Ciri-ciri Akhlak Orang yang Saleh

0
461

BincangSyariah.Com – Al-Hasan bin Ismail bin Mujalid menyampaikan cerita ayahnya tentang Abu Hanifah. “Aku bersama khalifah Harun al-Rasyid. Tak lama Abu Yusuf datang. Setelah duduk, Harun al-Rasyid bertanya tentang pribadi Abu Hanifah, “Ceritakan kepadaku siapakah Abu Hanifah itu?”

Abu Yusuf menjelaskan, “Dia orang yang sangat menghindari apa pun yang diharamkan Allah, menghindari hasrat-hasrat duniawi. Dia lebih banyak berdiam diri dan berpikir. Bicaranya teratur, cermat, dan tidak terburu. Jika ditanya tentang suatu hal dan dia mengetahuinya, dia akan menjawabnya. Tetapi jika dia tidak mengetahuinya, dia tidak menjawabnya. Sepanjang yang aku tahu, wahai tuan Harun al-Rasyid, Abu Hanifah selalu menjaga hatinya. Ia lebih sibuk mengintrospeksi (muhasabah) dirinya dan tidak menceritakan tentang orang lain kecuali kebaikannya saja.”

Harun al-Rasyid, khalifah pengganti Abu Ja’far al-Manshur itu, sangat mengagumi Abu Hanifah, lalu mengatakan,

هَذِهِ أَخْلَاقُ الصَّالِحِيْنَ.

Itulah akhlak orang-orang yang saleh.

Dan kepada orang-orang saleh itulah Allah menitipkan pengelolaan bumi ini, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِى الصَّالِحُونَ.

Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh bahwa bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 105).

Abu Yusuf adalah murid utama Imam Abu Hanifah. Dialah yang memperkenalkan, menyebarkan dan mengembangkan fikih Abu Hanifah bersama temannya, Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Abu Yusuf adalah orang pertama yang menjabat sebagai qadhi al-qudhah, hakim agung atau ketua Mahkamah Agung, dalam sejarah Islam.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

 

Baca Juga :  Kisah Imam Syafii Dituduh Tidak Saleh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here