Ciri Wali Abdal Menurut Kiai Sholeh Darat

0
2279

BincangSyariah.Com – Dalam kitab Sabil as-Salikin wali al-abdal dibagi menjadi tujuh orang. Masing-masing dari mereka menguasai dan menjaga wilayahnya sendiri-sendiri. tujuh wali ini berada di bawah pimpinan tujuh Nabi. Mereka yaitu Ibrahim, Musa, Harun, Idris, Yusuf, Isa, dan Adam.

Mereka disebut sebagai wali abdal karena mereka menempati sebuah wilayah dimana ketika mereka pergi mereka memilih penggantinya. Menurut Ibnu Arabi, amalan wali abdal ada empat yaitu, menahan lapar, terjaga di malam hari, lebih banyak memilih diam dan mengasingkan diri dari keramaian. Keempat amalan ini yang biasanya dilekatkan kepada para wali abdal.

Dari berbagai literatur pemikiran para sufi wali abdal digambarkan sebagai manusia rohani yang menjauhi dunia yang fana ini. Narasi semacam ini semakin memperkuat stigma bahwa para sufi (waliyullah) enggan bergaul dan terlibat dalam kehidupan sosial. Mereka lebih asyik dengan dunianya yang dipenuhi ritual tanpa adanya kepedulian pada masyarakat sekitar.

Pemaknaan terhadap laku sufi dan para wali semacam itu penulis kira sudah tidak relevan. Bahkan di Abad ke-19, seorang tokoh sufi Nusantara, sosok yang diperhitungkan dalam jaringan intelektual pesantren Abdurrahman Mas’ud telah memulai merubah pandangan terhadap bagaimana mereka mampu menduduki maqom para wali. Ialah kiai Sholeh Darat yang menggeser pandangan bahwa seorang wali tidak melulu disibukkan dalam aktivitas yang bersifat ritual.

Dalam kitab Minhaj al-Atqiya’ fi Syarhi Ma’rifat al-Adzkiya’, kiai Sholeh menjelaskan sebab kenapa seseorang menduduki maqom sebagai wali abdal. Di dalam kitab tersebut dengan mengutip dari Abu Darda’, beliau menuliskan:

anadene abdal kabeh iku ora kok tumekone dadi pangkat abdal iku kelawan sebab puasane lan akeh sholate lan akeh khusyu’e iku ora, tetapine dadine biso tumeko pangkat abdal iku sebab sodaqul wara’i, khusnun niah lan selamate as-shodr lan rohmat welas maring sekabehane wong Islam, ora tahu misuh, ora tahu bendu, lan ora tahu gawe susah menuso, utowo gawe loro lan ora gawe susah wong ngisore lan ora drengkeni wong duwure, lan bagus maring menungso kabeh lan lumo maring menuso kabeh lan andap ashor maring menuso kabeh.

Baca Juga :  Ini Alasan Mengapa Awal Muharam Dijadikan Awal Tahun Baru Hijriyah

Terjemahan:

“adapun semua (wali) abdal itu tidak sampai kepada maqom abdal disebabkan puasa dan banyaknya salat dengan khusyu’, akan tetapi (mereka) dapat sampai ke maqom abdal disebabkan oleh (1) sikap wira’i, niat yang baik, hati yang selamat, (2) kasih sayang terhadap umat Islam, tidak menghujat, tidak pernah membenci, (3) tidak pernah membuat sedih atau menyakiti (sesama) manusia, (4) tidak menyusahkan orang yang di bawahnya, (5) tidak iri terhadap orang yang di atasnya, (6) baik kepada semua manusia, (7) dermawan kepada semua manusia, (8) dan rendah hati terhadap semua manusia.

Ada delapan amalan yang dijelaskan kiai Sholeh Darat yang menjadi faktor seseorang menduduki maqom wali abdal. Alih-alih pemahaman klasik tentang amalan untuk mencapai maqom wali abdal dengan memperbanyak puasa dan salat, kiai Sholeh Darat justru meletakan pandangan humanisme dalam konsep wali abdal. Bagi kiai Sholeh, seorang wali memiliki tanggung jawab untuk ngemong masyarakat. Maka tidak semestinya mereka hanya disibukan dengan ibadah ritual-individual.

Dari delapan amalan tersebut, tidak ada satupun poin yang luput dari semangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan bagi kiai Sholeh Darat merupakan dasar bagi setiap laku para sufi. Tanpa pandang identitas keagamaan, preferensi pandangan politik, dan lainnya, kiai Sholeh menyebut dengan tegas dalam poin ke enam, “bagus maring menungso kabeh” (baik kepada semua manusia).

Bagi penulis, ini merupakan pandangan yang visioner. Konteks kiai Sholeh Darat yang hidup pada masa penjajahan tentu sangat sulit bagi seseorang untuk baik kepada siapapun. Tapi dengan tegas untuk menjadi seorang kekasih Allah, karena justru disitulah letak kebijaksanaan seorang wali abdal. Ia harus mampu bersikap baik, meskipun kepada mereka yang tidak baik.

Baca Juga :  Berapa Tahun Rasulullah Berpuasa Ramadhan?

Selain itu, poin-poin lainnya sangat tepat jika kita wujudkan dalam konteks hari ini. Pesan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam sangat kuat dalam pandangan kiai Sholeh. Hari ini dimana orang-orang saling membenci karena pandangan politik yang berbeda misalnya, harus kembali belajar kepada para ulama kita. Jangankan sampai menyakiti dan melukai hati manusia, membuat mereka bersedih saja tidak dibenarkan.

Selanjutnya semangat menegakkan nilai-nilai kemanusiaan adalah tugas kita bersama, terutama bagi kita yang mendaku diri sebagai santri. Menjaga kerukunan, merjaut jaring-jaring perdamaian, dan memutus mata rantai kebencian di tengah brutalnya rimba dunia maya dan pertarungan kepentingan politik menjadi tantangan kita semua. Wali abdal dengan demikian tidak lagi menjadi konsep abstrak. Ia telah menjadi konsep yang sangat dekat dengan realitas kehidupan kita.

Semua orang semestinya bisa menjadi wali abdal, tidak hanya terbatas dengan jumlah tertentu. Semua orang semestinya mampu untuk menjaga wilayahnya masing-masing untuk terhindar dari kekacauan. Landasannya jelas, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Memang nampak mudah saat dibicarakan, tapi sulit dilakukan, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here