Dalam Memulai Perjalanan Menghadap Tuhan, Manusia Terbagi Menjadi Tiga Golongan

0
840

BincangSyariah.Com – Seorang hamba sejak menginjakkan telapak kakinya di dunia ini, maka ia telah mulai perjalanan menghadap Tuhan. Lama perjalanannya adalah sepanjang usia yang ditetapkan baginya. Sebagaimana Ibnu Qayim al-Jauzi dalam kitab Thariq al-Hijratain wa Bab al-Sa’adatain menyebutkan bahwa umur bagaikan waktu perjalanan seorang hamba di dunia ini untuk menghadap kepada Tuhannya.

Di mana Allah Swt menempatkan hari-hari beserta malamnya sebagai fase-fase perjalanannya dan hanya musafir yang cerdik yang dapat mengambil pelajaran dari setiap fase perjalanan yang dilaluinya, Ibnu Qayim mengklasifikasikannya ke dalam tiga golongan:

Pertama, orang yang menganiaya diri sendiri sebab dosanya lebih banyak dibandingkan kebaikannya. Orang yang berbuat aniaya terhadap diri sendiri lambat mempersiapkan perbekalannya dan tidak cukup untuk mengantarkannya sampai ke rumah kedamaian. Meskipun demikian, ia telah membawa perbekalan yang dapat membantunya menghadapi rintangan selama perjalanan. Ia akan menghadapi rintangan yang ada dengan perbekalan seadanya.

Kedua, golongan pertengahan yaitu dosa dan kebaikannya berimang. Mereka adalah orang yang membekali dirinya dengan perbekalan yang sekedar cukup untuk mengantarkannya sampai ke rumah kedamaian, tapi ia tidak membekali diri dengan yang merugikannya. Orang semacam ini selamat sampai tujuan, akan tetapi kehilangan untuk mendapatkan keuntungan  berupa rahmat yang dijanjikan Allah kepada setiap hamba-Nya.

Ketiga, golongan yang berlomba-lomba berbuat baik dengan izin Allah. Adapun orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan adalah orang yang memiliki tekad dan semangat kuat untuk mendapatkan rahmat yang berlimpah dari Allah di akhirat. Sehingga mereka berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt dan mendapatkan nikmat yang dijanjikan di surga kelak.

Ketiga golongan ini menyiapkan diri untuk dapat kembali kepada Allah SWT, akan tetapi mereka memiliki tingkatan yang berbeda dalam mempersiapkan perbekalan, pemilihan bekal sehingga dalam hal berjalan melintasi jembatan shirath menuju surga berbeda pula dari segi cepat dan lambatnya.

Baca Juga :  Hari Raya Ketupat; Khazanah Islam Nusantara yang Terus Dilestariskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here