Ini Tempat Pertama Rasulullah Berangkat untuk Isra Mi’raj

1
1656

BincangSyariah.Com – Darimana Rasulullah Saw diberangkatkan pada malam peristiwa Isra Mi’raj? Keterangan tentang masalah ini berkaitan erat dengan penafsiran terhadap penggalan dari ayat pertama surah al-Isra berikut ini:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ

Artinya:  Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram. (Q.S: al-Isra’ {17}(1)).

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Isra Nabi dimulai dari al-Masjid al-Haram. Perbedaan pendapat dalam masalah ini muncul dari perbedaan cara dalam menafsirkan apa yang dimaksud dengan al-Masjid al-Haram dalam ayat di atas.

Ibnu Jarir al-Thabari dalam tafsirnya (14/414) menjelaskan bahwa ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Nabi diberangkatkan dari masjid, artinya keterangan al-Masjid al-Haram pada ayat di atas memang bermakna masjid, jadi saat hendak diberangkatkan untuk Isra Mi’raj, Nabu Muhammad Saw sedang berada di sana.

Pendapat ini didukung oleh beberapa riwayat diantaranya sebuah riwayat dari Malik bin Sha’sha’ah bahwa Nabi pernah bersabda:

بينا أنا عند البيت بين النائم واليقظان، إذ سمعت قائلا يقول أحد الثلاثة، فأتيت بسطت من ذهب فيها من ماء زمزم فشرح صدرى إلى كذا وكذا

Artinya: kala itu saya sedang berada di ka’bah, dalam kondisi antar tertidur dan jaga. Lalu aku mendengar ada seseorang yang berbicara. lalu aku diperlihatkan sebuah permadani dari emas dan di dalamnya terdapat air zamzam, lalu dadaku dibelah menjadi demikian dan demikian”

Keterangan di atas secara tegas menunjukkan bahwa Nabi diberangkatkan dari Masjidil Haram dan sedang berada di dekat ka’bah.

Sebagian ulama berpendapat bahwa pada malam peristiwa Isra Mi’raj, Nabi menginap di rumah sepupu beliau Ummu Hani’, anak dari Abi Thalib. keterangan al-Masjid al-Haram pada ayat ini dipahami maknanya adalah tanah haram secara umum, karena seluruh kawasan tanah haram juga dapat disebutkan sebagai masjid. Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat dari Ummu Hani’ sendiri yang menyebutkan:

مَا أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا وَهُوَ فِي بَيْتِي نَائِمٌ عِنْدِي تِلْكَ اللَّيْلَةَ ، فَصَلَّى الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ، ثُمَّ نَامَ وَنِمْنَا ، فَلَمَّا كَانَ قُبَيْلَ الْفَجْرِ أَهَبَّنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا صَلَّى الصُّبْحَ وَصَلَّيْنَا مَعَهُ قَالَ:  يَا أُمَّ هَانِئٍ لَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَكُمُ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ كَمَا رَأَيْتِ بِهَذَا الْوَادِي ، ثُمَّ جِئْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَصَلَّيْتُ فِيهِ ، ثُمَّ صَلَّيْتُ صَلَاةَ الْغَدَاةِ مَعَكُمُ الْآنَ كَمَا تَرَيْنَ

Artinya: Saat Rasulullah Saw diisra’kan, beliau tidur di rumahku malam itu. Beliau shalat isya terakhir, lalu beliau tidur dan kami juga tidur. Pada saat fajar tiba, beliau membangunkan kami, beliau shalat shubuh dan kami shalat bersama beliau. Beliau berkata, “wahai Ummu Hani’ sungguh kalian melihatku semalam tadi shalat isya di sini, lalu setelahnya aku dibawa ke baitul maqdis dan shalat di sana. Lalu hari ini aku kembali shalat bersama kalian seperti yang engkau lihat”.

Al-Thabari sendiri setelah menguraikan pendapat dan riwayat-riwayat dalam masalah ini menyimpulkan, “Pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah Nabi melakukan isra dari masjidil haram karena Al-Qur’an secara tegas menyebut dalam ayat. Orang Arab sendiri kala itu jika menyebut al-Masjid al-haram maka yang mereka pahami adalah masjidnya secara khusus bukan tanah haram secara umum.”

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here