Darus Sunnah: Pesantren Pencetak Ahli Hadis Indonesia

3
2480

BincangSyariah.Com – Hadis di Indonesia, tidak hanya dikaji di lembaga formal saja seperti di Universitas Islam Negeri, IAIN, dan STAIN, tetapi hadis juga dikaji di lembaga nonformal, seperti pesantren. Bahkan ditengok dari segi lahirnya, institusi nonformal jauh lebih dahulu lahir dari pada institusi formal.

Namun keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Institusi fomal unggul dalam pengajaran dan penelitian, tetapi lemah dalam periwayatan hadis dan pendidikan moral. Sementara institusi nonformal unggul dalam periwayatan hadis dan pendidikan moral, tetapi lemah dalam penelitian.

Situasi ini berakibat secara umum sulit melahirkan ahli hadis yang berkualitas, baik secara ilmiah maupun moral. Oleh karena itu KH. Ali Mustafa Ya’qub pada tahun 1997 mendirikan Pesantren Darus Sunnah di Pisangan Barat, Ciputat yang spesialis mempelajari Hadis dan Ilmu Hadis untuk mahasiswa. Beliau mencoba menggabungkan antara keunggulan metode pengajaran institusi formal dan nonformal dalam pesantren yang diasuhnya. Sehingga diharapkan lahir ahli hadis yang berkualitas baik ilmiah maupun moralitas.

Pesantren ini semula bernama Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah (Ma’had Darus Sunnah al-Daulī li ‘Ulūm al-Hadīth). Namun sejak membuka cabang di Janda Baik Pahang Malaysia tahun 2010, maka tahun 2011 pesantren ini berubah nama menjadi Darus-Sunnah International Institute for Hadith Science.

Kitab-kitab yang diajarkan adalah kitab hadis yang enam (Al-Kutub As-Sittah). Adapun kitab-kitab ilmu hadis yang diajarkan meliputi mustalah hadis, takhrij hadis, dan metode memahami hadis antara lain kitab Tadrīb al-Rāwī karya al-Suyūṭī, Taisīr Muṣṭalaḥ al-Ḥadītsdan Uṣūl al-Takhrīj wa Dirāsat al-Asānīd karya Maḥmūd al-Ṭaḥḥān, Takwīl Mukhtalaf al-Ḥadīth karya Ibn al-Qutaibah, dan lain-lain.

Di samping materi hadis dan ilmu hadis, di pesantren ini juga diajarkan Dirāsāt Islāmiyyah seperti tauhid, fiqh, ushul fiqh, balaghah, dan lughah ‘Arabiyyah, serta bahasa Inggris. Sementara para mahasantri diwajibkan menghafal Al-Qur’an satu juz untuk setiap semester. Sistem pengajaran yang diterapkan dalam pesantren yang menggunakan kata pengantar bahasa Arab dan Inggris ini adalah sistem sorogan (al-qirā’ah alā al-syaīkh).

Baca Juga :  Dinasti Ayyubiyyah: Dari Memberontak Fatimiyyah sampai Saling Berebut Kekuasaan antar Keluarga

Adapun jadwal mengajinya adalah setelah salat Isya’ yang diisi dengan mudzakarah/belajar bersama mengkaji kitab-kitab yang akan dipelajari esok paginya bersama ustaz. Dalam proses belajar di mudzakarah ini, para santri membuat halaqah-halaqah kelompok belajar yang disebut dengan usrah (keluarga). Dan masing-masing usrah beranggotakan beberapa santri yang tiap santri akan mendapatkan jadwal bergilir untuk menerangkan isi kitab yang sedang dipelajari.

Selain itu jadwal mengajinya juga diadakan setelah salat Subuh yang mengkaji kitab yang telah dipelajari malam harinya. Namun didampingi oleh ustaz/ustazah yang menyuruh beberapa mahasantri untuk membaca kitab yang dikaji hari itu, lalu beliau akan menerangkan isi dan maksudnya.

Pesantren ini lebih mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Oleh karena itu, sistem penerimaan mahasantri baru diseleksi dengan ketat, melalui tes tulis yang meliputi pengetahuan agama, ilmu hadis, hadis, dan toefl. Serta tes lisan yang meliputi tes baca kitab kuning, bahasa Inggris, ilmu hadis, dan wawancara. Kuota yang ditampung biasanya hanya sekitar 15-20 mahasantri putri, dan 20-25 mahasantri putra setiap tahunnya. Sejak didirikan sampai tahun 2018, pesantren ini telah meluluskan 350 lebih sarjana dengan ijazah Lisence (Bachelor) dalam ilmu Hadis. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here