Cuplikan Haji Orang Indonesia Dulu dan Kini [2]: Kisah Bangkrutnya Usaha Kapal Laut Haji

0
328

BincangSyariah.Com – Pasca Terusan Suez dibuka, kemudian ditemukan teknologi kapal uap, intensitas masyarakat nusantara untuk berhaji semakin meningkat. Kegiatan ini lama-lama menarik perhatian pemerintah kolonial untuk menetapkan regulasi soal perjalanan haji ini. Diantaranya adalah soal penyematan gelar “haji”.

Menurut Dien Madjid, lebih sedikitnya jumlah jamaah haji yang datang dibanding yang pergi menimbulkan “ketakutan” Pemerintah Kolonial Belanda mereka akan membawa semangat Pan-Islamisme yang sedang berkembang di dunia Arab.

Lewat gelar haji, Pemerintah Hindia Belanda mengkalibrasi siapa saja yang benar-benar berhaji dan tidak. Di masa itulah, muncul istilah “haji Singapura” untuk menyebut mereka yang gagal karena sebab tertentu sehingga perjalanannya hanya sampai Singapura kemudian kembali lagi.

Lalu zaman berubah. Di tahun 60-an, pemerintah Indonesia perlahan memasukkan pesawat sebagai transportasi haji. Meskipun kapal laut masih mendominasi. Ini terbukti dengan didirikannya PT. Arafat di bidang penyedia kapal laut haji di tahun 1964. Namun di pertengahan tahun 70-an, akibat ongkos haji dengan pesawat dan kapal laut tidak jauh berbeda, pesawat kemudian merajai bisnis perjalanan haji. Puncaknya, PT Arafat dinyatakan pailit (bangkrut) pada tahun 1979.

Baca Juga :  Cuplikan Haji Orang Indonesia Dulu dan Kini [1]: Jadi Buruh Perkebunan di Singapura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here