Buya Syafii: Bersaudara dalam Perbedaan, Berbeda dalam Persaudaraan

0
18

BincangSyariah.Com – Buya Syafii Maarif membagikan kisah persahabatannya dengan salah satu profesor yang berbeda agama dan budaya dengannya, Prof. DR. Dr. Nyoman Kertia, S.PD.-K.R dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Kisah tersebut tertuang dalam sebuah artikel berjudul Orang-orang Baik dalam Hidup.

“Saya belum tentu orang baik, tetapi cukup banyak orang baik dari berbagai lapisan, golongan, dan agama yang memperkaya kepekaan kerohanian saya. Saya tak akan menyebut nama mereka, kecuali yang terbaru saja dialami yang menyebabkan mata saya berkaca-kaca dalam keharuan.” Tulis Buya Syafii dalam ceritanya.

Dalam tulisannya, Buya menceritakan bahwa pada 22 November 2020, Prof. Nyoman Kertia mendatangi kediaman Buya. Sebab, Buya masih takut dengan kedatangan tamu dalam suasana Covid-19.

Akhirnya, Buya pun hanya menerima dari jendela, sesuatu yang menurut Buya sebenarnya tidak patut. Tapi, Prof. Nyoman sangat paham dalam membaca kekhawatiran Buya tersebut.

Ketua RW di kediaman Buya kemudian membantu membantu Prof. Nyoman meletakkan bungkusan di teras rumah Buya. Setelah dibuka, ternyata isinya bermacam-macam: obat-obat herbal, buah, masker, dan lain-lain.

Setelah menerima bingkisan tersebut, Buya pun bersyukur sebab sahabat Hindu Bali-nya selalu mengingat Buya. Sepanjang ingatan Buya, ia hanya sekali bertemu dengan Prof. Nyoman di pesawat Garuda Yogyakarta-Jakarta tahun 2019 lalu.

Bagi Buya, Prof. Nyoman bukan orang sembarangan. Di UGM, ia punya nama dan posisi terhormat. Hasil penelitiannya di bidang obat-obat herbal telah dipatenkan dan dikenal secara nasional.

Buya kemudian menyatakan bahwa ia semakin paham, perbedaan dalam keyakinan tak boleh jadi sekat dalam mempererat persaudaraan sejati antarmanusia.

Buya mengungkapkan bahwa alasan mengapa ia menulis kisah tersebut dalam sebuah artikel adalah karena sebagai seorang yang sudah lanjut usia, kedatangan Prof. Nyoman ke rumahnya dengan segala buah tangan memiliki makna sangat dalam.

Ia juga menekankan bahwa perbedaan dalam keyakinan tak boleh jadi sekat dalam mempererat persaudaraan sejati antarmanusia. Sebab, kemanusiaan adalah tunggal adanya.

Rumusan Buya yang sudah dikenal luas tentang persaudaraan adalah: “Bersaudara dalam perbedaan, berbeda dalam persaudaraan.”

Buya mengaku, rumusan ia bawa ke mana-mana. Baginya, buah rumusan tersebut sangat luar biasa: terciptanya persahabatan lintas batas dengan radius luas sekali, sekalipun kadang disalahpahami teman seiman.

Ternyata, Prof. Nyoman memiliki getaran batin yang sama dengan Buya sehingga ia memutuskan untuk datang ke rumah, setelah bermimpi tentang Buya Syafii Maarif yang sudah tua renta.

Buya melanjutkan: “Dalam hidup ini banyak orang baik yang saya jumpai. Kebaikan mereka belum tentu bisa saya imbangi.”

Semua itu, pasti punya tempat tersendiri dalam kamus hidup saya yang takkan pernah terlupakan. Selamat berkarya tanpa henti, Profesor Nyoman Kertia.” Pungkas Buya Syafii mengakhiri tulisannya.[] (Baca: Biografi Buya Ahmad Syafii Maarif: Menegaskan Konsep Islam yang Moderat dalam Berbangsa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here