Di tengah Merebaknya Paham Radikal, Mbah Maimoen Zubair Tekankan Pesan-Pesan Kebangsaan Ini

0
966

BincangSyariah.Com – Beberapa hari lalu, saya mendapat screenshot berbahasa Arab yang berisi pesan K.H. Maimoen Zubair, kiai kharismatik dari Rembang, Jateng. Pesan tertulis itu dibacakan pada acara peringatan Maulid Nabi oleh Pengurus Pusat GP Anshor di hadapan Presiden Jokowi. Isinya ya tentang pandangan beliau terhadap kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini.

Setelah membaca pesan yg ditulis dalam bahasa Arab ini, saya mendapat beberapa kesan. Pertama, Mbah Moen itu ulama nasionalis. Cinta bangsa dan negaranya. Berharap agar bangsanya terus maju (irtiqa) dan jauh dari perpecahan.

Kedua, Mbah Moen adalah ulama yang alim, arif, dan senantiasa menghendaki yang terbaik untuk umat. Pesan beliau tulis dalam bahasa Arab. Tidak ditulis dalam bahasa Indonesia kemungkinan agar tidak gampang dipahami oleh orang awam, yang latah dan gampang percaya pada berita hoax. Lalu memviralkannya sedemikian rupa.

Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa paham. Beliau menjelaskan tentang perkara-prinsipil dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara sesuai tujuan Islam. Hanya orang yang pernah belajar ilmu ushul fikih secara mendalam yang dapat mengerti tentang falsafah syariat Islam ini.

Ketiga, beliau mengkontekstualisasikan falsafah syariat Islam (maqashid shariah) ke dalam kehidupan bernegara kita. Ini menunjukkan sifat kenegarawanan beliau. Beliau bukan saja kiai, tapi juga negarawan (statesmen). Seorang pemikir tradisional-progresif.

Keempat, beliau mewanti-wanti agar waspada terhadap gerakan yang mengajak kepada pendirian negara khilafah, upaya menciptakan kekacauan dan teror. Beliau menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak mengerti pada ideologi perjuangan para sahabat (ma’rifat tamassuk ma alaih al-awwalun minal muhajirin wal anshar wa man ittaba’uhum). Berikut ini beberapa poin yang bisa dirangkum dari tulisan beliau.

Menurut beliau, umat manusia selalu dipenuhi dinamika perubahan. Beliau percaya bahwa kehidupan selalu menuju arah yang lebih maju dan berperadaban. Ini ditunjukkan oleh perang dunia kedua, tragedi kemanusiaan global, yang berbuah kemerdekaan bangsa Indonesia yang patut disyukuri.

Baca Juga :  Kasidah Burdah: Syair Cinta Untuk Sang Rasul

Bangsa Indonesia lalu membentuk negara yang tidak melupakan Tuhan (hablum minallah), seraya mengakui keragaman realitas sosial (hablum minan nas). Mempraktikkan prinsip hablum minallah tidak dapat dilepaskan dari praktik hablum minan nas. Bahkan menjadi ketentuan yang tak terpisahkan.

Salah satu bentuk implementasi hablum minan nas adalah mewujudkan keadilan. Mbah Moen menghubungkan keadilan dengan maqashid shariah atau lima unsur penting dalam kehidupan yang menjadi pertimbangan dalam semua (perumusan) hukum syariat. Yaitu (1) keselamatan jiwa, (2) penghargaan terhadap akal pikiran, (3) penghargaan terhadap kehendak manusia untuk diakui dan bersosialisasi, (4) kebutuhan materil, dan (5) meneruskan keturunan.

Mbah Moen memuji Allah karena menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa pertama yang berhasil memerdekakan diri dari penjajahan. Dan mendirikan negara di atas mabadi’ khamsah dalam kehidupan bernegara. Mabadi khamsah berarti lima prinsip atau lebih dikenal dengan Pancasila. Yaitu ketuhanan (al-uluhiyyah), kemanusiaan (al-insaniyyah), persatuan bangsa Indonesia (wahdah sha’b indunisi), demokrasi kebangsaan (al dimuqrathiyyah al-sha’biyyah), keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia (al-adalah al-ijtima’iyyah lil ummah al-indunsiah bi asriha).

Mbah Moen bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia masih diberi konsistensi menegakkan prinsip-prinsip kebangsaan tadi sampai hari ini. Namun beliau menyampaikan keprihatinan melihat kondisi sosial belakangan. Beliau menyebut kondisi saat ini dengan al-huznus syadid (keprihatinan yang mendalam).

Yaitu munculnya perbedaan pendapat sesama anak bangsa. Beliau menyesalkan ada sebagian orang yg sedang berupaya menciptakan kegaduhan (thawa’if tubashir bi ihdath al-fitan). Mereka adalah orang-orang yang mengaku membela Islam dan umat Islam. Lebih disesalkan lagi karena mereka berkolaborasi dengan kaum teroris-ekstrimis (al-irhabiyyun al-mutatharrif). Beliau mengakhiri keprihatinannya dengan membaca istirja’, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Dalam pengamatan Mbah Moen, ternyata mereka punya agenda yang lebih luas yaitu mendirikan khilafah islamiyyah, padahal mereka adalah orang-orang yg tidak mengenal apa yang menjadi pegangan generasi muslim pertama. Kaum muhajirin dan anshor. Mbah Moen mengakhiri pesannya dgn memuji Allah Swt. yang telah menunjukkan yang benar.  Bahwa yang benar adalah yang sesuai dengan tuntunan bapak para nabi, Nabi Ibrahim As. seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :  Mengingat Allah di Manapun Berada

على العاقل ان يكون عارفا بزمانه مستقبلا في شأنه عارفا بربه

Orang pintar harus paham kondisi zaman. Melakukan yang terbaik untuknya. Seraya mengingat Tuhan.

Lalu,  Mbah Moen menutup pesan nya dgn mendokan bangsa Indonesia. Semoga beliau senantiasa dijaga Allah, dipanjangkan umurnya, dan memberi kita suluh untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here