Catatan tentang Sejarah Perkembangan Rohani Islam (Rohis)

0
454

BincangSyariah.Com – Kegiatan Rohani Islam (Rohis) di sekolah-sekolah umum baru mulai dikenal khususnya di Jakarta pada akhir era 1980-an. Sekolah-sekolah umum di Jakarta, pada era 1970-an dan 1980-an lebih kental dengan semangat sekularnya dibandingkan semangat keagamaannya. Simpulan itu, saya dapatkan dari pengalaman orang tua yang mengampu mata pelajaran Agama Islam di salah satu SMA di Jakarta Selatan mulai dari tahun 1984 hingga 2011.

Pada masa-masa tahun 1970-an dan 1980-an, Sekolah Menengah Tingkat Atas di Jakarta lebih dikenal dengan kegiatan seni, intelektualitas dan juga tawuran pelajarnya.

Maka dari itu, tidaklah mengherankan pada awal 1980-an, beberapa sekolah yang dikenal favorit karena banyak lulusannya yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit, tapi juga dikenal sebagai peserta aktif tawuran pelajar. Sebut saja di sini sekolah-sekolah itu adalah SMA Negeri 4 dan SMA Negeri 7 yang dulu sama-sama berlokasi di Gambir, SMA Negeri 1 yang berlokasi di Budi Utomo, STM Negeri 6 yang berlokasi di Jl. Kramat, STM Negeri 12 yang berlokasi di Pluit, SMA 70 di Jl. Bulungan, STM Negeri Penerbangan, SMA Negeri 46 yang berlokasi di Cipete dan masih banyak lagi.

Pada dekade 1980-an dan juga 1990-an, tawuran pelajar, di samping peredaran narkoba dan perilaku seks bebas, menjadi problematika akut di kalangan pelajar di DKI Jakarta. Prestasi akademik dan intelektual sekolah-sekolah favorit di Jakarta pada masa-masa itu, dibayang-bayangi tiga masalah yang disebut di atas.

Film-film lokal yang bercerita tentang kehidupan remaja dan tayang pada era 1980-an dan 1990-an menggambarkan potret pelajar di Jakarta dan juga beberapa kota di Indonesia pada masa itu. Itu bisa kita pahami dari film Ali Topan Anak Jalanan, Lupus, Pengantin Remaja, Yang Muda Yang Bercinta, atau film-film yang dibintangi Rano Karno dan Yessi Gusman.

Baca Juga :  Nanti Malam Kikan dan Komunitas Musisi Mengaji Kembali Gelar Kajian Bulanan

Seminar dan workshop pun diadakan untuk membahas dan mencari solusi atas problematika yang terjadi di kalangan pelajar. Penataran P-4 yang diadakan mengawali masa pembelajaran bagi siswa baru, dalam kenyataannya dianggap tidak ampuh untuk menjadi solusi atas kenakalan remaja di kalangan pelajar. Saya ingat pada masa-masa 80-an (1988-1989) dan awal 90-an (90, 91 hingga 93), Pemerintah gencar mengadakan kegiatan yang berorientasi kepada pembinaan mental para pelajar, seperti kemah pelajar, latihan dasar kepemimpinan, pentas seni budaya, seminar pelajar, dan lain-lain.

Dari banyaknya kegiatan-kegiatan yang diadakan itu, kegiatan yang bernuansa keagamaan, dalam hal ini Islam seperti pesantren kilat, belum banyak diadakan. Pada era 1980-an kegiatan pesantren kilat hanya diadakan di masjid-masjid tertentu. Belakangan baru diketahui bahwa kegiatan pesantren kilat (sanlat) itu diadopsi dari model pengajian usroh yang pernah digagas oleh alm. Dr. Ir. Imaduddin Abdurrahim dan beberapa aktivis HMI.

Bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here