Cinta Cak Nun Untuk Indonesia

0
12

BincangSyariah.Com –Lewat pelbagai karya Cak Nun mencintai Indonesia. Melalui sentilan kritik, Cak Nun mengutarakan makna cinta untuk Indonesia.

Cinta, sebuah term yang puluhan dekade diperdebatkan. Cinta sepatah kata penuh paradoks. Kaul yang mampu mengubah manusia menjadi banal. Pun sebaliknya, cinta membuat insan bertekuk lutut di hadapan Cinta itu. Kata yang tak berujung. Istilah yang tak bisa dirumuskan. Ia bukan bagian istilah yang bisa dikonseptual.

Cinta tak punya definisi baku. Begitu tutur Sang Muhyiddin dari Murcia. Dalam magnum opus, Futuhat al Makkiyah, Syekh Akbar, Ibn Arabi berkata; “Ia yang berusaha dengan sekuat tenaga mendefinisikan cinta, berarti ia tak mengenalnya dengan baik”

Yakinlah! cinta tak bisa dilukis utuh. Ia bukan lanscape yang bisa dipotret jelas. Ia maha dari ketidaktahuan. Ia Maha dari keburaman. Ia Maha paradoks. Siapa yang ingin mencoba mendefinisikan cinta, akan tersungkur dalam alam kejahilan.

Era ini, seorang sastrawan masyhur, mencoba mengungkap tabir cinta. Muhammad Ainun Nadjib, mendefinisikan Cinta, tapi ia masih menduga.”Mungkin” adalah kaul yang ia pakai. Cak Nun menulis:

“Cinta itu suatu potensi, suatu keadaan, sebuah situasi batin, mungkin berwujud ruang yang membutuhkan waktu, atau bisa jadi ia terasa sebagai energi atau teralami sebagai semacam frekuensi. Seluruh kemungkinan itu terletak di dalam diri manusia, ia ada dalam kesunyian dirinya, ia belum fakta bagi selain dirinya”.

Tampaknya penyekat gaib masih menyelimuti makna Cinta yang disodorkan Cak Nun. Pelbagai usaha yang disodorkan untuk menyibak makna cinta, tampaknya sia-sia. Ibarat bawang merah; apa pun yang kau sodorkan untuk menelanjangi cinta, justru akan menambah satu lapisan lagi. Tak akan habis, hingga kau lelah sendiri.

Agaknya karena itu pula, Cak Nun dalam bait puisinya berkeluh-kesah:

Ku tebus padatan demi padatan

Busur jiwa ku cinta

Sayap ku kerinduan

Aku melayang di antara fana dan baqa

Tiba-tiba terjerembab jasad ku Di padas batu-batu

Khayal-khayal habis-habisan menipu kesadaran ku

Ternyata sesungguhnya aku adalah batu

Dalam renungan Rumi, konsep cinta adalah kubu yang berlawanan dengan nalar. Menemui Cinta, kata Rumi, ”Intelek lumpuh kakinya.” Sementara intelek atau nalar sibuk menerangi ruang dan meraih dunia, Cinta punya hidup dan aktivitasnya sendiri:

Analistis Cak Nun, tampak cinta saling baku hantam dengan nalar rasional. Cinta dan nalar dua kubu yang saling bertikai. Dalam dunia cinta, intelektual manusia tersungkul. Terjerembat dalam liang jasad. Mati tak tentu arah.

Dalam dunai nyata, Cinta tak bisa diraba. Ia absolut. Mustahil untuk diraih oleh yang fana. Karena itu, kata Goenawan Mohamad, Cinta tak akan bisa hidup bersama perhitungan untung- rugi. Cinta tak ampuh dalam siasat politik. Cinta jua tak mampu mengungkung pikiran. Cinta jua tak kuasa membelengu perasaan. Cinta itu terus berkembang, mengembara terus menerus. Mencoba menerobos alam misteri yang dihadirkan Tuhan.

Meski begitu, kata Cak Nun, cinta mampu menghidupkan jiwa manusia. Cinta mampu menggerak manusia. Cinta juga mampu menjelma sebagai perlawanan. Ia akan bergejolak ketika melihat ketidakadilan.

Cinta adalah sumber perlawanan. Ia akan berontak melihat ketidakadilan. Sikap itu pula mendorong Cak Nun untuk mengkritik kekuasaan.

Simak celetukan Cak Nun;

“Orang berkuasa diliputi ketakutan akan kehilangan jabatan, sehingga melakukan kecurangan atau kejahatan untuk mempertahankan kekuasaan”

Cak Nun bergerak untuk mengutuk kezaliman. Ia berjuang dengan jalan perlawanan. Pergulatan panjang perlawanan Cak Nun sudah di mulai sejak orde baru. Ia selalu berada dalam posisi kritis terhadap kekuasaan. Demi  menjaga  balancing dalam demokrasi. Jalan tengah yang diambil Cak Nun adalah counter terhadap kekuatan-kekuatan politik elit. Sikap kritis Cak Nun bukanlah pemberontakan apabila makar terhadap pemerintah.

Pun dalam era reformasi, kicauan kritik Cak Nun masih terus berbunyi. Terlebih, belakangan, ia kerap menyuarakan kritik pedas. Satu hal yang pasti, Cak Nun bukanlah politisi. Ia juga bukan bagian oligarki di negeri ini.  Cak Nun adalah seorang kyai, sastrawan, ulama, dan tokoh agama, yang senantiasa membimbing umat dengan kegiatan Maiyah.

Sikap kritis bukan sikap sikap vis a vis  terhadap kekuasaan. Ingatlah pada era orde baru, Cak Nun adalah sosok yang dipanggil Soeharto untuk meminta nasihat sebelum mundur dari tampuk kekuasaan. Cak Nur adalah mikropon kaum lemah dan kaum marjinal. Cak Nun adalah manusia multidimensi yang mencintai Indonesia dengan cinta itu sendiri.

(Baca: Mengenal Emha Ainun Nadjib, Sang Kiai Mbeling)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here