Catatan Terbuka terhadap “Puisi Paskah” Gus Ulil Abshar-Abdalla

1
237

BincangSyariah.Com – Dahulu KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah merespon tulisan Gus Ulil di harian Kompas tentang “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, karena sikap dan cara menyampaikan gagasan-gagasan keislamannya dianggap kurang “makruf” dan “lembut” di tengah suasana bulan suci Ramadan yang harus mengekang segala nafsu dan amarah (lihat “Menyegarkan Kembali Sikap Islam”).

Namun, dalam tulisan “Tentang “Puisi Paskah” itu: Sebuah penjelasan”, saya merasakan sifat dan sikap seorang laki-laki yang terbuka, berani bertanggungjawab, lembut, berpengetahuan luas, berpikiran progresif, edukatif, dan menghargai perbedaan dan kritik. Meminjam istilah Imam al-Gazali dalam Minhaj al-‘Abidin (2016: 37), saya menemukan salah satu sifat orang berakal (dzawial-albab) dalam tulisan tersebut, yaitu an-nazhara ila kaffah khalqillah ta‘ala bi ‘ain ar-rahmah wa tark al-mamarah (melihat seluruh makhluk Allah dengan mata kasih-sayang dan meninggalkan perdebatan dan pertentangan).

Sebab, Gus Ulil dalam tulisan tersebut tidak emosi dan menyalahkan berbagai kritik yang dilontarkan kepadanya terkait dengan “Puisi Paskah” yang dibacakan oleh dua orang santri beberapa waktu lalu. Bahkan beliau menghargai beberapa kritik dan perbedaan pandangan tersebut. Menurutnya, perbedaan pendapat dan kritik ilmiah adalah perkara yang sangat baik bagi kemajuan hidup sosial, kebudayaan, dan keilmuan masyarakat majemuk. Apalagi perbedaan memang merupakan hukum Allah (sunnatullah) yang selama-lamanya pasti ada untuk menjaga keseimbangan hidup manusia.

Oleh karena itu, orang yang bijak seharusnya menyikapi perbedaan tersebut sebagai anugerah dan rahmat Tuhan untuk keindahan hidup manusia, bukan sebagai laknat dan penyakit hidup yang harus dibasmi. Selain itu, beliau juga tidak emosi dan menyalahkan aksi seorang santri yang membaca “Puisi Paskah” tersebut sembari mengenakan kopiah berlogo Nahdlatul Ulama (NU), yang akhirnya menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan masyarakat Nahdliyin. Bahkan beliau tidak segan-segan mengapresiasi keberanian santri tersebut yang dianggap sama dengan keberanian Banser NU dalam menjaga gereja ketika hari Natal.

Beliau hanya menyayangkan sebagian sikap orang-orang tertentu yang terlalu membesar-besarkan, memelintir, dan “menggoreng” masalah tersebut untuk tujuan dan kepentingan tertentu di luar diskusi keilmuan. Entahlah, apakah ini berkaitan dengan rumor bahwa beliau akan mencalonkan diri dalam bursa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendatang. Sehingga masalah tersebut sengaja dipelintir dan “digoreng” untuk, misalkan, menurunkan elektabilitasnya. Wa allah a‘lam, saya juga tidak tahu.

Baiklah, apabila menggunakan nalar maqasidi (maqashid asy-syari‘ah) ala Muhammad Bakr Isma‘il Habib dan Samih ‘Abd al-Wahhab al-Jindi (lihat Maqashid asy-Syari‘ah Ta’shilan wa Taf‘ilan dan Ahammiyah al-Maqashid fi asy-Syari‘ah al-Islamiyyah), maka saya mengajukan beberapa hal dalam memahami “Puisi Paskah” yang digubah oleh Gus Ulil sekitar tujuh tahun lalu tersebut. Beberapah hal ini adalah: al-khithab (isi pembicaraan), al-mukhathib/al-mutakallim (pembicara), al-mukhathab/as-sami‘ (pendengar), dan siyaq al-khithab (keadaan atau konteks pembicaraan), baik yang berkaitan dengan aspek bahasa (as-siyaq al-lugawi) maupun yang berkaitan dengan aspek sosial masyarakat (as-siyaq al-ijtima‘i).

Dalam hal ini, saya juga menggunakan “syarah” puisi tersebut yang ditulis langsung oleh penulisnya, Gus Ulil, yaitu “Tentang “Puisi Paskah” itu: Sebuah penjelasan”. Tentu saya tidak masuk kepada konsep dan struktur bahasa atau bahkan kritik sastra dari “Puisi Paskah” tersebut. Sebab, dahulu saya hanya singgah sebentar (sekitar satu tahun) di Sanggar Sastra dan Teater Kertas Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan dan tidak melanjutkan lagi ke jenjang berikutnya. Sahabat dan senior saya di Sanggar Sastra dan Teater Kertas yang melanjutkan bakat kesusastraan dan keteaterannya adalah Shohifur Ridho Ilahi, seorang penyair muda yang malang melintang meramaikan khazanah sajak dan teater Nusantara.

Apalagi puisi, kata sebagian sahabat saya di Sanggar Sastra dan Teater Kertas dahulu, adalah “kata-kata Tuhan yang dicuri oleh malaikat-malaikat nakal untuk diberikan kepada orang-orang tertentu yang dihendaki.” Sehingga tidak heran apabila satu puisi tertentu dengan mudah menelusuk ke dalam relung jiwa meskipun terkadang begitu sulit dipahami dan dijelaskan secara utuh karena memang maknanya merasuk ke mana-mana. Sungguh, “bila tak segera kusandarkan/ sampan seok berjejal beban muatan/ di dermagamu, oh tambatan sekalian alam/ niscaya tenggelam/ bersama seluruh luka dan air mata!”

Pertama, saya memahami secara sederhana “Puisi Paskah” tersebut bercerita tentang pengorbanan dan kasih-sayang Yesus kepada umat manusia. Gus Ulil menceritakan peristiwa pengorbanan Yesus yang disalib tersebut menggunakan perspektif ajaran dan keyakinan Kristen, bukan menggunakan perspektif Islam―sebagai agama yang dipeluknya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap iman dan tradisi teologi Kristen (lihat “Tentang “Puisi Paskah” itu: Sebuah penjelasan”).

Dalam kerangka berpikir Islam moderat ala Yusuf al-Qaradhawi, setiap Muslim tidak boleh campur tangan terhadap urusan individu dan keagamaan non Muslim, baik menyangkut akidah maupun ibadah (Kalimat fi al-Wasathiyyah al-Islamiyyah wa Ma‘alimiha, 2011: 48). Menurut saya, salah satu bentuk tidak campur tangan terhadap akidah dan ibadah non Muslim adalah menjelaskan akidah dan ibadah setiap non Muslim berdasarkan ajaran agama mereka masing-masing, bukan berdasarkan perspektif dan keyakinan agama kita sendiri. Berbeda apabila kita melakukan studi perbandingan ajaran agama atau pemikiran tokoh, maka kita perlu menyajikan beberapa ajaran agama atau pemikiran tokoh yang sedang dikaji tersebut.

Kedua, “Puisi Paskah” tersebut berisi kritik terhadap sebagian orang beriman yang pongah dengan imannya. Sehingga menafikan, menghina, mengafirkan, dan bahkan menyerang keimanan orang lain. Dalam Islam, al-Qur’an mengajarkan setiap Muslim agar senantiasa rendah hati dan tidak boleh jemawa, baik dalam hal ibadah maupun keimanan. Hal ini dipahami dari surat an-Najm (53): 32, yaitu: “maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia Mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Artinya, meskipun kita harus tetap meyakini kebenaran dan kesucian agama kita, tetapi keimanan yang kita miliki tidak boleh membuat kita sombong dan merasa paling benar dan suci sendiri atas orang lain yang memiliki keyakinan dan agama berbeda. Apalagi Rasulullah saw. sendiri melarang sikap sombong, yaitu: menolak kebenaran dan merendahkan manusia (Ibn Katsir, Qashash al-Anbiya’, 2009: 103). Selain itu, Allah melarang umat Islam menghina sesembahan orang-orang non Muslim, sebagaimana disebutkan dalam al-An‘am (6): 108.

Sebab, Allah memang sengaja menciptakan kehidupan manusia berbeda-beda, baik dari segi jenis kelamin, kebangsaan, agama, suku, tradisi, maupun lain sebagainya. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa sebagian karakter Islam moderat adalah beriman (percaya) kepada pluralitas kehidupan, baik menyangkut keragaman agama, tradisi, kebudayaan, bahasa, peradaban, politik, maupun keragaman lainnya (Kalimat fi al-Wasathiyyah al-Islamiyyah, hlm. 52).

Oleh karena itu, salah satu tujuan syariat Islam (maqashid asy-syari‘ah) yang berkaitan dengan kemanusiaan adalah saling mengenal, menolong, dan melengkapi satu sama lain. Hal ini ditegaskan dalam surat al-Hujurat (49): 13 (Jamaluddin ‘Athiyyah, Nahw Taf‘il Maqashid asy-Syari‘ah, 2003: 165-166).

Menurut saya, Gus Ulil mengamalkan spirit al-Hujurat (49): 13 tersebut, yaitu mengenali tradisi dan ajaran agama-agama lain dengan cara mempelajarinya secara langsung dan bergaul dengan tokoh-tokoh agama tersebut. Sebab, tidak mungkin seorang Muslim akan mengenal ajaran Kristen secara utuh apabila tidak mempelajarinya secara langsung, seperti dari doktrin-doktrin agama Kristen dan literatur-literatur kekristenan yang memang ditulis oleh sarjana-sarjana Kristen.

Dalam hal ini, Gus Ulil adalah seorang pengembara ilmiah yang senantiasa haus terhadap ilmu pengetahuan dan hikmah dari tradisi agama apapun. Sehingga beliau mempelajari agama-agama lain, seperti Kristen dan Yahudi. Bahkan beliau sengaja belajar bahasa Ibrani agar bisa mempelajari kitab Torah (lihat “Tentang “Puisi Paskah” itu: Sebuah penjelasan”).

Menurutnya, ilmu pengetahuan, hikmah, dan cinta bisa didapatkan dari mana saja, baik tradisi Islam (Muhammadku), Kristen/Katolik (Yesusmu), Hindu (Krisnamu), Buddha (Buddhamu), Konghucu (Konfuciusmu), maupun tradisi agama lainnya. Apalagi sebuah hadis menyebutkan bahwa hikmah adalah barang hilangnya orang mukmin, maka di manapun dia menemukannya harus mengambilnya (as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, 1985: 310-311).

Ketiga, “Puisi Paskah” tersebut mengajak masyarakat Indonesia agar lebih merekatkan dialog-antar iman dan persaudaran sesama anak bangsa yang multi etnis, agama, dan keyakinan. Sehingga konsep persaudaraan (baik sesama manusia/ukhuwwah basyariyyah, sesama Muslim/ukhuwwah islamiyyah, maupun sebangsa/ukhuwwah wathaniyyah) yang sangat ditekankan dalam Islam betul-betul dirasakan. Artinya, lebih baik kita mengedepankan persamaan daripada membesar-besarkan perbedaan ajaran dan teologis masing-masing agama―yang pada akhirnya akan menyulut konflik dan pertumpahan darah di antara sesama saudara.

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, persaudaraan akan kokoh apabila tiga unsur ini dipenuhi, yaitu: cinta, persamaan, dan tolong menolong (Kaifa Nata‘amal ma‘a al-Qur’an al-‘Azhim? 1999: 118-119). Al-Qur’an surat al-Mumtahanah (60): 8 memperbolehkan setiap Muslim berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang non Muslim selama mereka tidak memerangi dan mengusir masyarakat Muslim (Kalimat fi al-Wasathiyyah al-Islamiyyah, hlm. 49). Oleh karena itu, menurut saya, “Puisi Paskah” tersebut merupakan salah satu cara Gus Ulil mencintai dan berbuat baik kepada umat Kristen/Katolik.

Keharmonisan antara umat Islam dan Kristen ini penting diperhatikan, karena memengaruhi stabilitas perdamaian dunia. Sebab, lebih dari separuh penduduk dunia adalah pemeluk agama Islam dan Kristen. Sehingga masa depan perdamaian dunia bergantung kepada perdamaian antara umat Islam dan Kristen.

Oleh karena itu, tokoh-tokoh Muslim dan Kristen membuat ijmak lintas agama secara internasional tahun 2007. Ijmak ini melahirkan dokumen Kalimatun Sawa atau A Common Word Between Us and You (ACW) yang ditandatangani oleh 138 ulama dan beberapa tokoh penting Kristen. Hal ini karena memang Islam dan Kristen sama-sama mengajarkan dua esensi ajaran mulia, yaitu: cinta Tuhan Yang Esa (love of the One God) dan cinta tetangga (love of the neighbour). Sehingga persamaan dua esensi ajaran ini harus lebih dikedepankan daripada membesar-besarkan perbedaan-perbedaan ajaran lainnya.

Dengan demikian, daripada kita sibuk mempertentangkan ajaran agama satu dengan agama lainnya lebih baik kita berlomba-lomba mengamalkan ajaran agama kita masing-masing, yaitu: mencintai Tuhan Yang Esa dan tetangga (orang lain) penuh ketulusan, baik dekat maupun jauh; baik sebangsa maupun tidak; baik seagama maupun tidak; baik sealiran maupun tidak; baik sesuku maupun tidak; baik seorganisasi maupun tidak. Akhirnya, wa allah a‘lam wa a‘la wa ahkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here