Cara Rasulullah Menyelesaikan Masalah-masalah Ekonomi

0
1256

BincangSyariah.Com – Ekonomi adalah persoalan universal. Oleh sebab itu, seluruh dunia menaruh perhatian yang besar terhadap permasalahan ekonomi. Manusia berusaha mengerahkan tenaga dan pikiran untuk memenuhi keperluan hidup, seperti sandang, pangan dan tempat tinggal.

Pengerahan tenaga dan pikiran menjadi penting untuk menyempurnakan kehidupan baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Semua usaha yang bertujuan untuk memenuhi keperluan ini dinamakan sebagai ekonomi. (Baca: Wakaf Sejak Zaman Rasulullah Hingga Saat Ini)

Islam memandang masalah ekonomi tidak dari sudut pandang kapitalis, tidak juga dari sudut pandang sosialis. Ekonomi Islam adalah gabungan dari keduanya. Islam memberikan perlindungan hak kepemilikan individu. Dalam kepentingan masyarakat, Islam menjaga keseimbangan kepentingan publik dan individu serta menjaga moralitas.

Pemikiran Ekonomi Islam diawali sejak Nabi Muhammad Saw. ditunjuk sebagai seorang Rasul. Rasululllah Saw. mengeluarkan beberapa kebijakan yang menyangkut berbagai hal. Sejumlah kebijakan tersebut berkaitan dengan masalah kemasyarakatan, selain masalah hukum atau fiqih, politik atau siyasah, juga masalah perniagaan atau ekonomi atau muamalah.

Rasulullah Saw. memperhatikan masalah-masalah ekonomi umat karena masalah ekonomi adalah pilar penyangga keimanan yang mesti diperhatikan. Kebijakan-kebijakan Rasulullah Saw. pun dijadikan sebagai pedoman oleh para Khalifah sebagai penggantinya dalam memutuskan masalah-masalah ekonomi.

Selain kebijakan Rasulullah Saw., Al-Qur’an dan Al-Hadits juga digunakan sebagai dasar teori ekonomi oleh para khalifah dan oleh para pengikutnya dalam menata kehidupan ekonomi negara.

Dalam buku Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (2010), Nur Chamid menuliskan bahwa tatkala Rasulullah Saw. diberi amanat untuk mengemban dakwah Islam pada umur 40 tahun, belum ada tentara formal seperti masa kini. Semua Muslim yang mampu pun boleh jadi tentara.

Baca Juga :  Mengaji Ulasan Wahdatul Wujud dalam Manuskrip Ulama Aceh

Orang-orang yang mampu tersebut tidak mendapatkan gaji tetap, tapi mereka diperbolehkan mendapatkan bagian dari harta rampasan perang. Rampasan tersebut meliputi senjata, kuda, unta, domba, dan barang-barang bergerak lainnya yang didapatkan dari perang.

Keadaan tersebut kemudian berubah setelah diturunkannya Surat Al-Anfaal ayat 41:

۞ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Wa’lamū annamā ganimtum min syai`in fa anna lillāhi khumusahụ wa lir-rasụli wa liżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīli ing kuntum āmantum billāhi wa mā anzalnā ‘alā ‘abdinā yaumal-furqāni yaumaltaqal jam’ān, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah Swt., Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah Swt. dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Biasanya, Rasulullah Saw. membagi seperlima (khums) dari hasil rampasan perang menjadi tiga bagian. Bagian pertama diperuntukkan bagi beliau dan keluarga. Bagian kedua untuk kerabatnya. Bagian ketiga untuk anak yatim piatu atau orang yang sedang membutuhkan dan orang yang sedang dalam perjalanan.

Sedangkan untuk empat perlima bagian yang lain dibagikan untuk para prajurit yang ikut perang. Dalam kasus tertentu, beberapa orang yang tidak ikut serta dalam perang juga mendapatkan bagiannya. Sebagai misal, penunggang kuda. Ia akan mendapat dua bagian yakni untuk dirinya sendiri dan kudanya.

Baca Juga :  Peran Akun Media Sosial dan Rekening dalam Fikih Muamalah

Pada masa Rasulullah Saw, beliau mengadopsi praktik ekonomi yang lebih manusiawi terhadap tanah pertanian yang telah ditaklukkan sebagai fay’ atau tanah dengan kepemilikan umum. Tanah-tanah pertanian tersebut dibiarkan dimiliki oleh pemilikinya dan penanamnya.

Praktik ini sangat berbeda dengan praktik yang dilakukan oleh kekaisaran Romawi dan Persia yang memisah-misahkan tanah dari pemiliknya dan membagikannya kepada elit militer serta para prajurit.

Semua tanah yang dihadiahkan kepada Rasulullah Saw. (iqta’) pun relatif lebih kecil jumlahnya. Tanah-tanah tersebut umumnya terdiri dari tanah-tanah yang tak bertuan. Kebijakan tersebut tidak hanya mambantu mempertahankan kesinambungan kehidupan administrasi dan ekonomi tanah-tanah yang dikuasai, tapi juga bisa mendorong keadilan antar generasi dan mewujudkan sikap egaliter.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here