Dialog Terbuka dengan Ibu Nyai Sinta Nuriyah tentang Jilbab; dari Ulama yang Mewajibkan Sampai yang Tidak

1
1941

BincangSyariah.Com – Sekitar satu bulan yang lalu saya sempat membaca tulisan Pidato Ilmiah Penganugerahan Doktor Honoris Cause (H.C.) Hj. Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum yang bertajuk “Inklusi dalam Solidaritas Kemanusiaan: Pengalaman Spiritualitas Perempuan dalam Kebhinekaan”. Beliau menyampaikan Pidato Ilmiah tersebut di Hadapan Rapat Senat Terbuka UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Sinta Nuriyah Wahid: Perempuan Adalah Tokoh Sentral Kehidupan Manusia)

Setelah khatam, saya hanya menghela napas dalam-dalam, karena tulisan beliau tersebut sangat menyentuh secara spiritual. Meskipun saya belum pernah berguru atau bertemu secara langsung dengan beliau, tetapi saya semakin takzim dan takut kepada beliau. Saya semakin takut untuk mencaci-maki dan menghina―apalagi memurtadkan dan mengafirkan beliau hanya karena berbeda pemikiran dan pandangan keislaman.

Sebab, saya menangkap ketulusan seorang perempuan yang memiliki kualitas spiritual mengagumkan dalam tulisan tersebut. Mengagumkan, karena beliau membagikan keindahan dan kelezatan spiritualitas tersebut kepada masyarakat luas melalui sikap dan perilaku baik serta aksi nyata untuk memperbaiki kehidupan sosial. Artinya, beliau tidak hanya shalih (orang baik), tetapi juga mushlih (orang yang berperilaku baik dan senantiasa berusaha memperbaiki kehidupan sekitarnya).

Kemudian, ketika hendak mengakhiri tulisan tersebut, beliau berucap indah penuh rendah hati: “semoga yang kami lakukan ini akan menjadi amal ibadah yang akan diterima oleh Allah swt. dan merupakan sumbangsih kami untuk membangun bangsa dan negara.” Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya membahas masalah jilbab yang sempat “menggemparkan” jagad media sosia beberapa hari ini. Hal ini bermula dari pernyataan Ibu Nyai Sinta bahwa Muslimat tidak wajib mengenakan jilbab, tetapi tetap wajib menutup aurat. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kepala sampai leher bukan merupakan aurat, sehingga tidak wajib ditutupi. Sebab, kalau seandainya Ibu Nyai Sinta menganggap kepala sampai leher merupakan bagian aurat Muslimat yang harus ditutupi, maka sudah pasti beliau mewajibkan jilbab.

Sebenarnya persoalan wajib dan tidaknya mengenakan jilbab pernah dibahas secara akademis dan komparatif oleh pemikir progresif dan mufasir Indonesia, Habib M. Quraish Shihab. Beliau memaparkan beberapa pendapat para ulama dan cendikiawan Muslim, baik yang mewajibkan jilbab maupun yang tidak mewajibkan (lihat Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah). Dalam kesempatan lain, beliau pernah menyampaikan secara langsung kepada masyarakat tentang perbedaan para ulama mengenai hukum berjilbab tersebut.

Dengan demikian, apabila kita senantiasa update dan membaca perkembangan khazanah pemikiran Islam di Nusantara, maka kita tidak akan kaget apalagi sampai mencaci-maki secara brutal pernyataan Ibu Nyai Sinta Nuriyah tersebut. Beberapa pendapat ulama tersebut, termasuk pendapat Ibu Nyai Sinta, adalah hasil ijtihad yang bisa saja benar dan bisa saja salah. Menurut fatwa Syekh Mahmud Syaltut (Imam Besar Al-Azhar), Islam tidak mewajibkan Muslim untuk mengikuti mazhab tertentu. Sehingga setiap Muslim boleh mengikuti mazhab manapun, baik Sunni maupun Syiah Itsna ‘Asyariah, dan juga boleh pindah mazhab apabila mereka menghendaki.

Namun, sebagai Muslim (yang oleh Rasulullah saw. diperintah agar senantiasa belajar dari kecil hingga mati nanti) alangkah baiknya apabila kita menjadi muttabi‘ (qabul al-qawl al-qa’il wa anta ta‘lamu hujjatahu/menerima satu pendapat tertentu dengan mengetahui hujah yang digunakan), bukan muqallid (qabul al-qawl al-qa’il wa anta la ta‘lamu hujjatahu/menerima satu pendapat tanpa mengetahui hujah yang digunakan). Selain itu, kita juga penting mempertimbangkan aspek (memberikan) kemaslahatan dan (menolak) kemudaratan dari pendapat tersebut.

Sayyid ‘Alawi al-Maliki pernah berkata: al-insan kullama ittasa‘a ufuquhu qalla inkaruhu ‘ala an-nas. Intinya, ketika seseorang luas pengetahuannya, maka dia tidak akan mudah menyalahkan―apalagi menghina dan mengafirkan orang lain. Mawsu‘ah Nadhrah an-Na‘im menyebutkan redaksi lain (1998, VI: 2064): ar-rajulu kullama ittasa‘a ‘ilmuhu ittasa‘at rahmatuhu (seseorang ketika sudah luas ilmunya, maka akan luas pula kasih-sayangnya). Oleh karena itu, meminjam istilah Sayyid Muhammad Rasyid Ridha: nata‘awanu fima ittafaqna ‘alaih wa ya‘dziru ba‘dhuna ba‘dhan fîma ikhtalafna fihi (kita saling bantu-membantu dalam masalah yang kita sepakati dan saling menghormati terhadap masalah yang kita perselisihkan).

Memang, menurut ‘Abdul Wahab Thawilah, terdapat empat tabiat atau karakter manusia dalam menjalani kehidupan ini, yaitu: orang yang suka memperberat dan hati-hati; orang yang suka ringan dan mempermudah; orang yang luas pengetahuannya; dan orang yang dangkal pengetahuannya. Keempat tabiat ini juga menjadi salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat dan pemikiran keislaman di antara para ulama dan umat Islam pada umumnya (Atsar al-Luggah fi Ikhtilaf al-Mujtahidin, 2000: 9).

Baiklah, setidaknya ada dua ayat al-Qur’an yang biasa dirujuk ketika membahas masalah jilbab. Pertama, an-Nur (24): 31, yaitu: “dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” Kedua, al-Ahzab (33): 59, yaitu: “wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.”

Pertama, Ibnu ‘Asyur (Bapak Maqasid IV dan orang pertama yang mengajar ilmu maqashid di universitas) menjelaskan bahwa maksud “kecuali yang biasa terlihat” dalam an-Nur (24): 31 tersebut adalah wajah, kedua telapak tangan, dan kedua kaki. Menurut sekelompok ulama, hanyalah wajah dan kedua telapak tangan. Namun, ada sebagian kecil ulama berpendapat bahwa maksud “kecuali yang biasa terlihat” adalah kedua kaki dan rambut (Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Penerbit ad-Dar at-Tunisiyyah, 1984, XVIII: 207).

Dengan demikian, kalau mengambil pendapat Ibnu ‘Asyur, maka wajah, kedua telapak tangan, dan kedua kaki bukan merupakan aurat. Sehingga boleh ditampakkan (tidak ditutupi). Kalau mengambil pendapat sekelompok ulama, maka hanya terbatas kepada wajah dan kedua telapak tangan yang boleh ditampakkan. Sehingga kedua kaki tetapi harus ditutupi karena merupakan aurat.

Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai masalah menutup kaki ini. Sebagian besar mazhab Maliki mewajibkan Muslimat menutup kedua kakinya (semisal dengan kaos kaki), tetapi sebagian kecil dari mereka tidak mewajibkannya. Imam Abu Hanifah tidak mewajibkan perempuan menutup kedua kakinya. Menurut Ibnu ‘Asyur, meskipun menutup kedua kaki ini tidak bermasalah terhadap perempuan, tetapi ia sulit dilaksanakan, terutama sekali oleh Muslimat desa yang memang tidak biasa menutup kedua kakinya (hlm. 207).

Adapun apabila mengambil pendapat sebagian kecil ulama tersebut, maka kedua kaki dan rambut boleh ditampakkan (tidak ditutupi) karena bukan merupakan bagian dari aurat. Sehingga Muslimat tidak wajib mengenakan jilbab untuk menutupi rambutnya tersebut.

Selain itu, menurut Rasyid Ridha, perintah agar Muslimat mengulurkan kerudungnya sampai ke bagian dada dalam rangka merespon kebiasaan buruk beberapa perempuan di masa jahiliah. Mereka biasanya mengenakan kerudung dan menguraikannya kebelakang. Sehingga bagian atas dada dan dada mereka tetap terbuka. Hal ini memang sengaja dilakukan untuk memamerkan perhiasan yang dimiliki, seperti kalung dan lain sebagainya (Huquq an-Nisa’ fi al-Islam, 1984: 180).

Kedua, pengetahuan hukum Islam dalam kajian maqashidi dibagi menjadi dua, yaitu: ta‘abbudiyyah dan mu‘allalah (ta‘aqquli). Ta‘abbudiyyah adalah hukum yang tidak diketahui ‘illah (alasan) pensyariatannya, seperti kewajiban salat yang berjumlah lima dan rukun-rukunnya dan ketetapan tawaf sebanyak tujuh kali. Sedang mu‘allalah adalah hukum yang memiliki sebab dan ‘illah (alasan), di mana keduanya bisa diketahui melalui keterangan nas atau ijtihad/penalaran (Mas‘ud Shabri, Bidayah al-Qashid ila ‘Ilm al-Maqashid, 2017: 21).

Dalam hal ini, menurut Ibnu ‘Asyur, tujuan perintah mengenakan jilbab dalam al-Ahzab (33): 59 tersebut adalah “yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu,” sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Jilbab di sini dimaknai sebagai kerudung yang bisa menutupi kepala sampai dada.

Ayat ini merespon kebiasaan buruk beberapa pemuda nakal atau lelaki munafik Arab yang suka mengganggu dan menyakiti para perempuan dahulu kala. Disebutkan bahwa jilbab adalah pakaian khusus perempuan merdeka. Sedangkan perempuan budak tidak memakainya. Namun, beberapa perempuan merdeka seringkali keluar malam tidak mengenakan jilbab. Sehingga mendapatkan gangguan dari pemuda nakal atau lelaki munafik karena disangka budak. Oleh karena itu, Allah menyuruh mereka agar mengenakan jilbab ke manapun mereka pergi. Perintah ini dalam rangka sadd adz-dzari‘ah, yaitu mencegah terjadinya kemudaratan (Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, XXII: 107).

Dengan demikian, apabila menggunakan kaidah fikih: al-hukmu yaduru ma‘a illatihi wujudan wa ‘adaman, yaitu berlaku dan tidaknya sebuah hukum bergantung kepada ‘illah (alasan) yang memengaruhinya. Kaidah lain adalah: al-hukmu idza tsabata bi ‘illatin zala bi zawaliha (hukum yang ditetapkan berdasarkan satu alasan tertentu, maka bisa hilang sesuai dengan hilangnya alasan tersebut). Kedua kaidah ini pernah saya hapalkan ketika nyantri di Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Artinya, kalau tujuan mengenakan jilbab agar tidak diganggu oleh oknum laki-laki, maka Muslimat Indonesia tidak wajib mengenakan jilbab. Sebab, keamanan Muslimat di Indoensia terjamin. Setidaknya dia bisa pergi secara aman, baik mengenakan jilbab maupun tidak. Selain itu, kalau jilbab dimaksudkan agar menutupi bagian dada dan perhiasan yang biasa ditampakkan oleh beberapa perempuan jahiliah dahulu kala, maka Muslimat Indonesia bisa mengenakan baju sopan yang menutupi kedua hal tersebut meskipun tanpa berjilbab. Barangkali cara berpikir demikian ini termasuk bagian dari pemahaman kontekstual yang dimaksudkan oleh Ibu Nyai Sinta Nuriyah.

Ketiga, menurut Yusuf al-Qaradhawi, jilbab (dengan makna baju kurung panjang) adalah wasilah (sarana) yang bisa berubah, bukan tujuan (maqashid) yang bersifat tetap. Adapun tujuannya adalah menutupi aurat dan melihara kehormatan Muslimat itu sendiri. Oleh karena itu, Muslimat bebas menggunakan jenis macam baju sesuai dengan kondisi dan situasi negara atau daerah masing-masing asalkan tidak menyalahi syariat dan memenuhi tujuan utama yang dihendaki syariat dalam menggunakan baju, yaitu: menutupi aurat yang wajib ditutupi (di sini masih terdapat perbedaan mengenai batas-batas aurat yang wajib ditutupi, sebagaimana saya sebutkan sebelumnya), tidak mengenakan baju transparan dan ketat yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, dan tidak mengenakan baju yang meniadakan ciri-khas dan unsur kewanitaannya (Dirasah fi Fiqh Maqashid asy-Syari‘ah, 2008: 178). ‘Ala kulli halin, wa allah a‘lam wa a‘la wa ahkam.

100%

1 KOMENTAR

  1. Luar biasa, tajam, dan kaya akan literasi. Barokallah ustad. Semoga generasi milenial baik yg masi di pesantren maupun yg sudah lanjut studi lebih tinggi bisa meniru jejak rekam akademik jenengan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here