Busra bin Abi Arthah; Pengagum Utsman bin Affan Penakluk Waddan Libia

0
910

BincangSyariah.Com – Sejarah Islam tidak hanya berkisah soal kemajuan pesat peradaban manusia, namun juga menyisakan kisah – kisah tragis seperti pertumpahan darah antar umat Islam itu sendiri. Perbedaan haluan politik menjadi salah satu unsur pemicu perpecahan kala itu. Busra bin ِِAbi Arthah terlibat dalam hal ini. Kendati sosoknya kerap dikatikan dengan pembunuhan dua anak kecil yang masih diperdebatkan para ahli sejarah, yang pasti catatan sejarah tidak menampik bahwa ia telah berhasil menancapkan ajaran Islam di Waddan, Libia.

Saat Rasullullah meninggal, Busra sudah lahir namun masih dalam usia dini. Sehingga menjadi perdebatan di kalangan para ahli apakah Busra pernah menerima hadist langsung dari Nabi Muhammad Saw atau tidak. Sebagain pendapat seperti Ahlu Syam menyatakan iya, sementara yang lainnya seperti Al-Waqidi, Yahya bin Ma’in dan Ahmad Ibnu Hambal menyatakan tidak.

Pengalaman Busra dalam bidang militer diabadikan oleh Mahmud Syit Khattab dalam karyanya Qadat Al-Fath Al-Maghrib Al-Arabi. Menurutnya sejak remaja ia telah ikut serta dalam rombongan Amr bin Ash pada tahun 20 H dalam misi penaklukan Mesir. Bahkan dikabarkan bahwa ia adalah salah satu dari empat orang yang ditunjuk langsung oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk turun bersama Amr bin Ash. Keempat orang itu yakni, Zubair, Umair bin Wahab, Kharijah bin Hudzafah dan Busra. Namun riwayat lain menyatakan bukan Busra tapi Miqdad.

Kemampuan militernya tidak disia – siakan oleh Amr bin Ash. Saat pasukan Muslim berhasil menduduki Tripoli Barat, Amr bin Ash mengutus Busra untuk pergi menuju Waddan (Libia). Dalam ekspedisi tahun 23 H itu, Waddan dapat diduduki tanpa peperangan alias dengan kesepakatan damai. Seraya menikmati kemenangan Busra menyebarkan benih – benih ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Dengan begitu gelar penakluk Waddan disematkan kepada Busra bin Abi Arthah.

Dalam Mu’jamul Buldan karya Yaqut Al-Hamawi setidaknya ada tiga tempat yang dinamai Waddan. Pertama ada di antara Makkah dan Madinah. Kedua ada di sebuah pegunungan dan ketiga ada di Afrika. Nah,  yang dimaksud disini adalah Waddan di Afrika. Nama Abu Hasan Ali bin Abi Ishaq Al- Waddani pemilik Ad-Diwan dinisbatkan ke wilayah ini. Senada dengan para ahli lainnya, Yaqut mengatakan Waddan pernah ditaklukan Busra tahun 23 H.

Dalam sejarah penaklukan, tidak semua wilayah yang telah mengikrarkan janji menepati apa yang telah disepakati sebelumnya. Ada saja pengkhianatan dan penyelewengan. Terutama jika wilayah tersebut tidak ditempati perwakilan Muslim. Hal ini terjadi di Waddan. Perjanjian yang telah dibuat pada tahun 23 H, antara Busra dan pimpinan Waddan tidak diindahkan. Sehingga beberapa dekade berikutnya, Busra kembali menuju kawasan di Libia itu.

Tepatnya pada tahun 46 H di masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Dalam perjalan kali ini Busra bergotong royong dengan panglima agung Muslim, Uqbah bin Nafi’ Al-Fihri dan juga Syarik bin Sahim. Jalur yang ditempuh yakni melalui Sirte, Libia. Uqbah menugaskan Zuhair bin Qais untuk menetep di Sirte bersama beberapa prajuritnya. Sementara ia kembali melanjutkan misi menuju Waddan dengan personil 400 ekor kuda dan 400 ekor unta. Sesampainya di sana, Uqbah bertemu seorang raja dan sukses menstabilkan kembali situasi yang sebelumnya sempat memanas.

Penaklukan Waddan tentu menjadi memori indah bagi seorang Busra. Namun ternyata kiprahnya di dunia militer tidak hanya berkutat di Mesir atau Libia saja. Tercatat ia pernah mengikuti beragam pertempuran dari Tunisia hingga ke Konstantinopel. Sebagaimana ia turut serta bersama rombongan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah dalam perang Ibadillah As-Sab’ah saat upaya penaklukan awal Tunisia.  Majjanah masih daerah di sekitar Tunisia merupakan wilayah taklukannya. Kawasan ini terkenal kaya akan bahan material mewah seperti emas, perak dan besi. Untuk mengenang jasa Busra kawasan ini diberi nama Qal’at Busra.

Di era Muawiyah bin Abi Sufyan, Busra didaulat sebagai panglima perang pada tahun 43 H untuk menghadapi Romawi di berbagai wilayah hingga membawanya sampai ke Konstantinopel. Namun riwayat lain mengatakan bahwa ia belum sampai ke sana melainkan berhenti di Humma salah satu wilayah kekuasaan Romawi. Tiga tahun berturut-turut yakni tahun 50, 51 dan 52 H Busra terlibat bentrok dengan Romawi baik di musim dingin maupun musim panas.

Tatkala fitnah besar tengah melanda umat Islam pasca gugurnya Utsman bin Affan akibat ulah pemberontak, kesatuan umat Islam mulai goyah. Didaulatnya Ali sebagai penerus panji khalifah menuai sejumlah propaganda mengerikan. Sahabat Ali dituntut untuk merampungkan kasus pembunuhan khalifah ke tiga, sekaligus harus kuat bertahan dari pihak yang menginginkan dirinya mundur. Sementara Busra adalah orang yang sangat terpukul atas kepergian Utsman. Tidak jarang ia utarakan keprihatinananaya itu dengan mengucap, “Dimana guruku, dimana guruku Utsman?”.

Dari sini, Muawiyah ikut bergerak. Pengalamannya sebagai Gubernur Syam dan pernah memimpin di daerah – dareah penting menjadi bekal tersendiri untuk mengumpulkan bala bantuan pendukungnya. Busra termasuk salah satu tokoh besar yang berada dalam barisan Muawiyah ini dan ikut dalam perang Siffin tahun 37 H. Tahun 40 H setelah menguasai Mesir, Muawiyah mengutus Busra bersama 3000 prajurit untuk mengamankan kawasan Hijaz dan Yaman.

Nah saat tiba di Yaman isu pembunuhan dua anak kecil muncul. Para pakar sejarah terdahulu seperti At-Thabari dan Adz-Dzahabi mengisahkan pembunuhan tersebut. Namun kisah ini tidak dibenarkan oleh sejumlah ahli sejarah kontemporer seperti Mahmud Syit Khattab. At-Thabari pun mengemukakan ada pendapat lain yang menyebut bahwa pembunuh kedua anak itu adalah Al-Kinnani.

Tahun 41 H, Busra didaulat sebagai Gubernur Basrah. Kemudian tahun 43 H ia dialihkan untuk mengepalai pasukan di Syam dan memulai kembali perjalanan jihadnya seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Para sejarawan berbeda pendapat soal wafatnya Busra. Ada yang berpendapat wafat di Madinah sementara yang lain meyakini wafat di Syam. Ada yang berpendapat meninggal di akhir masa Muawiyah namun ada juga yang menuturkan wafat di masa Abdul Malik bin Marwan atau Walid bin Abdul Malik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here