Di Zaman Modern Mengapa Umat Muslim Masih Gunakan Metode Ru’yat Hilal?

0
1175

BincangSyariah.Com – Bulan Ramadan akan segera berakhir, dan umat Muslim sedunia akan merayakan Hari Raya ‘Idul Fithr. Di akhir bulan Ramadan ini, salah satu aktivitas yang rutin dilakukan umat Muslim sedunia adalah melihat hilal (ru’yat al-hilal) untuk menentukan apakah esok hari sudah masuk bulan Syawal, atau masih bulan Ramadan. Caranya pun bermacam-macam. Di negara mayoritas Muslim, biasanya pemerintah pusat lah yang melakukan ru’yah, dan hasilnya kemudian diikuti oleh semua masyarakat Muslim negara tersebut. Sedangkan di negara dimana penduduk Muslim merupakan minoritas, seperti di Eropa dan Amerika, terdapat beberapa cara, diantaranya dengan mengikuti ru’yah Saudi Arabia, atau dengan perhitungan yang dilakukan oleh komunitas Muslim di negara nya. (Baca: Doa Sayidina Husain Ketika Melihat Hilal Bulan Baru)

Di zaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sedemikian pesatnya, sebagian umat Muslim mulai mempertanyakan relevansi ru’yat al-hilal. “Ini zaman iptek, kenapa masih harus lihat hilal?”. “Kenapa harus membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya untuk melihat hilal tiap tahun?”. “Kenapa tidak pakai kalkulasi (hisab) saja supaya lebih pasti?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap muncul di kalangan umat Muslim. Dalam banyak kasus, umat Muslim biasanya cukup toleran untuk masalah ini, yang mau menggunakan ru’yat hilal silakan, yang mau melakukan kalkulasi juga tidak masalah. Namun, dalam beberapa kasus, perbedaan seperti ini dapat menimbulkan gesekan di masyarakat.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Shaykh Hamza Yusuf, seorang ulama asal California, Amerika Serikat, menulis sebuah buku yang berjudul “Caesarean Moon Birth: Calculations, Moon Sighting, and The Prophetic Way”. Buku ini awalnya merupakan sebuah makalah yang beliau tulis pada tahun 2006 sebagai respon beliau terhadap keputusan Dewan Fiqih Islamic Society of North America (ISNA) yang memutuskan untuk menggunakan metode hisab dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fithr, sekaligus sebagai upaya untuk meredam perselisihan yang terjadi kala itu. Tulisan singkat ini akan mencoba merangkum pandangan beliau dalam buku tersebut.

Baca Juga :  Lima Fakta Poligami Rasulullah yang Perlu Diketahui

Yahudi dan Tradisi Pengamatan Bulan

Beliau mengawali bukunya dengan merujuk ke sejarah kaum Yahudi. Kaum Yahudi, sebagaimana umat Muslim, memiliki kalender sendiri (Hebrew Calendar) yang juga berdasarkan pada pergerakan bulan. Mereka juga menentukan awal bulan berdasarkan pengamatan, sebagaimana yang dilakukan mayoritas umat Muslim sejak dahulu hingga sekarang. Namun, dimasa kekuasaan Kaisar Romawi Constantinus, persekusi terhadap kaum Yahudi semakin meningkat, yang menyulitkan mereka untuk saling berkomunikasi menyampaikan hasil pengamatan bulan kepada sesama. Sebagai langkah menghadapi kesulitan tersebut, Rabbi Hilel II memperkenalkan metode kalkulasi pada tahun 358 M untuk menentukan awal bulan. Sejak saat itu, Kaum Yahudi mulai meninggalkan metode pengamatan dan mengadopsi metode kalkulasi dalam pembuatan kalender mereka.

Inilah, menurut Shaykh Hamza, yang membedakan antara umat Muslim dengan Yahudi. Kaum Yahudi telah meninggalkan tradisi mereka. Sedangkan keteguhan dalam melestarikan tradisi merupakan ciri khas umat Muslim. Meninggalkan tradisi ru’yah, menurut beliau, adalah mirip seperti kaum Yahudi yang meninggalkan ru’yah dan mengadopsi hisab. Nabi Muhammad Saaw diutus ke dunia untuk memurnikan tradisi agama Ibrahim yang telah disimpangkan oleh kaum Nasrani dan Yahudi. Menurut beliau, salah satu tradisi agama Ibrahim tersebut adalah menggunakan kalender bulan serta metode ru’yah untuk menentukan awal bulan.

Muslim, Ru’yah, dan Astronomi

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, umat Islam pada abad pertengahan memiliki peradaban paling maju di dunia, yang dalam literatur sejarah disebut sebagai The Golden Age of Islam. Semangat untuk mencari ilmu, serta dukungan dari pemerintah, membuat umat Muslim menjadi yang terdepan dalam pencapaian sains dan teknologi. Salah satu ilmu yang sangat berkembang pesat dalam masa kejayaan Islam adalah ilmu astronomi. Hal ini dikarenakan hampir semua ibadah ritual umat Islam berkaitan dengan waktu, seperti salat, puasa, dan Haji, dimana waktu itu sendiri didasarkan pada pergerakan benda-benda langit. Sehingga, dapat dikatakan bahwa umat Muslim memandang bahwa mempelajari ilmu astronomi merupakan ibadah.

Baca Juga :  Ini Dua Golongan Umat Manusia yang Paling Dibenci Allah Menurut Ali bin Abi Thalib

Beberapa ilmuwan astronomi terbaik sepanjang masa merupakan Umat Muslim. Contohnya Umar Khayyam. Beliau mampu membuat perhitungan tahun matahari dengan akurasi yang hampir setara dengan kalkulasi modern. Contoh lainnya adalah Abdurrahman Al Shufi, yang merupakan orang pertama yang mengamati perubahan warna bintang, menghitung pergerakan bintang serta menemukan Galaksi Andromeda. Kehebatan ilmuwan-ilmuwan astronomi Muslim juga diakui oleh ilmuwan modern.

Shaykh Hamza mengutip, Dr. David King, penulis buku Astronomy in the Service of Islam, yang menyatakan bahwa ilmuwan Muslim saat itu “mampu membuat perhitungan yang sangat rumit untuk menentukan penampakan benda langit, dan membuat tabel-tabel yang sangat canggih untuk membantu perhitungan mereka”.

Dengan kata lain, umat Muslim dimasa kejayaan Islam tidaklah masyarakat yang buat ilmu, melainkan sangat mumpuni dalam ilmu astronomi. Meski begitu, ulama-ulama di masa itu masih tetap menggunakan metode ru’yah dalam menentukan bulan. Tentu saja ini tidak bisa dianggap bahwa dengan tetap menggunakan metode ru’yah, para ulama tersebut kemudian menolak sama sekali hasil kalkulasi dari ilmu astronomi. Namun memang karena mereka beranggapan bahwa aktivitas ru’yah ini merupakan perintah agama.

Memang ada beberapa ulama yang sering dikutip pendapatnya untuk melegitimasi penggunakan metode hisab dalam menentukan bulan. Shaykh Hamza dalam buku tersebut meyebutkan ada lima, yaitu Mutharrif ibn Abdullah, Imam Ibn Surayj, dan Ibn Quthaybah dari generasi salafus shalih, serta Imam al-Subki dan Ibn Daqiq al-‘Id dari generasi berikutnya. Namun, Shakyh Hamza berpendapat bahwa jika dibaca secara objektif, kelima ulama tersebut tidak menyimpulkan bahwa metode hisab bisa menggantikan ru’yah, melainkan bahwa metode hisab diterapkan untuk menghitung hari ke-30 ketika langit tertutupi.

Umat Muslim di Zaman Modern dan Hikmah Ru’yah

Baca Juga :  Rukyah Hilal Idul Fitri

Menurut Shakyh Hamza, kecenderungan sebagian umat Muslim di zaman modern untuk meninggalkan metode ru’yah adalah karena light pollution. Karena light pollution, jarang sekali umat Muslim yang pernah mengamati terbitnya hilal dengan mata mereka secara langsung dan merasakan indahnya. Beliau mengutip Titus Burkhardt, seorang cendikiawan Muslim, yang menulis tentang kota Fez, Moroko. Beliau mengamati kehidupan kota tersebut pada tahun 1930-an. Pada senja di akhir bulan Sya’ban, orang-orang berbondong-bondong naik ke atap rumah mereka untuk mengamati terbitnya hilal. Ketika hilal benar-benar terbit (menandakan bahwa telah masuk Ramadan), mereka bersorak bahagia, karena di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saaw. Kebahagiaan tersebut terasa hingga ke seluruh penjuru kota.

Shaykh Hamza Yusuf menutup bukunya dengan mengajak pembaca untuk merenungi hikmah disyari’atkannya ru’yah. Bulan Ramadan adalah bulan dimana umat Muslim dilatih untuk bersabar. Ru’yah, menurut Shayhk Hamza, merupakan latihan kesabaran tersebut. Tuhan mengajak umat Muslim mau bersabar menunggu datangnya bulan mulia tersebut, apakah esok hari, atau esok lusa, dengan bersama-sama memandang langit, mengagumi indah dan agungnya ayat-ayat Tuhan yang bersebaran di angkasa. Sungguh aneh ketika umat Muslim malah “memaksa” Tuhan untuk mengikuti jadwal kesibukan mereka dengan “menentukan sendiri” kapan datangnya bulan Ramadan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here