Cara Nabi Muhammad Mendidik Remaja

1
1980

BincangSyariah.Com- Anak dalam pandangan Islam merupakan titipan Allah kepada orang tua, masyarakat, bangsa, dan negara. Anak ibarat sebuah kertas putih yang siap untuk digunakan menggambar, mewarnai, dan mengukir cerita. Sebagaimana yang telah dijelaskan Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA,

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi”.

Hadits di atas menjelaskan bahwa anak merupakan sebuah gambaran yang telah dihasilkan dari ukiran atau lukisan orang tua. Orang tua yang dimaksud tidak hanya orang tua secara biologis namun juga orang tua secara idiologis seperti guru.

Anak pada dasarnya memiliki masa yaitu masa pertumbuhan dan perkembangan. Dalam menjalani masa tersebut perlulah bimbingan dan pendampingan yang lebih dari orang tua. Terlebih pada masa pubertas atau masa remaja. Masa remaja pada dasarnya merupakan waktu transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa di mana seseorang punya rasa keingintahuan yang kuat. Mereka juga selalu ingin mencoba hal-hal baru.

Remaja dalam bahasa latin disebut dengan “adolensence” yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Kata adolensence sendiri mempunyai arti yang luas; mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Seiring perkembangan anak baik secara fisik maupun mental maka pengajaran, pendidikan, pelatihan, serta bimbingan yang baik sangatlah diperlukan dalam melewati dan menyelami masa remaja ini. Hal tersebut bertujuan agar anak di usia remajanya tidak terjerumus dalam hal-hal yang berbahaya dan dilarang baik secara agama maupun secara negara.

Pasalnya, seorang remaja memiliki emosi yang labil. Sudah mulai tertarik pada lawan jenis, dan mulai berani melakukan hal-hal baru. Lingkungan sosial ketika masa remaja ini sangat mendukung untuk pembentukan karakter. Maka sebagai orang tua perlulah memilih cara pengajaran serta cara mendidik yang tepat untuk anak di masa remaja. Karena pada dasarnya anak merupakan aset terpenting negara, bangsa, dan agama. Sehingga dapat dikatakan bahwa anak merupakan cikal bakal al-Khalifatu fii al-Ardh, yang berarti pemimpin di muka bumi. Banyak figur yang dapat dijadikan contoh oleh orang tua dalam mendidik anak di usia remaja. Seperti Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW memiliki metode untuk mendidik anak pada usia puber. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

Baca Juga :  Tradisi Berguru dalam Dunia Keilmuan Islam

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا مَهْ مَهْ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ فَجَلَسَ قَالَ أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.

 Dari Abu Umamah: Sesungguhnya seorang pemuda mendatangi Nabi SAW lalu berkata; Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina. Orang-orang mendatanginya lalu melarangnya, mereka berkata; diamlah!. Rasulullah Saw bersabda; “Mendekatlah.” Ia mendekat lalu duduk kemudian Rasulullah SAW bersabda; “Apa kau menyukainya (orang lain) berzina dengan ibumu?” pemuda itu menjawab; Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebus Tuan. Nabi saw bersabda; Orang-orang juga tidak menyukainya berzina dengan ibu-ibu mereka.” Rasulullah SAW bersabda; “Apa kau menyukainya berzina dengan putrimu?” Tidak, demi Allah wahai Rasulullah semoga Allah menjadikanku sebagai penebus Tuan. Rasulullah SAW bersabda; Orang-orang juga tidak menyukai berzina dengan putri-putri mereka.”Kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangan beliau pada pemuda itu dan berdoa;“Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya.” Setelah itu pemuda tersebut tidak melirik apapun”.

Dari kisah yang dibahas dalam hadits di atas, dapat kita ambil nilai-nilai pendidikan yang digunakan Rasulullah SAW sebagai metode dalam mendidik anak di usia puber. Adapun formulanya antara lain: Pertama, mengajak anak usia puber untuk berdiskusi. Artinya sebagai orang tua dapat memposisikan diri sebagai teman dari anak di masa puber. Sehingga anak tidak sungkan untuk bercerita mengenai apapun terutama mengenai masalah yang tengah dihadapi oleh anak.

Baca Juga :  Kisah Perang Bani Musthaliq, Perang di Bulan Sya'ban

Dalam berdiskusi dengan anak orang tua diharapkan dapat memusatkan konsentrasi pikiran anak usia puber pada pertanyaan yang dilontarkan. Sehingga terjadilah interaksi esensial dan interaksi yang harmonis anatara orang tua dengan anak.  Selain itu, dalam berdiskusi orang tua dituntut untuk memberikan pertanyaan yang banyak, sehingga dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarakan menghasilkan jawaban yang bermacam-macam pula dari anak. Dengan jawaban yang diberikan oleh anak, sehingga dapat membuat orang tua mudah menemukan akar masalah dan memudahkan dalam mencarikan solusi untuk anak.

Kedua, membuka dialog dengan anak usia puber. Jika anak tidak mau bercerita kepada orang tua, maka dalam hal ini orang tua yang harus lebih sensitif. Orang tua harus sigap menanyai anak dan membuka pembicaraan terlebih dahulu.

Ketiga, menguasai psikologi anak. Dalam hal ini sebagai orang tua harus memahami psikologi anak. Sehingga ketika orang tua memberikan solusi dapat memilah dan memilih kata yang sekiranya dapat diterima dan dipahami anak, tanpa menyinggung perasaan anak.

Dengan perlakuan sebagaimana metode yang dilakukan Rasulullah terhadap anak puber di atas,  dapat menjadikan seorang anak di usia puber tetap menjadi remaja yang bebas, akan tetapi tetap dalam kendali atau kontrol yang baik. maka sebagai orang tua yang memiliki tugas mengajar, mendidik, membimbing, dan melatih seorang anak yang sedang berada di masa puber perluhlah mencontoh metode dalam mendidik anak usia puber yang telah Rasulullah SAW lakukan. Sehingga anak dapat memberikan hasil lukisan yang baik untuk dipajangkan kelak nanti dan dapat membangkan orang tua, agama, bangsa, dan negara. Aamiin.

Wa Allahu A’lamu bi ash-Showaab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here