Corak Fikih dalam Tafsir Tamsjijjatoel Moeslimien Karya Ahmad Sanusi

0
671

BincangSyariah.Com – Seiring dengan perkembangan zaman, maka corak tafsir yang digunakan oleh para mufasir pun semakin beragam. Adapun corak tafsir yang sering dipakai oleh para mufasir dari masa klasik hingga masa kontemporer di antaranya yaitu corak sufi, corak fikih atau hukum, corak falsafi, corak adabi, corak ilmi, corak sosial masyarakat atau ijtimai, corak teologi dan lain sebagainya. (Baca: Tafsir al-Maraghi: Panduan Umat Memahami Al-Qur’an dengan Ringkas)

Para mufasir biasanya memilih corak dalam karya tafsirnya berdasarkan kebutuhan masyarakat saat itu dan tergantung dengan bidang keahlian yang digeluti. Akan tetapi, yang menjadi problem masa sekarang ini banyak tafsir karya ukama mashyur yang tenggelam oleh perkembangan zaman, padahal karya tersebut sangat bagus untuk dikaji sebagai wawasan keilmuan era modernisasi ini.

Dengan demikian, tafsir-tafsir tersebut jarang dikenal oleh masyarakat secara luas khususnya bidang akademisi. Banyak faktor yang menjadi penyebab tenggelamnya karya-karya tersebut, diantaranya yaitu dikarenakan kurangnya publikasi terutama mengenai silsilah rantai sanad. Dalam artian, setelah pengarang wafat para murid-muridnya tidak seberapa mempublikasikan karya gurunya tersebut sehingga yang mengetahui hanyalah murid yang pernah belajar kepada beliau saja. Sedangkan generasi di bawahnya jarang yang mengetahuinya.

Selain itu, faktor lain juga bisa dikarenakan masa penjajahan Inggris dan Belanda yang menyebabkan tenggelamnya suatu karya. Salah satu ulama mufasir yang karyanya bagus tetapi tidak seberapa dikenal oleh kalangan akademisi yaitu Ahmad Sanusi, pengarang kitab tafsir Tamsjijjatoel Moeslimien.

Seperti yang termaktub dalam buku Riwayat Perjuangan Ahmad Sanusi karya Miftakhul Falah bahwa ia lahir pada tahun 1306 H/1888 M tanggal 18 September di sebuah desa terpencil yaitu Desa Cantayan Kabupaten Sukabumi. Beliau merupakan seorang yang ‘alim, menguasai beberapa ilmu dan berakhlak baik. Ahmad Sanusi sudah ditanamkan ilmu keagamaan sejak dini dan memasuki usia ke 17 tahun ia memperdalam keilmuannya dibidang Alquran hadis maupun fikih di berbagai pesantren.

Baca Juga :  Kisah Abu Nawas Dishalati Imam Syafi'i

Sampai pada tahun 1909 iapun bertekad untuk menunaikan ibadah haji sembari memperdalam wawasan keislaman di Makkah dengan berguru ke berbagi Syeikh terkemuka seperti Syeikh Ali Thayyib, Syeikh al-Maliki, Syeikh Said Jamani dan lain sebagainya.

Dengan bekal keilmuan yang dimilikianya beliaupun tergerak untuk menuangkan pemikirannya dalam sebuah karya kitab tafsir dengan judul Tamsjijjatoel Moeslimien Fie Tafsiri Kalami Robbil ‘Alamien pada tahun 1934 Masehi. Akan tetapi karya ini tidak sampai selesai 30 juz dikarenakan pada saat itu status Ahmad Sanusi sebagai tahanan kepemerintahan yang kala itu dikendalikan oleh penjajahan Belanda.

Para ahli politik penjajahan menganggap bahwa kitab tafsir yang dikarang oleh Ahmad Sanusi ini merupakan senjata atau alat untuk menerobos gerakan politik. Oleh karena itu Ahmad Sanusi harus ditangkap dan ditahan yang mengakibatkan penulisan tafsirnya tidak sampai selesai melainkan hanya sampai pada surah an-Nisa’ saja.

Dalam menulis sebuah kitab tafsir, tentunya Ahmad Sanusi tidak asal-asalan dalam menafsirkan Al-Qur’an karena baginya ayat-ayat suci Al-Qur’an merupakan petunjuk umat Islam untuk melangkah di jalan yang diridhai oleh Allah SWT. sesuai yang telah diamati oleh penulis dalam manuskripnya Ahmad Sanusi, nampaknya ia menggunakan model penafsiran bil ma’tsur karena jelas sekali beliau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ayat yang lain, kemudian menafsirkan ayat Alquran dengan hadis dan riwayat.

Adapun corak yang diambil oleh Ahmad Sanusi tentunya tidak jauh dari latar belakang pendidikan beliau serta menyesuaikan kebutuhan masyarakat pada saat itu. Setelah penulis mengamati corak penafsiran beliau dalam manuskrip yang berjumlah empat jilid sampai surah an-Nisa’ nampak sekali beliau menggunakan corak fikih. Dalam penafsirannya banyak hal-hal yang berbau fikih untuk dijadikan prioritas pembahasan. Hal ini sudah mulai dapat dibuktikan ketika membaca surat al-Fatihah.

Baca Juga :  Tips Menghindari Suul Khatimah

Dalam penafsiran surat tersebut, beliau lebih menekankan kepada aspek-aspel fikih dengan beberapa subbab. Adapun aspek-aspek tersebut yaitu:

Pertama, hukum membaca surah al-Fatihah yang beliau kutip dari pendapat empat mazhab yaitu Imam Hambli, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Syafi’i. Selain itu juga menyantumkan berbagai riwayat hadis yang membahas terkait kewajiban membaca surat al-Fatihah dalam Shalat.

Kedua, yaitu terkait hukum membaca basmalah sebelum melafadhkan surat al-Fatihah. Dalam hal ini Ahmad Sanusi juga mengutip semua pendapat dari empat Imam Mahdhab yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Syafi’i serta menyantumkan beberapa hadis yang berisi tentang bacaan basmalah yang dilantunkan oleh Nabi SAW.

Ketiga, yaitu hukum membaca aamiin setelah membaca surat al-Fatihah. Dalam hal ini Ahmad Sanusi berargumen menggunakan pendapatnya sendiri bahwa membaca aamiin secara bersama-sama setelah imam membaca surat al-Fatihah adalah sunnah dan sangat dianjurkan. Menurutnya, bacaan surat al-Fatihah selain sebagai salah satu syarat wajib dalam shalat juga termasuk doa yang sangat mustajab. Dengan demikian, apabila banyak yang mengatakan aamiin maka doa-doa tersebut besar kemungkinan lebih diijabah oleh Allah SWT.

Selain itu juga dapat dilihat ketika Ahmad Sanusi membahas surat al-Baqarah ayat 183 yang berisi tentang perintah puasa terhadap orang-orang Islam. Maka beliapun menekankan titik npenafsirannya kepada aspek-aspek berpuasa yang menghabiskan 20 halaman. Terlebih ketika menafsirkan ayat tentang haji dalam surat al-Baqarah ayat 196 hingga 198 beliau menghabiskan 40 halaman yang ditekankan pada ketentuan haji syarat-syarat haji dan aspek lain yang berkaitan dengan ibadah haji.

Contoh lain, yakni ketika Ahmad Sanusi menafsirkan surat al-Baqarah ayat 3

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Baca Juga :  Kisah Para Sahabat yang Hijrah ke Abisinia

Mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka. (Q.S. al-Baqarah: 3).

Beliau lebih menekankan kepada kata yuqinun. Beliau memberikan penafsiran zakat. Dengan demikian penafsirannya pun lebih menekankan kepada aspek-aspek zakat termasuk kewajian zakat, jenis-jenis zakat, jenis harta yang harus dizakati, penerima zakat hingga keutamaan-keutamaan adanya kewajiban mengeluarkan zakat dengan menghabiskan tempat sebanyak 11 halaman.

Dengan demikian, corak penafsiran Ahmad Sanusi sangat bagus untuk dijadikan bahan wawasan masyarakat luas terutama dari kalangan akademisi dikarenakan penyajiannya yang sederhana dengan menyantumkan aspek-aspek fikih serta hikmah-hikmah dalam setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hal ini tentunya akan menambah semangat bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berusaha menjauhi larangan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here