Dajjal Makhluk Fiktif atau Nyata?

6
5671

BincangSyariah.Com – Beberapa hari terakhir, viral sebuah ceramah yang dilakukan seorang Ustadz. Di mana di dalam ceramah tersebut ada penyematan kata Dajjal; terhadap sebuah kelompok. Padahal belum tentu tuduhan tersebut akurat. Persoalannya, apakah dajjal itu orang atau sifat. Jawaban atas pertanyaan ini banyak ragam tafsiran atas hadis-hadis nabi dan pendapat para ulama.

Dalam beberapa hadis nabi secara eksplisit disebutkan seseorang bernama Dajjal. Bisa dikatakan keberadaannya sampai saat ini belum diketahui. Pasalnya, dalam beberapa hadis nabi diceritakan banyak sahabat juga seolah-olah melihatnya. Bahkan ia malah dikenal dengan nama Ibn al-Shiyyad. Padahal itu belum tentu orang yang sama seperti dimaksud Nabi.  

Sebenarnya bagaimana Dajjal diceritakan dalam hadis nabi? Sosok tersebut sering kali dipersonifikasikan sebagai musuh terbesar umat Islam. Hadis-hadis yang berbicara tentang Dajjal lebih sering bersifat eskatologis. Banyak sekali hadis menceritakan bahwa keberadaan Dajjal sudah dikenal sejak zaman sebelum nabi Muhammad Saw.

Hadis-hadis yang berbicara tentang Dajjal cukup banyak terdapat dalam Kutub al-Tis’ah (Sembilan kitab-kitab Hadis). Di antaranya Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Abi Daud, Sunan Abi Daud.

Para ulama Mukhariul Hadis mengategorikan hadis-hadis Dajjal dalam bab al-Fitan wa Asyrath al-Sa’at (Kekacauan dan Tanda-tanda hari Kiamat). Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Dajjal adalah sosok yang hadir di akhir zaman. Ia muncul saat banyaknya kekacauan yang terjadi di atas muka bumi.

Di antara hadis yang populer menyebut keberadaan Dajjal 

قال عبد الله بن عمر : قام رسول الله صلى الله عليه وسلم في الناس فأثنى على الله بما هو أهله ثم ذكر الدجال فقال : ” إني أنذركموه وما من نبي إلا وقد أنذر قومه لقد أنذر نوح قومه ولكني سأقول لكم فيه قولا لم يقله نبي لقومه تعلمون أنه أعور وأن الله ليس بأعور ” . متفق عليه

Dalam hadis ini secara tekstual, disebutkan bahwa keberadaannya sudah diperingatkan sejak zaman nabi Nuh As. Nabi juga menyebut bentuknya sebagai orang yang buta sebalah matanya. Ia awalnya mendaku sebagai nabi, lalu mendaku sebagai Tuhan.

Dari beberapa hadis tentang Dajjal, banyak para ulama berbeda pemahaman. Ada yang berpendapat keberadaannya benar dan ia sebagaimana bentuk dan sifatnya. Ia mampu menghidupkan orang yang telah dibunuhnya, buta dan seterusnya. Ia adalah pribadi yang diilustrasikan dalam hadis nabi. Pendapat ini dijelaskan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim. Dajjal adalah personal (syakhsun bi ‘ainihi).

Secara terminologis, Dajjal diartikan sebagai orang yang menutupi sesuatu. Karena ia disebut dalam hadis sebagai A’war. Ia dianggap telah menutupi kebenaran, dan orang yang paling berdusta. Pemaknaan literal seperti ini pernah terjadi dalam sejarah Islam. Para pendusta atas nama agama, sering disebut sebagai Kadzab.

Imam Malik bin Anas, salah seorang Ahli Fikih dan Ahli Hadis abad 2 H pernah men-jarh­salah seorang perawi hadis yang sering berdusta atas nama hadis nabi. Karena ia sering meriwayatkan hadis dengan dusta pada nabi. Ia di-jarh dengan Dajjal.

Ada yang berpendapat bahwa ia ada, akan tetapi wujudnya belum bisa dipastikan. Pendapat ini diperkuat oleh Badruddin al-‘Aini dalam Syarh Sunan Abi Daud, bahwa identifikasi fisiknya dalam hadis Nabi merupakan tamsil atas meninggi dan meningkatnya kejahatan, kerusakan di bumi.

Pemahaman ini didapatkan dari pernyataan ulama Sunni, bahwa Dajjal adalah fitnah terbesar umat Islam. Jika agama Islam membawa rahmat dan kasih sayang, maka fitnah terbesar ini hanya akan muncul jika tidak ada lagi kasih sayang di antar umat manusia. Sebagaimana ini implementasi dari Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Sebagai mana juga fungsi agama sebagai pembawa kebajikan di antara umat manusia.

Penafsiran ini sedikit banyak beririsan dengan pandangan Mu’tazilah. Bagi Mu’tazilah, personifikasi yang digambarkan  hadis Nabi, ditafsirkan tidak secara literal, karena ia bukan personal. Akan tetapi, ia adalah karakter utama dari keburukan dan kejahatan itu sendiri.

Jika kita telusuri lebih jauh, narasi tentang dajjal tidak saja berada dalam Islam. Ia memiliki banyak versi. Dalam banyak literatur, selain ia dinisbatkan sebagai tanda bagi akhir dari dunia. Kemampuannya untuk memanipulasi pandangan kasat mata orang-orang, menunjukkan tidak ada lagi peran agama dan kebaikan pada waktu itu.

Wallahu A’lam

100%

6 KOMENTAR

  1. Assalammualaikum sy pernah mendengar penjelasan tentang Dajjal ini dari Ustadz Adi Hidayat. Beliau mengatakan jika dalam sebuah hadits disebut Dajjal maka itu berarti sifat/sistem, sedangkan jika disebut Al Masih Dajjal, itu berarti figur/tokohnya.
    Wallahua’lam

  2. […] Dalam salah satu situs internet, untuk mempromosikan organisasi terornya, seorang penulis mengutip sebuah hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal. Penulisnya mengutip terjemah hadis bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, fitnah sebagian dari kalian lebih aku takutkan dari fitnahnya Dajjal. Dan tidak ada seseorang pun dapat selamat dari badai fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan pasti selamat pula darinya (fitnah Dajjal) setelahnya.  Dan tidak ada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini baik kecil maupun besar kecuali untuk (menjemput) fitnah Dajjal” (HR. Ahmad). (Dajjal Makhluk Fiktif atau Nyata?) […]

  3. Assalamualaikum.

    Kita semua pasti mengerti banyak perkataan Rasulullah SAW berupa kiasan atau perumpamaan, karena di zaman beliau, belum ada seperti apa yang dikatakan.

    Nah, apakah mungkin Dajjal

  4. Assalamualaikum.

    Kita semua pasti mengerti banyak perkataan Rasulullah SAW berupa kiasan atau perumpamaan, karena di zaman beliau, belum ada seperti apa yang dikatakan.

    Nah, apakah mungkin Dajjal

  5. Assalamualaikum.

    Kita semua pasti mengerti banyak perkataan Rasulullah SAW berupa kiasan atau perumpamaan, karena di zaman beliau, belum ada seperti apa yang dikatakan.

    Nah, apakah mungkin Dajjal itu bukan manusia. Bisa jadi sistem, mikroorganisme, atau yang lain. Karena kita semua pasti telah mengetahui bahwa Al Masih Dajjal mampu mengelilingi bumi dalam semalam dan tidak ada satu tempatpun di bumi yang dilewatkan, kecuali Mekkah dan Madinah.

    Apakah Dajjal itu seseungguhnya adalah “Internet”. Internet sanggup berkelana kemanapun dalam sekejap mata dan seluruh tempat di bumi. Internet juga memberikan ‘Surga’ dan ‘Neraka’ yang berbeda dari milik Allah SWT.

    Apakah Dajjal itu sesungguhnya adalah sebuah mikroorganisme, misalnya virus yang menyebarkan wabah penyakit dengan cepat dan menjangkau ke seluruh tempat di muka bumi. Wabag juga memberikan ‘Surga’ dan ‘Neraka’ yang berbeda dari milik Allah SWT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here