Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan Menurut Ulama

1
94

BincangSyariah.Com – Manusia pada fitrahnya tidak memiliki pengetahuan sama sekali pada dirinya. Ia ibarat kertas kosong, sementara pengetahuan sangatlah banyak. Lalu bagaimana manusia bisa memperoleh pengetahuan yang banyak itu?

al-Ghazali Bicara Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan

Al-Ghazali dalam kitab al-Munqidz min adh-Dhalal menyebut bahwa cara manusia memperoleh pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan kemampuan pada manusia itu sendiri. Al-Ghazali menyebutnya kemampuan memperoleh pengetahuan adalah al-idrak (kemampuan mengetahui). Al-idrak ini diciptakan oleh Allah Swt. agar manusia dapat mengetahui segala macam pengetahuan yang ada di alam raya ini.

Al-idrak yang dimiliki manusia diterima secara bertahap. Al-Ghazali mengatakan ada empat tahap yang akan dilalui oleh manusia dalam memperoleh pengetahuannya.

Pertama: Pengetahuan Indrawi

manusia akan memperoleh pengetahuan melaui indranya. Mula-mula ia akan memperoleh pengetahuan melalui indra raba (haassah al-lams). Dengan indra raba ini, ia akan mengetahui panas, dingin, basah, kering, kasar dan halus. Namun, indra raba tidak bisa mengetahui warna dan suara.

Untuk itu, diciptakan indra penglihatan (hassah al-bashar). Dengan indra penglihatannya ini, manusia bisa mengetahui hakikat bentuk (sosok) dan warna. Kemudian diciptakan indra pendengaran (haassah as-sam’i) sehingga ia bisa mendengar suara. Lalu diciptakan indra pengecap (haassah adz-dzauq) untuk dapat mengetahui aneka rasa; manis, pahit, kecut, asin, dan tawar. Pengetahuan yang diperoleh menggunakan indra ini disebut oleh al-Ghazali sebagai ilmu al-mahsusat (ilmu indrawi).

Kedua: Kemampuan Membedakan (at-Tamyiiz)

Manusia diberikan kemampuan membedakan (at-tamyiz). Dengan kemampuan at-tamyiz, ia akan dapat membedakan apakah yang ia rasakan dengan meraba adalah panas atau dingin, apa yang ia lihat adalah api atau es, apa yang ia kecap itu rasa manis atau pahit. Kemampuan membedakan ini (dalam pengertian yang sempurna) diperkirakan akan diperoleh manusia secara sempurna di umur 7 tahun.

Ketiga: Kemampuan Rasio

Manusia diberikan kemampuan rasio (al-‘aql). Dengan perangkat akal, manusia dapat berpikir tentang segala ciptaan Allah swt. Semakin akal ini diasah, maka kemampuan daya nalarnya bertambah kuat. Karenanya, kejeniusan seseorang bisa berbeda-beda sesuai tingkat daya nalarnya. Dengan akal ini pula, manusia berbeda dari binatang. Sebab secara sepintas, manusia dan binatang nyaris sama. Hanya saja yang membedakannya adalah, manusia berpikir dengan menggunakan akalnya, sementara binatang tidak.

Untuk berkecimpung dalam segala macam ilmu pengetahuan, semisal matematika, filsafat, sains, bahkan fikih dan ushul fikih pun, manusia membutuhkan perangkat kemampuan mengetahui (al-idrak) yang disebut dengan akal ini. Itu semua menunjukkan kalau akal sangat penting bagi manusia sebagai hewan yang berpikir. Pengetahuan yang diperoleh melalui perangkat akal ini disebut oleh al-Ghazali sebagai ilmu al-‘aqliyat (ilmu rasional).

Empat: Kemampuan Mendapat Ilham

Manusia diberikan kemampuan kasyaf (ketersingkapan). Dengan kemampuan kasyaf-nya ini, ia bisa mengetahui hal-hal gaib dan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa akan datang. Pengetahuan semacam ini langsung bersumber dari pemilik segala pengetahuan yang ada, yaitu Allah Swt. Ilmu semacam ini disebut oleh al-Ghazali sebagai ilmu ilhami.

Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan kasyaf dan diberikan ilmu ilhami. Hanya orang-orang yang melakukan mujahadah, membersihkan jiwa (tazkiyah an-nafs) dari sifat-sifat tercela dan menghiasi jiwa dengan akhlak-akhlak terpuji dengan selalu berdzikir kepada Allah yang akan diberikan kemampuan kasyaf sehingga ia mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan ilmu ilhami ini. Tabir (hijab) yang menghalangi ia dengan Allah akan disingkapkan baginya. Anda bisa mendalami hal ini dalam ajaran-ajaran tasawuf.

Banyak orang terutama dari kaum salafi dan rasionalis tidak mempercayai adanya ilmu ilhami ini. Mereka menganggap ilmu semacam ini irrasional. al-Ghazali menjawab, demikian adalah hal yang wajar karena mereka menilai ilmu ilhami dengan menggunakan akal.

Tentu akal tidak akan mampu menalar ilmu ilhami, sebab kemampuan mengetahui manusia dengan akal (sesuai urutan tahapan pengetahuan yang telah dipaparkan di atas) masih berada di bawah tingkat kemampuan mengetahui dengan cara kasyaf.

Hal ini sama seperti anak kecil yang masih berada dalam tahap memiliki kemampuan mengetahui melalui indra, kemudian ia diberikan semacam ilmu rasional. Tentu ia tidak akan mampu mengetahuinya sebelum ia sampai kepada tahap kemampuan mengetahui melalui akal. Artinya, tahap yang berada di bawahnya tidak dapat digunakan untuk menilai pengetahuan-pengetahuan yang berada di tahap di atasnya. Ilmu ilhami tidak bisa dinilai dengan akal melainkan dengan mata hati yang jernih dan dzauq (rasa).

Kisah tentang Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan Melalui Ilham

Orang yang tidak sampai ke tahap kasyaf dan tidak mengalami secara langsung, kata al-Ghazali, cenderung mengingkari adanya ilmu ilhami. Untuk membuktikan pemerolehan ilmu melalui kasyaf ini, al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin banyak menceritakan riwayat-riwayat para wali yang mengalami kasyaf dan diberikan ilmu ilhami.

Salah satunya adalah cerita Hamzah Bin Abdullah al-‘Alawi pada saat berkunjung ke Abu al-Khair at-Tinani. Hamzah bertekad ingin berkunjung dan tidak akan makan di rumah Abu al-Khair karena khawatir membuatnya repot. Tatkala Hamzah pulang, di jalan ia bertemu Abu al-Khair membawa nampan berisi makanan sambil berkata, “hai pemuda! Makanlah ini. Sekarang engkau sudah terlepas dari tekadmu untuk tidak makan di rumahku.”

Cerita di atas menunjukkan bahwa Abu al-Khair sungguh mengetahui apa yang ada di dalam benak Hamzah untuk tidak makan di rumah Abu al-Khair. Pengetahuan semacam ini disebut dengan ilmu ilhami. Kisah tersebut dapat dijadikan contoh pengalaman riil yang pernah terjadi kepada seseorang yang sudah sampai kepada tahap kemampuan mengetahui melalui kasyaf.

Akhiran, kita adalah manusia yang selalu berproses untuk mencari segala macam pengetahuan. Empat tahap memperoleh pengetahuan menurut al-Ghazali yang telah dipaparkan di atas telah mengajarkan kita bahwa di atas ilmu rasional, ada ilmu yang sumbernya langsung dari Allah, yakni ilmu ilhami.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here