD rumah sakit, pasti beda dengan kecepatan langkah menuju pasar untuk tujuan belanja kebutuhan sehari-hari dan lain sebagainya. Ternyata, Al-Qur’an pun menggunakan diksi yang berbeda  – beda dalam memetakan langkah kaki manusia. Ada yang normal, cepat, sangat cepat, hingga terburu. (Baca: Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 282-283 tentang Prosedur Utang-Piutang)

Dalam konteks mencari rezeki, Al-Qur’an menggunakan diksi sebagai berikut:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Artinya : Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (Q.S Al-Mulk : 15)

Kata Famsyu berasal dari akar kata Masyaa – Yamsyu yang dalam kamus dwibahasa Arab-Indonesia adalah berjalan. Dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Quran karya Imam Al-Qurthubi, beliau menafsirkan lafadz Famsyuu dengan:

أي بالحزونة والغلظة

Baca Juga :  Kisah Abu Hanifah Didemo Penganut Mazhab Syafi'i

Yang berarti berjalan dengan sedih dan berat. Maksudnya, gaya berjalan orang mencari rezeki tidak perlu terburu – buru, cukup dilakukan dengan santai, seperti langkah kaki orang yang sedang bersedih dan berat mengangkat kakinya. Dalam lanjutannya, Al-Qurthubi menyatakan bahwa kata perintah (Fi’l Amr) dalam ayat tersebut memiliki konteks legitimasi, yakni boleh alias tidak wajib.

Beda lagi dalam konteks ibadah, dalam konteks ibadah (dalam hal ini yang dijadikan contoh adalah shalat Jumat), berikut adalah diksi yang digunakan Al-Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Q.S Al-Jumu’ah : 09)

Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan dikis Fas’auu dari kata Sa’aa – Yas’uu  yang artinya ‘bergegas’. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa salah satu ritual haji adalah Sa’I , adalah ritual berlari kecil dari bukit Safa ke Marwa. Interval langkahnya memiliki definisi yang variatif, ada yang berkata bergegas dalam melakukan ritual – ritual Jumat secara umum, ada yang mengatakan bergegas niat beribadah di hari Jumat, ada yang bergegas dalam langkah kaki menuju masjid.

Salah satu yang mendukung pendapat bergegas dalam langkah kaki adalah Ibnu Mas’ud. Beliau berkata, “Jika aku berkata Sa’aitu (aku bergegas) maka tentu model berjalanku hingga selendangku terjatuh.” Begitulah penjelasan beliau yang dinukil Imam Al-Qurthubi dalam Tafsirnya.

Berikutnya, Al-Qur’an menggunakan diksi yang berbeda dalam konteks ‘Kembali Kepada Allah’, menuju Allah yang dimaksud di sini adalah taubat, atau hijrah dari kemusyrikan menuju ajaran Rasulullah SAW. Berikut adalah diksi yang dipakai :

Baca Juga :  Kisah Adik Imam al-Ghazali yang Tidak Mau Berjamaah dengan Kakaknya

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Artinya : “Maka berlarianlah kalian kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu” (Q.S Adz-Dzariyat : 50)

Diksi Fafirru berasal dari akar kata Farra-Yafirru yang berarti berlarilah. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Lafadz Fafirru ditafsiri Ilji’uu yang berarti mencari tempat berlindung. Interval langkah seorang yang sedang mencari tempat perlindungan tentunya bisa dibilang sangat cepat, karena keaadaanya yang sedang ‘dikejar’ rasa bersalah itulah yang akan memberikan energi tersendiri bagi kakinya untuk melangkah.

Dalam Tafsir Al-Khazin dijelaskan bahwa maksud dari Fafirru adalah Fahrabuu yang artinya, kaburlah. Kabur dari adzab Allah menuju RahmatNya. Bisa dibilang, diantara ke-3 interval langkah yang sejauh ini sudah disebutkan, Interval model ini adalah yang paling cepat dan rapat.

Yang terakhir adalah dalam konteks melakukan kebaikan, berikut adalah diksi yang digunakan Al-Qur’an :

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيها فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ أَيْنَ ما تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللَّهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S Al-Baqarah : 148)

Dalam ayat ini, yang dibahas bukan sekedar interval kecepatan, tapi juga strategi untuk mencapai interval tersebut. Dalam melakukan kebaikan, manusia diperintah menggunakan lafaz Fastabiquu yang artinya, berlomba – lombalah. Dalam Tafsir Al-Khazin, kata ini ditafsiri :

أي بادروا بالطاعات وقبول الأوامر وفيه حث على المبادرة إلى الأولوية والأفضلية

“Artinya, saling mendahuluilah kalian dalam ibadah dan melaksanakan perintah Allah, didalamnya terkandung dorongan untuk saling mendahului dalam keutamaan dan derajat pahala”

Ayat  ini menjelaskan, bahwa semua orang punya kelebihan masing-masing, maka berbekal kelebihan itu, tujuannya tetap 1 yakni kebaikan. Maka berlombalah jadi yang terbaik dalam kebaikan, bukan dalam kelebihan secara substansif saja. Ayat ini menjadi dasar Madzhab Syafi’i menetapkan amal paling utama adalah Shalat di awal waktu. Karena, ayat ini bicara bukan Cuma soal kecepatannya, tapi soal siapa yang paling duluan mencuri start.

Baca Juga :  Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734: Pahala Orang yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit

Demikianlah 4 diksi level – level kecepatan langkah manusia, yang ternyata berbeda. Al-Qur’an sudah bicara bahwa semua punya porsi masing – masing. Jika kita analogikan pada Speedmeter motor atau mobil, mungkin kisaran kecepatan langkah mencari rezeki adalah 40 Km/jam, tak terlalu lambat namun tak terlalu cepat pula. Untuk melaksanakan ibadah, 70 Km/jam, sudah masuk level terburu-buru dan masuk gigi 4.

Sedangkan untuk bertaubat, adalah 100 Km/jam. Dalam melakukan kebaikan, kita tak boleh asak target kecepatan, tapi kita juga harus lihat kondisi sekitar untuk mengatur strategi mengatur kecepatan, bukankah itu konsep yang seharusnya? Selalu melihat kepada yang lebih baik, dalam hal kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here