Buya Hamka: Mempelajari dan Menerapkan Filsafat dalam Kehidupan

0
23

BincangSyariah.Com – Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka adalah salah satu tokoh Muhammadiyah yang telah banyak membuat karya tulis menyatakan bahwa filsafat ada sebagai hikmat. Hal tersebut tercantum dalam bukunya yang berjudul Falsafah Hidup yang diterbitkan pada 1940.

Dalam buku tersebut, Buya Hamka memberikan penjelasan menarik dan berbeda dengan definisi-definisi umum lainnya. Istilah “filsafat” menurut Buya Hamka terdiri dari dua suku kata yang dijadikan satu yakni kata pilos dan kata sofos.

Pilos memiliki arti ‘penggemar’ dan sementara kata sofos berarti ‘hikmat’ atau ‘ilmu’. Hikmat adalah kata dalam bahasa Arab yang bisa diartikan sebagai ‘rahasia’. Lantas, apa yang dimaksud dengan ‘rahasia’ oleh Buya Hamka?

Hamka kagum dengan cara berpikir dan proses pencarian kebenaran yang menjadi karakteristik filsafat. Hal ini terbukti dengan metode penalaran filsafat yang banyak digunakan olehnya dalam malakukan analisis terhadap tema-tema tertentu. (Baca: Buya Hamka dan Tafsir al-Azhar)

Filsafat membawa Hamka pada pemahaman dan tindakan dalam realitas hidupnya. Tujuan filsafat yang demikian adalah untuk mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin. Filsafat lantas mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya, lalu menerbitkan serta mengatur semua hal dalam bentuk sistematis.

Selain dalam buku Falsafah Hidup, dalam buku Pelajaran Agama Islam (1956) Hamka juga menjadikan filsafat sebagai salah satu kerangka acuan. Kerangka acuan tersebut ia pakai dalam melihat hubungan antara manusia dan agama.

Ia juga menjadikan filsafat sebagai salah satu media dalam proses manusia mencari Tuhan. Hamka menegaskan tentang pentingnya penggunaan akal untuk menganalisa persoalan dalam hidup.

Persoalan hidup yang dimaksud Hamka adalah apa pun, termasuk tentang Keesaan dan Kemahakuaasaan Tuhan dalam hubungannya dengan alam semesta. Sebagai misal, Hamka mengutip pendapat Al-Farabi yang menyatakan bahwa perjalanan seluruh alam telah diatur oleh dan dengan al-Aqlu al-Awwal (Akal Pertama).

Baca Juga :  Asghar Ali Engineer: Penyeimbang Agama dan Filsafat

Bagi Hamka, mempelajari filsafat sekaligus menerapkannya dalam tindakan adalah aktivitas mulia. Penerapan tersebut menjadi hal utama bagi orang yang menyukai tantangan dalam menjalani kehidupan.

Hamka bahkan menyatakan bahwa perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran filsafat.

Menurut Hamka, orang yang berfilsafat sebenarnya telah melakukan transformasi pengetahuan. Semula, seseorang mungkin menganggap suatu hal “sulit” lalu seiring berjalannya waktu, orang tersebut menganggap seuatu hal menjadi “mudah”.

Hamka berpendapat, begitulah karakter seorang filsuf dan pengkaji filsafat. Ia memuji Socrates. Baginya, Socrates telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perkembangan dan kemajuan di awal-awal kemunculan filsafat.

Socrates adalah seorang filsuf yang berasal dari Yunani. Ia adalah salah satu figur paling penting dalam tradisi filsafat Barat. Ia lahir di Athena. Ia adalah generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani selain Plato dan Aristoteles.

Socrates merupakan guru dari Plato. Plato kemudian menjadi guru Aristoteles. Selama hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan. Hal tersebut membuat sumber utama tentang pemikiran Socrates hanya berasal dari tulisan muridnya, Plato.

Ia menuliskan: Failasuf yang mula-mula membawa soal dari langit ke bumi, atau dari alam ke insan itu ialah Socrates! Dan beliau pula yang mula-mula menggelari dirinya failasuf, dengan maksud yang bersahaja, yaitu “penggemar hikmat”. Itulah sebabnya maka ahli filsafat berkata: “Beberapa lamanya filosof tergantung di langit, maka datang Socrates mengaitnya dan diturunkannya ke bumi”.

Hamka menempatkan para filsuf sebagai seorang yang hebat. Baginya, para filsuf akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan yang oleh orang lain mungkin dianggap rumit.

Hamka berpendapat bahwa filsafat dan para filsufnya saat berfilsafat adalah aktivitas sangat mulia. Para filsuf tidak hanya mampu menginspirasi dirinya dalam bertindak. Para filsuf juga menginspirasinya dalam aktivitas menulisnya.

Baca Juga :  Jejak Salafus Shalih yang Menggetarkan Hati

Baginya, banyak filsuf yang telah memberikan pencerahan bagi orang lain. Karena hal itulah Hamka menyatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi filsafat.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here