Dakwah Secara Rahasia dan Sahabat-sahabat yang Pertama Kali Masuk Islam

0
1198

BincangSyariah.Com – Pada mulanya seruan dakwah Nabi Muhammad saw. untuk mengajak kaumnya masuk Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. Beliau melakukannya dengan hati-hati karena khawatir orang-orang Arab kaget dengan adanya perkara yang berat ini, yang akibatnya sulit bagi mereka untuk memeluk agama yang dibawanya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. tidak mengajak atau menyeru kecuali kepada orang-orang yang dapat dipercaya.

Adapun orang-orang yang pertama menyambut seruan Nabi Muhammad saw. dan mau masuk agama Islam di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, Khadijah binti Khuwailid r.a. Ia adalah istri Nabi Muhammad saw. sendiri, bahkan ialah yang pertama kali mendengar langsung kabar bahwa suaminya telah diangkat sebagai utusan Allah swt. sekaligus menerima wahyu pertamanya di Gua Hira’. (baca di sini).

Kedua, Ali bin Abi Thalib. Ia adalah anak Abu Thalib sekaligus ponakan Nabi Muhammad saw. sendiri. Ia diasuh oleh Nabi Muhammad saw. sejak kecil untuk meringankan beban Abu Thalib yang memiliki anak yang banyak dan pada saat itu paceklik sedang menimpa orang-orang Arab Quraisy.

Ketiga. Zaid ibnu Haritsah bin Syurahbil Al-Kalby. Ia adalah mantan budak atau hamba sahaya Nabi Muhammad saw. sendiri. Zaid dikenal juga dengan nama Zain bin Muhammad karena sewaktu Nabi Muhammad saw. membelinya, beliau langsung memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak angkat. Pada saat itu, anak angkat kedudukannya sama dengan anak kandung dalam hal mewarisi dan diwarisi.

Keempat, Ummu Ayman. Ia adalah salah satu pengasuh Nabi Muhammad saw. ketika masih bayi. Ia kemudian menikah dengan Zaid bin Haritsah, mantan budak Nabi Muhammad saw.

Kelima, Abu Bakar bin Abi Quhafah. Sebelum masa kenabian, ia sangat akrab dengan nabi Muhammad saw. Ia memiliki akhlak yang mulia dan belum pernah berkata dusta sejak ia bergaul dengan Rasulullah saw. Ketika Nabi Muhammad saw. diangkat pertama kalinya menjadi utusan Allah swt., ia langsung percaya dan berkata, “Demi ayah, engkau, dan ibuku. Orang yang paling jujur adalah engkau. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusanNya.” Ia sudah dianggap Nabi Muhammad saw. sebagai wakilnya. Nabi saw. selalu bermusyawarah dengannya dalam semua hal. Nabi saw. pernah bersabda, “Aku belum pernah mengajak seseorang untuk masuk Islam melainkan masih ada ganjalan padanya, kecuali Abu Bakar.”

Baca Juga :  Kehidupan Muhammad Sebelum Diutus Menjadi Nabi

Keenam, Utsman bin Affan. Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar As-Shiddiq. Ketika Al-Hakam; pamannya mengetahui tentang keislamannya, maka ia mengikatnya dengan kuat, lalu berkata, “Apakah engkau benci dengan agama nenek moyangmu, hingga engkau memeluk agama yang baru itu? Demi Allah, aku tidak akan melepaskan ikatan ini hingga engkau meninggalkan agama yang baru engkau peluk itu.” Utsman pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah darinya.” Setelah Al-Hakam melihat keteguhan Utsman dalam memeluk agama Islam, ia pun melepaskan ikatannya.

Ketujuh, Az-Zubair bin Al-Awwam. Ia adalah putra dari Shafiyyah binti Abdul Muthallib. Pamannya ketika mendengar Az-Zubair masuk Islam langsung mengikatnya dan menyekapnya dengan asap supaya ia kembali kepada agama nenek moyangnya. Tetapi Allah swt. meneguhkan hatinya. Pada saat itu, Az-Zubair masih remaja dan belum mencapai usia baligh.

Kedelapan, Abdurrahman bin ‘Auf. Sebelum masuk Islam, namanya adalah Abdu ‘Amr, kemudian namanya diganti oleh Rasulullah saw. menjadi Abdurrahman.

Kesembilan, Sa’d bin Abi Waqqash. Ketika ibunya yang bernama Hamnah binti Abu Sufyan mengetahui tentang keislamannya, ia berkata kepada Sa’d, “Wahai Sa’d, aku mendengar bahwa engkau telah memeluk agama yang baru (Islam). Demi Allah, aku sekarang tidak mau dinaungi atap rumah, biar kepanasan dan kedinginan. Makanan dan minuman telah kuharamkan untukku sehingga engkau ingkar terhadap Muhammad.”

Hal itu berlangsung selama tiga hari tiga malam. Lalu Sa’d datang kepada Rasulullah saw. tentang problematikanya bersama ibunya. Maka, turunlah firman Allah swt. Q.S. Al-Ankabut/29: 8. Ayat tersebut berpesan bahwa agar Sa’d tetap berbuat baik kepada orang tuanya dan memuliakan mereka, baik mereka mukmin atau tidak. Namun, jika mereka memerintahkan Sa’d supaya berbuat musyrik, maka hal itu adalah dilarang oleh Allah swt.

Baca Juga :  Permulaan Turunnya Wahyu kepada Nabi Muhammad saw.

Kesepuluh, Thalhah bin Ubaidillah. Sebelumnya, ia telah mengetahui berita tentang Rasulullah saw. dan sifat-sifatnya dari para rahim/pendeta. Setelah diajak oleh Abu Bakar As-Shiddiq masuk Islam, ia juga telah mendengar secara langsung dari Rasulullah saw. tentang wahyu yang diturunkan kepadanya, dan ia melihat agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. mempunyai hujjah yang kuat serta jauh dari kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Arab, maka ia pun segera masuk Islam.

Kesebelas, Abdullah bin Mas’ud. Awalnya ia hanyalah seorang penggembala ternak milik penduduk kabilah Quraisy. Ketika ia mendengar ayat-ayat Al-Qur’an serta dakwah yang diserukan oleh Rasulullah saw., ia langsung meninggalkan berhala-berhala yang dulu ia sembah. Sejak saat itu, ia sering mengunjungi Rasulullah saw., bahkan siap melayani beliau. Ketika Rasulullah saw. berjalan, ialah yang selalu mengawalnya, ketika Rasulullah saw. mandi, ialah yang menutupinya. Saat Rasulullah saw. tidur, ialah yang membangunkannya, dan dialah yang memakaikan alas kaki Rasulullah saw. ketika beliau hendak bangun. Ia juga yang memegangi kedua alas kaki Rasulullah saw. saat beliau duduk.

Kedua belas, Abu Dzar Al-Ghifar. Ia adalah seorang Arab yang tinggal di daerah pedalaman. Ia fasih gaya bahasanya dan manis tutur katanya. Setelah Abu Dzar masuk Islam, ia terkenal sebagai orang yang paling jujur dalam berbicara dan paling zuhud terhadap masalah dunia. (baca di sini).

Ketiga belas, Sa’id bin Zaid Al-‘Adawiy Al-Qurasyi. Ia mempunyai dua orang istri, yaitu Fathimah binti Al-Khattab; saudara perempuan Umar bin Al-Khattab, dan Ummu Fadhl atau Lubabah binti Al-Harits Al-Hilaliyah; mantan istri Al-Abbas bin Abdul Muthallib.

Keempat belas, ‘Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthallib bin Hasyim. Ia adalah saudara misan Rasulullah saw.

Baca Juga :  Sejarah Kemunculan Dinasti Bani Umayyah dan Kemundurannya

Kelima belas, Abu Salamah bin Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi Al-Qurasyi. Ia adalah anak bibik Rasulullah saw.

Keenam belas, ketujuh belas, dan kedelapan belas; Utsman bin Mazh’un Al-Jumahiy Al-Qurasyi dan dua saudara lelakinya.

Kesembilan belas, kedua puluh, dan kedua puluh satu; Qudamah, Abdullah, dan Al-Arqam Al-Makhzumi Al-Qurasyi.

Kedua puluh dua, Khalid bin Sa’id. Ayahnya adalah seorang pemimpin terkemuka kabilah Quraisy. Pada mulanya, Khalid bermimpi dalam tidurnya seolah-olah dirinya akan terjatuh ke dalam suatu jurang yang sangat dalam. Tetapi, ia ditolong oleh Rasulullah saw. hingga selamat. Keesokan harinya, ia datang menemui Rasulullah saw. dan bertanya, “Apakah yang engkau serukan itu wahai Muhammad?” Beliau menjawab, “Aku mengajak engkau untuk beribadah kepada Allah swt. semata yang tidak ada sekutu bagiNya ….”  Akhirnya Khalid bin Sa’id masuk Islam.

Kedua puluh tiga, ‘Amr bin Sa’id; saudara laki-lakinya Khalid bin Sa’id.

Demikianlah di antara para kerabat dan sahabat Nabi saw. yang pertama kali masuk Islam. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Sumber: Kitab Nurul Yaqin Fii Siirati Sayyidil Mursalin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here