Cara Unik Ulama Nusantara Menjelaskan Isra’ Mi’raj

0
528

BincangSyariah.Com – Dari zaman ke zaman, para ulama terus berupakan menjelaskan isra’ mi’raj dengan kadar keilmuan yang mereka miliki. Perbincangan yang sering kali muncul setiap moment peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw tiba adalah cara memahami peristiwa tersebut dengan mudah dan logis.

Isra’ adalah perjalanan Rasulullah Saw bersama malaikat Jibril dari dari Masjidil Haram di Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina pada malam hari dengan mengendarai Buroq.

Sementara Mi’raj dipahami sebagai naiknya beliau dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha hingga bertemu dengan Allah Swt. Perjalanan dari Makkah ke Palestina, lalu Mi’raj hingga menemui Allah Swt dan pulang kembali ke Makkah ini hanya terjadi dalam satu malam, bahkan kurang dari satu malam.

Karenananya, wajar jika perjalanan yang singkat dari segi waktu namun jauh dari segi jarak ini sulit dipahami oleh akal sehat manusia biasa, mengingat belum ada alat transportasi yang menjangkaunya hingga hari ini.

Allah Swt telah menceritakannya secara tegas dalam QS. Al-Isra’: 1 tentang peristiwa Isra’, yang berbunyi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

Sementara peristiwa Mi’raj, oleh sementara ulama, didasarkan pada firman Allah Swt QS. Al-Najm: 14, yang berbunyi:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى – 13 عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى – 14)

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (QS. Al-Najm: 13-14)

Baca Juga :  Hukum Mengundang Mantan ke Acara Pernikahan

Para pakar tafsir bil ma’tsur (tafsir dominan berbasis riwayat)seperti Ibnu Katsir, ayat di atas dipahami dengan menggunakan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim yang menceritakan cukup detil peristiwa Isra’ dan Mi’raj, mulai dari “pembedahan” dada Nabi Saw, pencucian hati dengan air zam-zam, perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah hingga Baitul Maqdis di Palestina dengan mengendarai Buraq, lalu dimi’rajkan menuju Sidratul Muntaha melewati tujuh langit, bertemu dengan beberapa Nabi terdahulu, bertemu Allah dan mendapatkan wahyu berupa kewajiban salat lima waktu, hingga pulang kembli ke Makkah sebelum salat Subuh. Penafsiran seperti ini memang kuat dari segi teologis karena merujuk kepada hadis Nabi saw yang valid. Namun, ia cenderung dogmatis dan masih butuh penjelasan yang logis agar mudah diterima masyarakat.

Lalu muncullah tawaran dari Tafsir Ilmi yang memahami peristiwa Isra’ Mi’raj dengan ilmu Fisika Quantum, Astrofisika, maupun Nuclear Engineering, yang cenderung rumit penjelasannya dan susah dipahami masyarakat awam. Thomas Dajamaluddin, misalnya, memahaminya sebagai perjalanan antardimensi; karena dalam perjalanan ini ada fenomena fisik, yang dikenal sebagai dimensi ruang waktu, dan fenomena non-fisik di luar dimensi ruang-waktu.

Sederhananya, perjalanan Rasulullah ini adalah perjalanan dari dimensi ruang-waktu yang satu ke dimensi ruang-waktu yang lain. Jika diibaratkan dengan suatu alam tiga dimensi berbentuk “U” besar, maka perjalanan Nabi ini mengambil jalan pintas dari ujung “U” yang satu ke yang lainnya, sehingga jaraknya menjadi lebih pendek.

Penafsiran semacam ini barangkali cukup menjawab pertanyaan penulis di awal tulisan secara logis. Akan tetapi terdapat kesulitan dalam mencerna istilah-istilah yang ada dalam ilmu fisika di atas. Sehingga bagi masyarakat awam, penafsiran ini masih agak rumit dan cenderung membingungkan.

Baca Juga :  Dosa Pemberontak Pemerintahan yang Sah

Maka menarik kiranya kita menyimak penafsiran yang dipaparkan oleh Kiai Sya’roni Ahmadi. Ketika menafsirkan ayat di atas, beliau memulainya dengan kata kunci asraa yang diartikan dengan “ngelakoake” atau “memperjalankan” yang mana subjeknya adalah Allah. Bahwa yang paling mendasar untuk diketahui adalah fakta perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini bukan atas kehendak dan kemampuan Nabi sendiri, melainkan beliau diperjalankan oleh Allah Swt. Ketika Allah swt yang memperjalankan, maka semuanya menjadi mungkin.

Lebih lanjut Kiai Sya’roni menganalogikan dengan hewan “kutu kasur”, atau dalam Bahasa Jawa disebut “Tinggi”. Kiai Sya’roni berkata, “Tinggi teko Jember neng Masjid Menoro melaku dewe, kan wulanan. Tapi nek tinggi mau manggon neng kethu, lha kethu mau dienggo wong neng Masjid Menoro numpak motor, kan cepet. Balik maneh neng Jember, terus Tinggi cerito neng kancane nek de’e lagi bar Isra’…”

Artinya: “Jika kutu kasur berjalan kaki dari Jember (salah satu tempat di Kudus) ke Masjid Menara, ya bisa berbulan-bulan sampainya. Tetapi kalau kutu tersebut berada di peci, lalu peci itu dipakai oleh seseorang menuju Masjid Menara Kudus dengan menaiki motor, ya sangat cepat sampainya. Orang tersebut pulang kembali ke Jember, lalu kutu bercerita kepada teman-temannya bahwa ia usai di-isra’-kan…”

Demikianlah. Untuk menjelaskan ayat-ayat tentang peristiwa luar biasa yang sulit diterima oleh nalar masyarakat awam, Kiai Sya’roni hanya cukup menganalogikannya dengan hal-hal sederhana yang ada di sekitar masyarakat. Sebab, beliau paham bahwa menafsirkannya dengan penjelasan hadis atau ilmu fisika yang rumit dan panjang ternyata kurang memuaskan dan justru berpotensi menambah kesulitan. Maka dipilihlah model yang disebut Tafsir Hida’i. Sederhananya, tafsir hida’i adalah tafsir ringkas dan sederhana,  namun menjawab pertanyaan dan problem yang ada di sekitar masyarakat.

Baca Juga :  Iktibar dari Kecongkakan Abu Lahab: Mendalami Tafsir Surah al-Masad

Demikian halnya ketika Kiai Sya’roni menanggapi perdebatan apakah Nabi menjalani Isra’ dan Mi’raj dengan ruhnya saja atau ruh dan jasadnya? Beliau hanya menjelaskan,

“Nek Nabi saw Isra’-Mi’raj nganggo ruhe beloko, poro sahabat lan kafir Quraisy ora bakal berselisih,”

“jika Isra’ dan Mi’raj Nabi hanya dengan ruhnya saja, para sahabat Nabi saw dan orang-orang kafir Quraisy tidak akan memperselihkan.”

Dengan kata lain, Kiai Sya’roni ingin menegaskan bahwa Isra’ dan Mi’raj-nya tidak hanya dengan ruhnya saja, tetapi juga jasadnya. Sebab jika hanya dengan ruh, semua orang akan menerima.

Kiai Sya’roni Ahmadi adalah salah seorang mustasyar NU dari kota kretek Kudus yang dikenal sebagai pakar al-Quran. Sejak tahun 1983 hingga hari, beliau konsisten mengadakan pengajian tafsir al-Quran di Masjid al-Aqsha Menara Kudus setiap Jum’at Fajar. Melalui penafsiran yang bercorak hida’i-ijtima’i (petunjuk-sosial), beliau menjawab problem-problem aktual yang beredar di masyarakat Kudus khususnya, dan Indonesia pada umumnya, dengan menjadikan al-Quran sebagai inspirasi. Pengajiannya diminati oleh lebih dari 5000-an jamaah dari berbagai ormas dan daerah di Jawa Tengah.

Semoga Allah memanjangkan umur beliau dalam kesehatan dan keberkahan. Amin.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here