Dialog Sahabat Ali dengan Salman Al-Farisi tentang 4 Kesedihan yang Dibolehkan

0
780

BincangSyariah.Com – Imam Muhammad Bin Abu Bakar dalam hadis yang kedua puluh dua dalam al-Mawaizh al-‘Ushfuriyyah mencantumkan kisah hikmah dari Sayyidina Ali ra. dan Salman Al-Farisi ra. Kisah ini diriwayatkan dari Sayyidina Sa’ied Bin Al-Musayyab ra.

Suatu ketika, Sayyidina Ali ra. keluar dari dhalem-nya. Beliau bertemu dengan Salman Al-Farisi di tengah jalan. Beliau menyapanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai Aba Abdillah (nama kun-yah Salman)?  Salman ra. menjawab dengan raut muka sedih, “Wahai Amirulmukminin, pagi ini saya sedang memiliki 4 kesusahan.”

Empat kesusahan yang dimiliki oleh Salman Al-Farisi yaitu: Pertama, Ghammul ‘iyal. Yaitu kesusahan dalam menghidupi keluarga. Keluarga pastinya butuh makan untuk hidup. Kedua, Ghammul kholqi. Yakni kesusahan dalam menghamba. Allah Swt. memerintahkan kita untuk taat pada-Nya. Ketiga, Ghammusy syaithon. Artinya kesusahan dalam menghindari bisikan setan untuk bermaksiat kapada Allah Swt. Keempat, Ghammu malakilmaut. Maksudnya kesusahan dalam mempersiapkan diri untuk dijemput malaikat maut.

Sayyidina Ali ra. malah nampak senang mendengar cerita sahabatnya, Salman Al-Farisi ra. Beliau berkata,

ابشر يا ابا عبد الله فان لك في كل خصلة درجة

Wahai Aba Abdillah, seharusnya kamu bahagia. Karena dalam setiap kesusahanmu terdapat kenaikan derajat di sisi Allah Swt.

Sayyidina Ali ra. bercerita tentang dirinya dan Rasulullah Saw. Beliau menyebutkan bahwa suatu ketika beliau datang menemui nabi. Beliau mengadu pada nabi tentang 4 kesusahan atau kesedihan yang sedang melekat pada dirinya. Beliau berkata pada nabi,

 يا رسول الله في اربعة غموم ليس في البيت غير الماء واني مغتم بحال افراخي وغم طاعة الخالق وغم العاقبة وغم ملك الموت

Wahai Rasulullah, pagi ini aku memiliki 4 kesusahan. (1) Di rumah hanya ada air. Aku susah dengan keadaan anak-anakku. (2) Susah dalam mentaati aturan Agama. (3) susah memikirkan akhir hidup, dan (4) susah memikirkan malaikat maut, kira-kira kapan ia akan menjemput kita.

Setelah mendengarkan penuturanku, kemudian Rasulullah Saw. bersabda,

Baca Juga :  Menengok Perayaan Maulid Nabi di Tunisia

ابشر يا علي فان غم العيال ستر من النار وغم طاعة الخالق امان من العذاب وغم العاقبة جهاد وهو افضل من عبادة ستين سنة وغم ملك الموت كفارة الذنوب كلها اعلم يا علي ان ارزاق العباد على الله تعالى ان غمك لا يضر ولا ينفع غير انك تؤجر عليه كن شاكرا مطيعا وكولا تكن من اصدقاء الله تعالى

Berbahagialah engkau Ali. Sesungguhnya sedih atas keluarga akan menjadi penghalang dari neraka. Dengan bersedih untuk taat pada Allah, akan menghindarkan dari siksa. Dengan bersedih atas akhir hidup, itu termasuk jihad dan lebih baik dari ibadah 60 tahun. Dengan bersedih atas kedatangan malaikat maut, maka itu menjadi penebus seluruh dosa. Ketahuilah, sesungguhnya rejeki makhluk sudah diatur oleh Allah Swt. Kesedihanmu tidak akan memberi pengaruh, kecuali engkau hanya diganjar atas itu. Jadilah pribadi yang pandai bersyukur, patuh, dan tawakkal. Maka engkau akan menjadi kekasih Allah Swt.

Kesedihan Salman ra. tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami Ali. Begitu juga, pesan Sayyidina Ali ra. pada Salman ra. hampir sama dengan pesan nabi padanya. Dalam artian, sebelum Salman mengalami itu, Sayyidina Ali sudah pernah merasakannya.

Rasulullah Saw. memerintahkan Sayyidina Ali untuk pandai bersyukur. Lalu beliau tanya, apa yang harus hamba syukuri wahai rasulallah? “Islam“, jawab nabi. Apa yang harus hamba lakukan?, tanya Ali lagi. “Katakanlah, la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adhim.” Lalu, apa yang harus hamba tinggalkan?, tanya lagi. “Marah. Karena itu dapat menghilangkan murka Tuhan dan memberatkan timbangan kebaikan, serta menuntun kita ke surga.”

Mendengar nasihat Sayyidina Ali ra., Salman menjadi tenang. Ia sangat berterima kasih pada beliau. Sayyidina Ali ra. berkata lagi padanya bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

Baca Juga :  Ibnu Taymiyyah dan Tasawuf sebagai Ijtihad

من لا يهتم للعيال فليس له للجنة نصيب

Barangsiapa yang tidak merasa susah (mementingkan) dengan urusan keluarga, maka ia tidak mendapat bagian surga.

Artinya, ketika kita tidak merasa sedih atau susah dengan urusan keluarga, maka jangan harap surga menjadi tempat terakhirnya. Baik kesedihan dalam masalah ekonomi keluarga, atau lebih-lebih dalam masalah agama.

Nasehat terakhir Sayyidina Ali ra. pada Salman Al-Farisi saat ia mengutip sabda nabi bahwa orang yang memiliki keluarga tidak akan beruntung selama-lamanya,

ليس كذلك ان كان كسبك من الحلال تفلح يا سلمان الجنة مشتقة الى اصحاب الهموم والغموم من الحلال

Bukan seperti itu maksud nabi. Sesungguhnya usahamu dalam mencari rejeki halal adalah sebuah keberuntungan. Wahai Salman, surga itu merindukan mereka yang susah (amat bersedih) dalam mencari rejeki halal.

Artinya, saat kita menemui banyak rintangan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, misal pekerjaan dianggap hina oleh kebanyakan orang, tergolong berat tapi hasilnya sedikit, yang penting itu halal maka akan mengantarkan kita ke surga. Allah Swt. tidak akan menilai seberapa bagus pekerjaan kita, tapi halal atau tidak yang kita kerjakan.

Sedih atau susah saat memenuhi kebutuhan pribadi atau keluarga adalah sebuah keberuntungan. Tidak perlu kita sesali, malah harus kita syukuri. Wallahua’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here