Belajar Membagi Waktu Malam kepada Abu Hurairah, Berapa Jam untuk Tidur dan Ibadah

0
1386

BincangSyariah.Com – Pergantian waktu malam dan siang merupakan sebagian tanda kekuasaan Allah. Malam umumnya digunakan oleh manusia untuk beristirahat dan tidur. Sementara siang digunakan untuk berkerja dan mencari bekal hidup. Waktu malam dan siang ini memiliki keistimewaan masing-masing yang diberikan oleh Allah.

Bagi sebagian sahabat dan ulama, waktu malam memiliki keistimewaan tersendiri untuk melakukan kebaikan dan beribadah kepada Allah. Karena itu, mereka memiliki cara tersendiri dalam memanfaatkan waktu malam, termasuk di antaranya sahabat Abu Hurairah.

Dalam kitab Sunan Al-Darimi disebutkan bahwa sahabat Abu Hurairah membagi waktu menjadi tiga bagian. Pertama, sepertiga malam awal, beliau memanfaatkannya untuk tidur dalam rangka istirahat. Kedua, sepertiga malam kedua, beliau memanfaatkannya untuk melaksanakan shalat dan beribadah kepada Allah. Ketiga, sepertiga malam terakhir, beliau memanfaatkannya untuk mempelajari hadis-hadis Rasulullah Saw.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Darimi dalam kitab Sunan-nya;

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Abu Hurairah pernah berkata; Sungguh aku membagi waktu malamku menjadi tiga bagian, sepertiga waktu malam untuk tidur, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga lagi untuk mempelajari hadis Rasulullah Saw.

Dengan demikian, Abu Hurairah hanya  menggunakan sekitar empat jam di waktu malam untuk tidur, sementara sisanya untuk beribadah kepada Allah. Ini tentu teladan yang sangat baik untuk kita contoh agar kita memanfaatkan waktu malam tidak hanya untuk tidur, tapi juga untuk beribadah kepada Allah dan belajar, terutama hadis-hadis Rasulullah Saw.

Baca Juga :  Melacak Kitab Hadis Abad 1 Hijriah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here