Cerita Nabi Muhammad tentang Kisah Nabi Musa

0
5136

BincangSyariah.Com – Nabi Musa a.s. dikenal sebagai nabi yang diutus Allah swt. untuk berdakwah di kalangan Bani Israil. Allah swt. telah banyak menyebutkan cerita tentang Nabi Musa a.s. dan kaumnya tersebut di dalam Al-Qur’an sebagai bentuk ibrah bagi umat Islam. Nabi saw. pun di dalam suatu sabdanya pernah menceritakan tentang kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil.

Salah satu kisah yang diceritakan Nabi saw. diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. sebagai berikut.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى سَوْأَةِ بَعْضٍ وَكَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلاَّ أَنَّهُ آدَرُ. قَالَ فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ – قَالَ – فَجَمَحَ مُوسَى بِأَثَرِهِ يَقُولُ ثَوْبِى حَجَرُ ثَوْبِى حَجَرُ. حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى سَوْأَةِ مُوسَى فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ. فَقَامَ الْحَجَرُ بَعْدُ حَتَّى نُظِرَ إِلَيْهِ – قَالَ – فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا ». قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاللَّهِ إِنَّهُ بِالْحَجَرِ نَدَبٌ سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ ضَرْبُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِالْحَجَرِ. رواه مسلم.

Rasulullah saw. bersabda, “Bani Israil selalu mandi bersama-sama dalam keadaan telanjang. Sebagian dari mereka pun dapat melihat aurat sebagian lainnya. Sedangkan Nabi Musa a.s. mandi sendiri (tidak bergabung dengan mereka). Lalu merekapun berkata, “Demi Allah. Musa tidak mau mandi bersama kami karena (kemaluannya) cacat.” Nabi saw. melanjutkan ceritanya, (Lalu pada suatu ketika), Nabi Musa a.s. pergi lagi untuk mandi, beliau meletakkan bajunya di atas sebuah batu. Namun, batu itu lari dengan membawa baju Nabi Musa. Maka Nabi Musa pun mengejar batu tersebut dengan tanpa menggunakan pakaian sambil berkata, “Bajuku hei batu, bajuku hei batu.” Sampai semua Bani Israil melihat auratnya Nabi Musa a.s., lalu mereka berkata, “Demi Allah, ternyata Musa tidak memiliki kecacatan apapun. Batu itupun berhenti sehingga dapat dilihat di depan Nabi Musa, lalu beliau mengambil bajunya dan memukul batu itu. Abu Hurairah r.a. berkata, “Demi Allah, batu itu terdapat bekas enam atau tujuh pukulan Nabi Musa a.s. (HR. Muslim).

Baca Juga :  Usia Nabi Muhammad Saat Ibunya Meninggal

Hadis ini shahih diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam kitab shahihnya. Bahkan beliau memberikan judul keutumaan Nabi Musa a.s.

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah swt. telah menyelamatkan Nabi Musa a.s. yang digosipkan oleh kaumnya sendiri bahwa beliau adalah seorang yang cacat (kemaluannya). Oleh karena itu, dengan izin Allah swt. sebuah batu yang merupakan benda mati dapat melarikan baju Nabi Musa a.s. yang oleh Nabi Musa a.s. tanpa disengaja beliau mengejarnya sehingga terlihatlah kemaluannya di antara kaumnya. Sehingga setelah itu, merekapun tidak menggosipkan Nabi Musa a.s. lagi.

Imam Nawawi di dalam kitab Syarh Shahih Muslim memberikan suatu keterangan tentang hadis ini. Yakni hadis ini menerangkan bahwa membuka aurat di tempat yang sepi dan hajat/ada kebutuhan, seperti ketika mandi, kencing, atau berhubungan badan itu diperbolehkan. Sedangkan di depan masyarakat umum, membuka aurat itu haram.

Lebih lanjut, imam Nawawi menerangkan bahwa hadis tersebut dapat dipahami antara dua kemungkinan. Yakni pada zaman Nabi Musa a.s. melihat aurat orang lain itu boleh didalam syariatnya, hanya saja Nabi Musa a.s. lebih memilih untuk tidak melakukannya karena faktor malu dan menjaga harga diri atau muruah.

Sedangkan kemungkinan yang kedua, pada zaman Nabi Musa a.s. telah ada penjelasan syariat bahwa haram memperlihatkan aurat satu sama lain. Hanya saja kaum Bani Israil meremehkan syariat tersebut.

Demikianlah Cerita Nabi saw. tentang Nabi Musa a.s. yang diselamatkan oleh Allah swt. dari gosip miring di kalangan kaum Bani Israil. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here