Buya Syafii Maarif: Ada Pesan untuk NU-Muhammadiyah dalam Sebuah Lukisan

0
13

BincangSyariah.Com – Salah satu Opini Harian Kompas pada Selasa (5/1) memuat tulisan Buya Syafii Maarif bertajuk Pesan untuk Muhammadiyah dan NU.

Beliau memulai tulisannya dengan menyebutkan: bila benteng Muhammadiyah-Nu jebol ditembus infiltrasi ideologi impor dan teologi kebenaran tunggalnya, maka integrasi nasional Indonesia akan goyah dan oleng. Kedua arus besar komunitas santri ini harus tetap awas.

Ia lalu bercerita tentang perjalanannya menemukan lukisan Pak Djoko Susilo tentang Gus Mus.

Baginya, pesan dalam lukisan tersebut sangat jelas: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah harus berpikir besar, saling membantu, dan saling berbagi.

Dalam lukisan tersebut, posisi Buya Syafii Maarif dan Gus Mus sama-sama dengan kepala terbuka. Keduanya pun memakai kacamata.

Berita tentang lukisan ini telah terlebih dahulu dikabarkan Suara Muhammadiyah pada 30 Desember 2020 oleh Muhammad Ridha Basri.

Bagi Buya Syafii Maarif, makna lukisan tersebut dalam sekali. Seorang pelukis Djoko Susilo dengan kepekaan batinnya yang tajam punya gagasan yang jauh ke depan.

NU-Muhammadiyah mesti bergandengan tangan untuk menjaga keutuhan Indonesia dari segala macam tangan-tangan perusak, termasuk dari mereka yang memakai bendera agama.

Buya Syafii menambahkan bahwa NU-Muhammadiyah yang mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudra Nusantara sedalam-dalamnya.

Generasi baru dari kedua arus utama tersebut mesti berpikir besar dan strategis dalam upaya menjaga dan mengawal kepentingan keindonesiaan yang kadang-kadang terasa masih goyah.

Sebagai penutup tulisan, Buya Syafii menyampaikan pesan bahwa sebagaimana pernah ia sampaikan bahwa bila benteng Muhammadiyah-NU jebol ditembus infiltrasi ideologi impor dengan teologi kebenaran tunggalnya, maka integrasi nasional Indonesia akan goyah dan oleng.

Ia menambahkan bahwa kedua arus besar komunitas santri tersebut harus tetap awas dan siaga dalam menghadapi segala kemungkinan buruk itu.

Pesan selanjutnya dari Buya Syafii adalah energi jangan lagi dikuras untuk memburu kepentingan pragmatisme jangka pendek.

Islam terlalu besar dan mulia untuk hanya dijadikan kendaraan duniawi yang bernilai rendah.

Lukisan Djoko Susilo harus dibaca dalam perspektif masa depan yang lebih adil dan ramah untuk semua.[] (Baca: Biografi Buya Ahmad Syafii Maarif: Menegaskan Konsep Islam yang Moderat dalam Berbangsa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here