Dari Mana Kata Sanubari Mulai Masuk ke dalam Bahasa Indonesia?

0
1798

BincangSyariah.Com – Melacak dari mana kata sanubari masuk ke dalam bahasa Indonesia menarik sekali. Masuknya kosakata ini ke dalam bahasa Indonesia dapat disimpulkan menjadi tanda bahwa kitab kuning dan khazanah Islam telah punya peran penting dalam pemerkayaan kosakata bahasa Indonesia.

Kata sanubari berasal dari kata “shanaubar” (Arab: shad-nun-waw-ba’-ra’) dalam bahasa Arab. Tapi anehnya, dalam bahasa Indonesia artinya hati nurani. Padahal arti awalnya bahasa Arabnya berarti “kacang pinus” atau “kerucut pinus.” Nah, pergeseran makna yang sangat jauh ini yang ingin saya coba dijelaskan.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, karya besar oleh Imam al-Ghazali dari awal abad ke-12 yang berisi tentang akhlaq dan tasawuf, ia mengatakan bahwa kata “qalbu” ada dua arti: jasmani (yaitu jantung) dan rohani (yaitu hati nurani). Bagi yang pertama, ia mendefinisikan qalbu jasmani sebagai,

اللحم الصنوبري الشكل

daging yang berbentuk seperti kacang/kerucut pinus.

Jadi awalnya, kata “shanaubar” hanya digunakan sebagai ibarat bagi bentuk fisik dari jantung (qalbu jasmani). Bisa dipahami bagaimana kata ini bisa masuk ke dalam bahasa Indonesia, karena kitab ini memang sangat terkenal di nusantara.

Akan tetapi, waktu pertama kali penulis menyebut observasi ini di Facebook pada tahun lalu, penulis mengklaim bahwa al-Ghazali adalah satu-satunya ulama Arab yang menggunakan sifat “shanaubari” untuk menggambarkan jantung (berdasarkan penelusuran yang terbatas di situs ini). Dalam karya-karyanya, al-Ghazali memang sangat pintar mengibaratkan maksudnya dengan contoh sederhana. Tapi kesimpulan itu salah.

Untuk meluruskan asumsi ini, untungnya di kolom komentar postingan ada sedikit pencerahan dan masukan dari dua ulama nusantara kontemporer yang ahli dalam tulisan al-Ghazali.

Ulil Abshar Abdalla (ulama asli Pati yang terkenal ngaji Ihya secara online) memberi dua sumber lain yang juga menggunakan “shanaubari” untuk jantung, yaitu dari karya Ibn Farisyta dalam Roudhatu al-Muttaqin fi Mashnu’at Rabb al-‘Aalamiin dan Syeikh Zada dalam karyanya Hasyiyatu Zaadah ‘ala at-Tafsir al-Baydhowi, dua ulama bermazhab Hanafi dari abad ke-15 dan 16. Setelah ditulusuri lebih jauh, ternyata Ibn Farisyta mengutip langsung dari al-Ghazali dalam tulisannya. Dalam kasus Syeikh Zada, ia tidak hanya menggunakan kata “shanubari” untuk menggambarkan sifat jantung, tapi ia juga menggunakannya sebagai sinonim bagi jantung, seperti ketika ia menulis “di dalam rongga shanaubari” dan “bagian kiri dari daging shanaubari.” Ini mungkin menunjukkan bahwa pada abad ke-16 penggunaan istilah “shanaubari” bagi jantung sudah umum.

Baca Juga :  Siapakah Ulama Pewaris Para Nabi?

Tapi setelah penelitian yang lebih lanjut itu, penulis dulu masih kira bahwa Imam al-Ghazali adalah pelopor istilah ini yang nanti dikutip oleh para ulama di abad-abad berikutnya. Tapi asumsi itu salah juga, dan ini hanya diluruskan dengan masukan dari seorang ahli al-Ghazali yang lain, yaitu Kiai Muhammad Ma’mun (pengurus PP Al-Falah di Silo, Jember). Beliau menjelaskan bahwa al-Ghazali mengambil banyak konsep dari Ibnu Sina (Avisenna), seorang filsuf dan dokter yang hidup satu abad sebelum al-Ghazali, jadi mungkin akar fenomena ini bisa dilacak lebih jauh ke karya-karyanya.

Beliau betul, karena ternyata al-Ghazali mengambil penggambaran ini dari Ibnu Sina, yang menggunakannya dalam kitab klasiknya dalam bidang kedokteran, yaitu al-Qanun fi al-Tibb. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh lagi, ternyata Ibnu Sina sendiri juga mengambilnya dari seorang ahli kedokteran Yunani kuno, yaitu Galenus, yang hidup pada abad ke-2. (Notabene, tulisan Galenus ini yang menyamakan bentuk jantung dengan kerucut pinus juga menjadi alasan kenapa dalam tradisi Barat jantung diberi simbol ❤️, yang ada kerucut di bagian bawahnya.)

Akan tetapi, dari semua ulama dan ahli kedokteran itu, hanya Imam al-Ghazali yang karyanya terkenal di nusantara. Maka, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa kata “sanubari” dengan arti “hati nurani” masuk ke dalam bahasa Indonesia lewat penyebaran tulisan al-Ghazali. Nah, ini berarti sebuah kosakata masuk hanya lewat santri-santri yang ngaji Ihya Ulumuddin, lalu mulai menggunakannya sebagai kata yang puitis untuk hati nurani.

Ini begitu luar biasa, jika dibandingkan dengan masuknya kebanyakan kosakata yang lain dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, seperti “sehat” dari shihhah. Kata itu umum digunakan dalam bahasa Arab dan lalu diangkat sebagai kata baru di bahasa Indonesia, di mana ada sangat banyak orang yang belajar bahasa Arab. Itu wajar. Tapi dalam kasus kata “sanubari,” ini hanya digunakan dalam situasi khusus dalam sebuah kitab kuning dan tetap mampu masuk bahasa lain di negeri seberang samudra! Betapa pentingnya dan berpengaruhnya karangan Imam al-Ghazali itu!

Baca Juga :  Dosa Itu Seperti Titik Hitam di Hati, Ini Penjelasan Ulama

Dan anehnya, walaupun al-Ghazali menggunakan “shanaubar” untuk qalbu yang jasmani (jantung), sanubari masuk bahasa Indonesia dengan arti yang sebaliknya: qalbu yang rohani (hati nurani). Iya maklumlah, sepertinya dalam bahasa Indonesia kosakata yang berasal dari bahasa Arab mungkin terasa lebih spiritual.

Penulis masih meminta masukan kalau ada pembaca yang tahu tentang kitab atau sumber lain yang menggunakan istilah “shanaubari” untuk jantung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here