Cuplikan Haji Orang Indonesia Dulu dan Kini [3]: Haji Pak Bupati dan Kado Cinta Kakek Tukang Sayur

0
205

BincangSyariah.Com – Kepergian ke tanah suci sering dimaknai oleh masyarakat Muslim sebagai perjalanan yang penuh harapan untuk menggapai sesuatu, bahkan untuk urusan yang terlihat sangat duniawi. Kita tahu beberapa pemimpin politik (termasuk presiden terpilih saat ini, Joko Widodo) kita belum lama ini pergi melaksanakan umroh sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Sebagian tokoh politik bahkan ada yang “berhaji” dahulu dengan pengharapan dapat mendongkrak suaranya saat pemilihan umum.

Ada juga bupati yang berhaji secara regular dan tidak menggunakan skema ONH Plus (dikoordinir travel dan biaya jauh lebih mahal, biasanya waktu juga lebih cepat) untuk berangkat haji tahun ini. Secara diplomatis, Al Haris, Bupati Merangin, Jambi saat ini mendoakan yang terbaik untuk Jambi. Diberitakan, ia akan maju pilgub Jambi di tahun 2020.

Selain di urusan politik, ada juga kisah-kisah berhaji masyarakat yang bisa dikatakan mengumpulkan uang dari usaha-usaha kecil. Saya pribadi punya memori soal ini. Tetangga saya, sejak saya masih belum lahir (di tahun 1993), sudah membuka warung kecil-kecilan dan berdagang sayur setiap pagi. Saya memanggilnya dengan Ibu Inem. Akhirnya, ia bisa berhaji di sekitar tahun 2000an (diantara tahun 2005-2010, saya lupa persisnya).

Kisah seperti Ibu Inem ini sebenarnya masih banyak. Ada kisah ibu Jairah – seperti diberitakan Kompas. Ibu Jairah binti Sumarno ini akhirnya bisa berangkat haji di tahun ini setelah menabung selama tujuh tahun lewat berdagang siomay keliling di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Ada juga kisah Ibu Nurzanah yang sudah berusia 81 tahun. Jamaah haji asal Mandailing Natal, Sumatera Utara ini berangkat haji lewat berjualan gorengan dan menabung hasil dagangnya selama 8 tahun. Saat ini, beliau juga berdoa agar penyakit di kakinya sembuh.

Baca Juga :  Apakah Takut Ketinggian Menggugurkan Wajib Haji?

Ada juga kisah “kado cinta” berupa berangkat haji dari Hanafiah kepada Asma. Hanafiah yang kini sudah berusia hampir 98 tahun, baru bercerita kepada istrinya Asma Abdullah bahwa ia sudah mengumpulkan uang untuk berangkat haji dengan uang sebesar 23 juta untuk setoran awal. Istrinya tidak pernah mengetahuinya sebelumnya, kalau sang suami, Hanafiah, menabung selama 30 tahun lewat berdagang sayur yang dilakoninya setiap hari. Hanafiah dan Asma merupakan warga Nibong, Aceh Utara yang dua hari lalu bertolak berangkat haji lewat Bandara Sultan Iskandar Muda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here