Cara Mengetahui Kredibilitas Perawi Hadis

0
2352

BincangSyariah.Com – Menurut Mahmud Thahan dalam Taysir Mushthalah al-Hadits, syarat sebuah hadis dikatakan shahih adalah ketersambungan sanad, perawinya adil (‘adalah), perawi mempunyai hafalan yang kuat (dhabit), tidak ada syadz, tidak ada ‘ilat. Kalau tidak ada salah satu dari syarat tersebut maka hadis dianggap dhaif dan tidak diterima.

Hadis sampai kepada kita dengan cara diriwayatkan oleh para perawi hadis yang tersambung sampai Rasulullah. Maka mengetahui kredibilitas perawi hadis merupakan dasar utama dalam mengetahui kualitas sebuah hadis. Apakah hadis itu shahih atau tidak.

Kridebilitas perawi dinilai dari (1) kepribadian ‘adil dan (2) kekuatan hafalan sang perawi. Maka di sini kita membutuhkan ilmu al-jarh wa al-ta’dil, Ajaj al-Khathib mendefinikannya sebagai ilmu yang menerangkan tentang ihwal para rawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya.

Mahmud Thahhan menerangkan dalam kitabnya definisi ‘adil dan dhabit sebagaimana berikut

العدالة:ويعنون بها أن يكون الراوي مسلما بالغا عاقلا سليما من اسباب الفسق سليما من خوارم الممروءة. والضبط:  ويعنون بها أن يكون الراوي غير سيئ الحفظ ولا فاحش الغلظ ولامخالفا للثقات ولا كيثر الأوهام ولامغفلا

‘Adalah adalah perawi muslim, baligh, bebas dari sebab-sebab fasik dan muruah yang rusak. Dhabith; tidak jelek hafalannya, tidak parah sifat kelirunya, tidak menyalahi perawi tsiqah lain , jarang salah, tidak lupa.”

‘Adil maksudnya adalah perawi harus seorang muslim, baligh, berakal dan bebas dari sifat fasik dan sifat yang merusak moral. Dalam Ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid disebutkan terdapat dua alasan seorang rawi dapat dikatakan adil;

1. Baik dengan penetapan atau kesaksian para ulama jarh wa al-ta’dil tentang keadilan perawi tersebut dalam kitab al-jarh wa al-ta’dil karangan mereka.

Baca Juga :  Akhlak Syekh Abu Bakar bin Salim dalam Menjaga Perasaan Manusia

2. keadilan perawi tersebut sudah dikenal di kalangan ahli hadis akan kejujuran, keistiqamahan dan kepintaran atau kekuatan hafalannya. Seperti Malik bin Anas, al-Auza’i, Laisyt bin Sa’d. Maka mereka tidak perlu dipertanyakan lagi.

Adapun kekuatan hafalan seorang rawi hadis dapat diketahui jika hadis yang diriwayatkannya sesuai dengan para perawi tsiqah lainnya, namun jika riwayatnya berbeda dengan kebanyakan riwayat lainnya jika perbedaan tersebut cukup banyak maka hafalannya dipertanyakan dan apa yang diriwayatkan tidak bisa dijadikan landasan hukum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here