Dari Perang Uhud, Kita Belajar Menyikapi Kekalahan

0
2038

BincangSyariah.Com – Rasulullah saw dan para sahabat adalah manusia-manusia pilihan Allah swt. Rasulullah merupakan orang yang menerima wahyu dan para sahabat adalah orang-orang yang menyaksikan pewahyuan. Mereka secara langsung mendapatkan bimbingan dari Allah swt melalui wahyu. Adakah orang-orang yang seberuntung mereka? Penulis rasa kita semua selaku umat Islam menginginkan posisi para sahabat. Menjadi saksi mata keagungan akhlak dan budi pekerti Rasulullah saw.

Meski Rasulullah saw adalah manusia teragung yang pasti ma’shum (terlindungi) dari segala kesalahan dan dosa, bukan berarti beliau tidak pernah mengalami kekalahan dari musuhnya. Kita bisa buka kitab-kitab sirah nabawiyyah yang jumlahnya ribuan jilid itu untuk meneladani sikap Rasulullah saw dan para sahabat dalam menghadapi kekalahan.

Dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibnu al-Atsir, kita bisa temukan kisah Perang Uhud yang menceritakan kekalahan pasukan Nabi saw. Diceritakan bahwa pasca kekalahan Perang Badar pada tahun 2 H, kaum Quraisy segera menyiapkan serangan balasan yang lebih dahsyat. Setahun lamanya mereka menyiapkan serangan sehingga berhasil mengumpulkan 3000 pasukan dan berangkat menuju Madinah.

Mendengar pasukan musuh telah melakukan perjalanan selama tiga hari, Rasulullah saw pada hari Jumat mengumumkan untuk bersiap-siap untuk berperang di jalan Allah swt. Di hari Sabtu pasukan Muslim berjumlah 1000 orang telah siap dan berangkat menuju Uhud, demi menghindari perperangan di wilayah Madinah.

Sesampainya di Uhud, orang-orang munafik yang dikepalai Abdullah bin Ubay bin Salul menghasut sebagian pasukan agar pulang ke Madinah, karena tidak kunjung menemukan tanda-tanda pasukan musuh.  Akhirnya sebanyak 300 pasukan pulang.

Menghadapi kondisi seperti itu, Rasulullah saw melarang sahabat untuk memerangi pasukan yang membelot. Pasukan Muslim tetap tegar dan setia membela agama Islam.

Baca Juga :  Hukum Memanjangkan Kuku

Singkat cerita, akhirnya meletuslah peperangan antara 3000 pasukan kaum kafir Quraisy dan sekitar 700 pasukan Muslim di medan Uhud. Belajar dari pengalaman Badar, pasukan Muslim berhasil memukul mundur pasukan Quraisy meskipun kalah jumlah. Hal ini didukung dengan kehebatan dan kedisiplinan pasukan memanah yang sembunyi di balik bukit.

Melihat kemenangan sudah terlihat di depan mata, banyak harta yang ditinggalkan pasukan kafir Quraisy, pasukan memanah ini pada akhirnya terlena dan meninggalkan tempat persembunyian. Padahal, Rasulullah saw telah berpesan untuk tidak meninggalkan tempat bagaimana pun keadaannya. Bahkan sebagian mereka mengajak orang-orang yang masih tinggal di tempat.

“Kami mentaati perintah Rasulullah, Kami akan tetap tinggal!” tegas pasukan yang tetap di tempat.

Melihat pasukan pemanah yang sudah terpecah, Khalid bin Walid (sebelum Islam) berhasil memanfaatkan keadaan dengan menyerang pasukan yang tersisa. Sehingga pasukan Muslim pun tersudut.

Atas peristiwa ini, menurut Ibnu al-Atsir, turunlah Q.S Ali Imran: 152,

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nyu kepadamu, ketika kamu telah memerangi mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan ada pula yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah swt memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkanmu. Dan Allah mempunyai karunia kepada orang-orang mukmin.”

Baca Juga :  Semiotika dalam Ayat-ayat Alquran

Ibnu Mas’ud sebagaimana dikutip oleh Ibn al-Atsir berkata: “Aku tidak tahu bahwa di antara para pasukan perang Uhud ada orang yang hanya mengharapkan duniawi sehingga turun ayat ini.”

Apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa perang Uhud adalah tentang kesabaran. Sabar dalam menaati peraturan yang telah digariskan. Sabar dalam melakukan tindakan apa pun dan tidak tergesa-gesa melihat kemenangan yang hanya ilusi dan bersifat duniawi.

Begitu pun dengan peristiwa politik akhir-akhir ini. Sebaiknya para elit politik perlu berbesar hati dalam menyikapi hasil Pemilu. Tidak tergesa-gesa dalam melakukan tindakan, apalagi dari informasi yang bersifat sementara. Kekuasaan hanyalah dunia semata. Seharusnya elit politik bisa menjadi teladan umat dan rakyat untuk menaati peraturan, sebagaimana dicontohkan oleh sebagian pemanah yang tetap tinggal di barisannya. Bukan malah menjadi seperti sebagian pemanah lain yang terburu-buru dan tidak menggubris aturan Rasulullah saw.  Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here