Di Tiongkok, Kami Menemukan Keramahan Saudara Muslim

0
83

BincangSyariah.Com – Keputusan untuk hijrah ke negara yang menganut sistem politik sosialis tentu menimbulkan banyak komentar negatif bahkan ada juga yang menyayangkan karena alasan ketakutan terhadap diskriminasi yang akan didapatkan sebagai seorang muslim. Terlebih Indonesia mempunyai sejarah buruk yang panjang kaitan dengan hubungan dengan Tiongkok sbg negara maupun sebagai ras, apalagi Ideologi komunisnya!

Tapi sejak menginjakkan kaki di Tiongkok, sejauh ini saya tidak merasa kesulitan menjalani hidup sebagai seorang muslim. Tentu tidak akan sebebas dan semudah di Indonesia, karena fasilitas beribadah pun terbatas di ruang-ruang privat atau mesjid yang jaraknya lumayan jauh. Kesulitan melakukan ibadah lebih terasa saat dalam perjalanan, tentu akan sulit mendapatkan mesjid.

Namun, saya dan suami di setiap tempat wisata selalu mencoba meminta izin kepada pihak pengelola untuk mendapat ruangan kosong untuk ibadah. Banyak diantaranya kesulitan memahami permintaan kami, tapi pada suatu waktu kami sangat bersyukur bisa bertemu dengan salah seorang pengelola tempat wisata yang angat ramah dan terbuka untuk kami melaksanakan ibadah. Tidak hanya menyiapkan ruangan kosong yang besar dan nyaman, beliau pun sampai memberikan kita minuman. Bahkan beliau sampai minta berfoto bersama, tidak lupa berbincang-bincang santai dan ringan. Dari situ kami merasa toleransi beragama di sini terbangun cukup baik, asalkan diantara pemeluk agama saling menghargai satu sama lain.

Untuk mendapatkan makanan halal pun tidak sulit. Di setiap toko swalayan telah tersedia berbagai macam produk dengan label halal. Baik menggunakan tulisan arab (halaal) maupun bahasa mandarin 清真 (label halal dr otoritas Tiongkok). Restoran halal seperti Lanzuo Lamien pun banyak, termasuk kantin halal di dalam kampus.

Dalam foto di bawah ini, kami berfoto bersama Malik, salah satu pengelola lanzhuo lamien di Chongqing. Dia berjualan bersama keluarganya. Salah satu yang sangat dekat kami bernama Ali. Seringkali kami ngobrol membahas kondisi muslim baik di Tiongkok mauoun Indonesia. Tidak jarang Ali memberikan kami makanan secara gratis! Kami sering merasa tidak enak, karena bukan sekali dua kali Ali memberikan kami makanan gratis. Tapi setiap kami ingin membayar, dia selalu berkata “kita adalah saudara muslim.” Saya seketika terharu, bahwa dalam perantauan sejauh ini saya masih bisa merasakan kehangatan saudara, khususnya persaudaraan sesama muslim. Masya Allah.

Baca Juga :  Ribut Netizen Soal Film The Santri dan Livi Zheng yang Kurang Nyantri


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here