Cara Mudah Membedakan Kebaikan dan Kejahatan

0
1421

BincangSyariah.Com – Dunia memang diciptakan oleh Allah untuk manusia, tak lain adalah untuk mengujinya, apakah ia mampu memegang amanat atau menjadi orang yang khianat (tidak amanat) dengan dibekali oleh akal yang sempurna serta selalu dituntun oleh kitab suci Alquran yang telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad sebagai pembawa rahmat ke seluruh alam.

Sudah menjadi sunnatullah di muka bumi ini, bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya berjodoh-jodoh, berpasang-pasangan, ada laki-laki dan perempuan, ada yang tinggi, dan pendek, ada yang kaya, juga tak mempunyai apa-apa, ada yang mendapat petunjuk, juga pemabuk, ada pahlawan, juga musuh yang melawan. Maka dari itu manusia harus mampu membedakan antara kebenaran dan keburukan, supaya hidupnya tak tertipu, terlena oleh hembusan nafsu atau iming-imingan dunia yang sering membikin lupa, seperti dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

عَنْ النُّوَاسِ بنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلْبِرُّ حُسْنُ الخُلُقِ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: diriwayatkan oleh Annuwas bin Sam’an, Nabi bersabda: “kebaikan itu budi pekerti (akhlak) yang baik, sedangkan dosa atau kejahatan adalah sesuatu yang meragukan dirimu (jiwa) serta kamu tidak suka memperlihatkannya kepada orang lain.” (HR. Muslim)

Atau dalam hadis lain yang berbunyi:

وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:  جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ البِرِّ ؟ قُلْتُ : نَعَمْ ، فَقَالَ : اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ، اَلْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِيْ الصَّدْرِ ، وَإنْأَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتُوْكَ. حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَيْنَاهُ فِيْ مُسْنَدَيِ الإِمَامَيْنِ : أَحْمَدَ بنِ حَنْبَلٍ ، وَالدَّارِمِيِّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ .

Artinya: Dari Wabishah bin Ma’bad beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau menjawab “Mintalah fatwa (jawaban) kepada hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang menyebabkan hati bimbang dan cemaskan dada, walaupun banyak orang mengatakan hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad ibnu Hanbal dan Imam Darimi)

Baca Juga :  Bangun Kembali Salah Satu Pesantren Tertua di Cirebon

Dari penjelasan dua hadis di atas dapat dipahami bahwa untuk membedakan kebaikan dengan kejahatan (dosa) adalah:

Pertama, kata al-birru mempunyai beberapa arti: Pertama, berarti surga. Kedua, Sesuatu yang menentramkan jiwa dan hati. Ketiga, Keimanan. Keempat, sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kitab Mirqat Al-Mashobih karya Syeh Ali bin Sulthan Muhammad Al Qori mengutip pendapat Imam Tirmidzi yang menjelaskan kata al-birru dengan bersilaturrahmi, serta berbuat kebenaran, serta melakukan ketaatan.

Dari penjelasan di atas menjadi jelas bahwa kebaikan adalah sesuatu yang menentramkan hati dan jiwa, dengan mengerjakan amalan yang bisa mendekatkan diri dengan Allah yang jaminannya surga. Semua ini bisa didapatkan ketika manusia mempunyai budi pekerti (akhlak) yang baik dalam pergaulan, misalnya dengan berkata yang baik tanpa menyinggung orang lain, serta memperlihatkan muka yang berseri-seri, menghilangkan kemasaman yang menjadikan orang lain tak nyaman dengannya, dan juga menjauhkan dari sikap pemarah yang berlebihan, karena hal itu akan mengecewakannya.

Kedua, yang dinamakan keburukan, kejahatan (hal yang mengandung dosa) dapat diketahu melalui 2 hal. Pertama, sesuatu yang menambah tekanan batin, hati tak tenang, selalu bimbang, ibarat dada tambah menyempit. Kedua, malu bila manusia mengetahui keburukan hal itu.

Dari sini dapat diambil kesimpulan, Pertama: bahwa kebaikan maupun keburukan dapat dideteksi dengan menanyakan kepada hati nurani seseorang yang paling dalam, karena hati sebagai eksekutor dalam mengambil tindakan. Kedua, akhlak yang baik merupakan anjuran agama, sehingga orang yang mengetahui ajaran agama, tapi akhlaknya tak mulia akan menjatuhkan harga dirinya. Sungguh beruntung orang yang mampu mengkombinasikan akal pikiran dan hati, yang diimplementasikan dalam kehidupan sehingga terpancar keramahan akhlak dalam pergaulan dengan Allah, maupun dengan makhluk-Nya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here