Bulan Safar di Masa Bangsa Arab Jahiliyah

1
656

BincangSyariah.Com – Bulan Safar adalah satu dari dua belas bulan Hijriah yang jatuh setelah bulan Muharam. Dinamakan bulan Safar karena kota Mekkah (seolah) kosong dari penghuninya jika orang-orang bersafar mendatanginya. Dikatakan pula bahwa dinamakan Safar karena dahulu suatu kabilah diperangi dan ditinggalkan tanpa memiliki barang apapun (dijarah).

Bangsa Arab pada zaman Jahiliyah memiliki kebiasaan munkar di bulan Safar ini, yaitu mereka yang mengakhirkan bulan-bulan tersebut dan memajukannya sesuai hawa nafsu mereka. Di antaranya mereka menjadikan bulan Safar pengganti bulan Muharam. Mereka berkeyakinan bahwa pelaksanaan umrah yang dilakukan pada bulan haji adalah perbuatan yang paling keji, padahal mereka mengetahui ketentuan Allah yang tertera dalam Q.S. At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”.

Kelompok yang berkeyakinan seperti di atas dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori. Ibnu Abbas berkata: mereka (bangsa Arab Jahiliah) menganggap bahwa umrah yang dilakukan pada bulan haji adalah perbuatan yang paling keji di muka bumi. Mereka menjadikan bulan Muharam sebagai bulan Safar dan mengatakan:

إذا برأ الدبر وعفا الأثر وانسلخ صفر حلت العمرة لمن اعتمر

“Jika luka (yang ada di punggung unta disebabkan perjalanan haji) sudah sembuh, jejak telah hilang dan masuk bulan Safar, dihalalkan berumrah bagi orang yang berumrah.”

Baca Juga :  Berapa Tahun Rasulullah Berpuasa Ramadhan?

Selain keterangan dari Ibnu Abbas di atas, Ibnu Al-‘Arabi juga mengatakan bahwa permasalahan mereka itu terkait praktik An-Nasi’ dalam Q.S. At-Taubah ayat 37:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.”

Mereka melaksanakan haji pada bulan Zulhijah selama dua tahun, lalu berhaji pada bulan Muharam dua tahun, lalu berhaji pada bulan Safar dua tahun. Dahulunya mereka berhaji tiap tahun pada setiap bulannya selama dua tahun, sampai Abu Bakar berhaji pada bulan Zulkaidah. Kemudian Nabi berhaji pada bulan Zulhijah. Demikian yang disabdakan Nabi dalam hadis sahih dalam khutbahnya:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السموات والأرض

“Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi.”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here