Cara Menjaga Toleransi Ala Kota Salatiga

0
20

BincangSyariah.Com – Kota Salatiga adalah salah satu kota paling toleran se-Indonesia. Bisa dibilang, Salatiga adalah miniatur Indonesia. Warga masyarakat di sana hidup berdampingan dengan rukun, terutama masyarakat antarumat beragama dan antaretnis.

Salatiga merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Semarang. Salatiga terletak 49 kilometer di sebelah selatan Kota Semarang dan 52 kilometer di sebelah utara Kota Surakarta.

Salatiga juga berada di jalan negara yang menghubungkan antara Kabupaten Semarang dengan kota Surakarta. Jumlah penduduk kota Salatiga sampai akhir tahun 2019 tercatat berjumlah 195.010 jiwa.

Predikat Salatiga sebagai salah satu Kota Tertoleran atau kota paling toleran sudah terimplementasikan secara nyata dalam kehidupan beragama masyarakatnya. Salatiga memiliki komposisi pemeluk agama yang variatif. (Baca: Singkawang, Salah Satu Kota Paling Toleran di Indonesia)

Nilai tambah dari Kota Salatiga adalah Pemkot Salatiga yang terus berupaya memberi ruang yang sama. Ruang tersebut disediakan bagi seluruh masyarakat untuk beribadah, berekspresi, mengaktualisasikan diri, dan lain sebagainya.

Saat ada kegiatan keagamaan seperti perayaan hari raya, kegiatan seni, karnaval, dan lain-lain, semua tokoh agama selalu duduk bersama dan menyaksikan. Semua pemeluk agama juga ikut terlibat.

Ada tiga strategi yang diimplementasikan di kota Salatiga untuk mewujudkan dan menjaga toleransi. Caranya adalah dengan melakukan 3W yakni Wasis, Waras dan Wareg untuk mengembangkan sumber daya manusianya.

Pertama, Wasis.

Pemberian ruang yang sama terhadap semua pemeluk agama adalah bentuk kesadaran bahwa hanya manusia lah sumber daya yang dimiliki oleh Salatiga. Sumber daya manusia yang ada kemudian dikelola melalui tiga bidang pembangunan yaitu di pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Kedua, Waras.

SDM tersebut dibangun sedemikian lupa melalui bidang pendidikan agar masyarakat cerdas. Bidang yang lain, seperti bidang kesehatan, ada kegiatan berobat gratis, bahkan terhadap warga yang tidak mempunyai kartu sehat. Pengobatan tersebut diadakan sampai masyarakat bisa sembuh.

Baca Juga :  Benarkah Rasulullah Memerangi Non-Muslim Hingga Masuk Islam?

Ketiga, Wareg.

Dalam pembangunan manusia di bidang ekonomi, Salatiga mengadakan peningkatan kesejahteraan ekonomi mikro. Peningkatan tersebut ditumbuhkan di bidang kuliner, konveksi, ekonomi kreatif dan lain-lain. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat tetap sejahtera.

Pembangunan manusia yang dilaksanakan tidak terlepas dari komunikasi pemerintah dengan semua stakeholder. Komunikasi tersebut dijalankan agar terus terjalin hubungan yang baik dalam mengelola perbedaan yang ada. Upaya tersebut membuahkan hasil dengan menurunnya angka kemiskinan dan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang signifikan.

Pemenuhan 3W (Wasis, Waras, Wareg) tersebut memastikan masyarakat agar sepakat dalam menjaga pengaruh buruk dari luar. Hal tersebut dilaksanakan agar keamanan, ketertiban dan kebersihan kota stabil.

Menurut Setara Institute, toleransi adalah salah satu dari sekian banyak variabel kunci dalam membina dan mewujudkan kerukunan, inklusi sosial, dan mewujudkan negara berdasarkan Pancasila.

Pemerintah daerah di Indonesia khususnya kota yang heterogenitas sosio-kulturalnya lebih tinggi dibandingkan kabupaten adalah kantung masyarakat atau social enclaves yang dituntut untuk memainkan peran positif sebagai representasi negara dalam wajah yang lebih spesifik dan partikular.

Dalam sejarahnya, toleransi sudah ditunjukkan dalam Islam oleh kisah teladan Nabi Muhammad Saw. pada saat membangun Madinah. Rasulullah Saw. melihat ada pluralitas dan bukan karena etnis saja, tapi juga perbedaan agama.

Selain penduduk Muslim, ada juga penduduk di Madinah yang beragama Yahudi, Nasrani bahkan Musyrikin. Rasulullah Saw. pun mengambil jalan tengah dengan membangun toleransi dengan Piagam Madinah.

Piagam Madinah adalah dokumen politik resmi pertama yang membicarakan prinsip tentang kebebasan beragama sekaligus menegaskan bahwa toleransi beragama mesti ada untuk saling menghormati dan tidak menyakiti satu sama lain.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here